Photo profil facebook KH. Ahmad Atabik

Khutbah Jum’at tanggal 02 Desember 2016 di Masjid Jami’ Lasem oleh KH Ahmad Atabik, LC., MSI. (Ketua Lakpesdam NU Cabang Lasem)

الْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وقال تعالى واجعل لي لسان صدق في الآخرين.

Jamaah shalat jum’at rahimakumullâh,
Dua bulanan terakhir ini umat Islam di Indonesia dihadapkan oleh kegaduhan yang disebabkan oleh seorang gubernur non aktif yang tidak mampu menjaga lesannya dengan baik. Tepatnya, peristiwa di Kepulauan Seribu itu kemudian menjadi polemik dan perdebatan yang luar biasa. Kita bisa menyaksikan bahwa akibat perkataan yang tidak lebih dari beberapa baris kalimat itu, memantik ratusan ribu, bahkan jutaan umat tergerak mengadakan aksi damai dan unjuk rasa atas nama gerakan pengawal fatwa MUI. Sang gubernur non aktif itu memang sudah diputuskan menjadi tersangka kepolisian RI, bahkan telah diserahkan berkasnya kepada kejaksaan agung RI. Namun, bukan berarti persoalan kita selesai dan teratasi. Sebab sebagai kaum beragama yang baik, tindakan paling bijaksana bagi kita hendaknya selalu bisa mengambil pelajaran atau ibroh dari sebuah peristiwa, apapun itu bentuknya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dalam surat al-An’am: 108, Allah telah berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan…” (Al-An’am: 108).
Ayat tersebut sangat gamblang berbicara soal batas-batas wilayah toleransi antar umat beragama. Sebagai hamba yang beragama, sudah semestinya kita tidak saling mengusik dan mencampuri wilayah akidah pemeluk keyakinan atau agama lain. Penyebabnya jelas, wilayah tersebut adalah, dalam bahasa psikologi, disebut sebagai “dark area” wilayah gelap yang hanya diketahui oleh pemeluknya masing-masing. Dalam kasus ini, meskipun sementara orang menyatakan bahwa yang diucapkan oleh gubernur non aktif tersebut keseleo lidah, namun telah melanggar teritori atau kewilayahan sebagaimana yang digariskan dalam Al-An’am 108 di atas.

Photo: http://forum.republika.co.id
Photo: http://forum.republika.co.id

Ma’asyiral muslimin rahimakullah
Setidaknya ada lima (5) hal yang bisa dipetik pelajaran dari persitiwa dan kasus yang dianggap sebagai penistaan agama ini:
Pertama, pentingnya menjaga lesan, karena Rasulullah SAW menekankan pentingnya berbicara yang baik, jika terpaksa tidak dapat berbicara dengan baik maka diamlah! Mengapa demikian? Karena bahaya yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar. Baik bahaya di dunia maupun di akhirat.
Rasulullah bersabda: سلامة الإنسان في حفظ اللسان, dan juga sabda-Nya: من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت
Kedua, seorang pemimpin sudah seharusnya tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang kasar, kotor, dan cenderung tidak mengindahkan etika. Perkataan-perkataan umpatan adalah perkataan yang menusuk. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memadukan kesantunan ucapan dengan ketegasan dalam bertindak, sehingga menghasilkan kebijakan yang bisa memberikan kemaslahatan kepada masyarakat. Sebab, pada hakikatnya kebijakan seorang Pemimpin Atas Rakyat Harus Berdasarkan Kemashlahatan; تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة
Ketiga, Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Supremasi hukum harus menjadi platform. Keadilan itu penting diteggakkan. Sebab dari keadilanlah kamakmuran akan tercapai. Tanpa keadilan mustahil kemakmuran bisa dicapai. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
Keempat, meskipun ummat Islam di Indonesia berbeda pendapat dalam menyikapi kasus penistaan agama tersebut, hendaknya perbedaan itu bersifat variatif (ikhtilaf tanawwu’i), bukan perbedaan kontradiktif (ikhtilah tadladi), tidak seharusnya kaum muslim saling ejek, saling sindir, saling cemooh dan saling menyalahkan, dan menganggap dirinya paling benar di saat mendapati perbedaan pendapat. Baik di dunia nyata maupun dunia maya. Jadilah kaum muslimin yang saling menghargai satu sama lain, dan tetap pula senantiasa menjaga persatuan umat Islam. Allah berfirman:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم.
Kelima, Rakyat Indonesia, khususnya Umat Islam, terbukti sudah bisa berdemokrasi dengan baik. Berjuta-juta umat yang melakukan aksi damai dalam menyalurkan aspirasinya, sebagaimana banyak kita saksikan. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bahwa umat Islam di Indonesia sudah bisa bersikap dewasa. Sikap ini, ke depan harus dipertahankan dan dikembangkan agar cita-cita sebagai kiblat peradaban dunia bisa terwujud dan menjadi nyata, dalam naungan Negara Kesatuan Republi Indonesia.
Demikian khutbah jum’ah siang ini. Semoga membawa manfaat kepada kita semua.
بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الرؤوف الرحيم

Penulis/editor: Abdullah Hamid / Muhammad Widad

LEAVE A REPLY