IMG-20160519-WA0004

Gambar: Cover buku Islam Geger Kendeng dan jadwal bedah buku di lantai 3 gedung Dekanat FITK UIN Walisongo Semarang (Kampus 2) pada hari Selasa, 24 Mei 2016. Pukul 08:00 WIB – selesai. Narasumber : “Penulis” Ubaidillah achmad (Dosen FITK UIN Walisongo Semarang), Prof. Dr. H. Mujiyono Abdillah, M.A. (pakar etika lingkungan), Dr. H. Fatah Syukur, M.A. (pakar pendidikan Islam), Yunantya Adi Setiawan (aktivis lingkungan dan kemanusiaan).

Deskripsi cover belakang buku

Sebagai khalifah, manusia bertanggung jawab mengkoordinir setiap unsur kesemestaan. Baik yang ada dalam dirinya maupun dilingkungan kesemestaannya. Kerusakan alam semesta juga berasal dari kerusakan hati atau jiwa manusia yang membiarkan dirinya mengikuti nafsu serakah dan hedonisme. Karenanya, para Ulama’ yang memahami unsur antropik-kosmologis mengajarkan bahwa manusia (jagad cilik) dan kesemestaan (jagad gedhe) memiliki relasi timbal-balik yang integral: apa-apa yang terjadi di jagad cilik akan terjadi atau memantul di jagad gedhe. Tak mengherankan jika jagad suluk selalu mengarahkan salik untuk membersihkan jiwanya (tazkiyatun nafz) dari hasrat keduniawian yang melampui batas terhadap lingkungan agar menjadi pribadi ramah lingkungan. Keberhasilan transformasi diri ini tampak pada munculnya kesadaran akan relasi suci makna kosmologis: Allah, manusia dan alam.

Karena itu, para Nabi dan para penerus jejak kenabian sesungguhnya juga menjalankan dan mengajarkan “suluk lingkungan” – proses pembersihan jiwa yang bisa berdampak pada pencerahan kesadaran akan pentingnya kelestarian dan pemulihan alam. Serta harmoni antara manusia dengan lingkungan kesemestaannya. Lantas bagaimanakah wujud gerakan “suluk lingkungan” itu?

Buku ini menjelaskan paradigma Islam dan lingkungan, bagaimana manusia melaksanakan suluk lingkungan dan mempertahankan kelestarian lingkungan berdasarkan teks kewahyuan dan pengalaman spiritual para Nabi dan penerus jejak kenabian. Dengan merujuk pada teks Ulama’ yang otoritatif seperti Imam Al-Ghazali, ibn Arabi, ibn Khaldun, dan seagainya. Penulis memaparkan prinsip kewahyuan dan filosofis kelestarian lingkunggan berdasarkan spiritualitas Islam dan realitas kebutuhan individu dan masyarakat terhadap lingkungan kesemestaan. Selain itu, penulis juga memaparkan pengalaman pendampingannya di tengah masyarakat ring pertama pegunungan Kendeng versus Industri pertambangan semen. Dalam pendampingannya ini, penulis berhasil merefleksikan model pendampingan yang didasarkan pada harmoni manusia dan lingkungan kesemestaannya dalam perspektif agama dan budaya masyarakat.

IMG-20160519-WA0002

Islam Geger Kendeng dan Pendidikan Islam

Terpisah dari kutipan cover belakang buku. Rupanya Gus Ubaid, nama panggilan akrab Ubaidillah Achmad penulis buku Geger Kendeng, pada 17/5 lalu memberikan pesan elektronik kepada wartawan tabloidsophia.com tentang latar belakang penulisan buku tersebut. Berikut penjelasan Gus Ubaid.

Dalam buku tersebut dapat dikatakan, bahwa sudah seharusnya dalam pendidikan Islam menguatkan peran relasi suci kosmologis, antara manusia, kealaman, dan Tuhan. Jika relasi ini tercerabut dari paradigma pendidikan Islam, maka pendidikan Islam akan terputus dari peran vital hakikat keberadaan hidup manusia di dunia.

Simpulan dari buku ini, secara akademis membuka diri kepada para pembaca untuk mengkritisi, mendukung, dan menolaknya. Sebagaimana yg berkembang selama ini, pendidikan Islam masih berhenti pada pendidikan akhlak yang terbatas pada relasi antar manusia pada manusia dan manusia pada Allah. Bahkan, masih banyak pendidikan Islam yang masih membahas seputar penguatan pada makna relasi antara manusia dan Tuhan. Dalam konteks relasi ini masih mengabaikan eksistensi diri manusia (insan kamil), berupa keseimbangan unsur unsur diri manusia, seperti ruh, qalb, aql, nafs, dan jasad.

Penulis/editor : Abdul Gofir

LEAVE A REPLY