Pantai Krgan Kabupaten Rembang. Photo: FADLAN

Kepada Yth : TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) Kab.Rembang
Pendaftar :Abdullah Hamid Padepokan Sambua. Tim Teknis RAKP. Peserta Semiloka Pendataan Cagar Budaya BAPPEDA Rembang 16 Februari 2017
Sumber Sejarah dan Nilai Penting bagi Sejarah NKRI, Pariwisata dan menarik Investor Jepang
PENETAPAN KAWASAN CAGAR BUDAYA PANTAI KRAGAN LOKASI PENDARATAN JEPANG 1942. Desa Kragan Kec.Kragan. Sampai tahun 1994 masih ada Tugu Pendaratan, Mercusuar Pengintai (Orang Kragan menyebutnya gubuk tinggi), benteng, sekoci kayu. Pagar tameng pantai diperkirakan masih ada jika air surut. Sampai tahun itu wisatawan Jepang rutin tiap tahun ke lokasi tersebut. Perlu dilengkapi reflikanya.

Sejarah bermula pada malam tanggal 28 Februari sampai 1 Maret 1942 tentara Jepang (Rikugun 16) yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura mulai mendarat di tiga tempat di Pulau Jawa, yaitu Merak (Teluk Banten), Eretan Wetan (Cirebon), dan Kragan (Jawa Tengah). KNIL mencoba untuk menghentikan musuh, tapi Jepang lebih unggul, akhirnya Belanda menyerahkan kota Batavia (Jakarta) kepada Jepang pada tanggal 5 Maret 1942. Penduduk kota Jakarta mulai mengungsi ke Bandung sehingga menjadi padat dengan penduduk. Jepang kemudian mengarahkan penyerangan ke Bandung yang merupakan basis terakhir tentara Hindia Belanda.

Sumber : Sejarah dan Perkembangan Pemerintahan Kota Makassar Masa Pendudukan Jepang
Disusun oleh : Nur Kasim

Kronologi Masuknya Jepang ke Indonesia
Tanggal 1 Maret 1942 : tentara ke-16 Jepang berhasil mendarat di 3 tempat sekaligus yaitu di Teluk Banten, di Eretan Wetan (Jawa Barat), dan di Kragan (Jawa Tengah).

Sebelumnya, tanggal 8 Desember 1941 : secara tiba-tiba Jepang menyerbu ke Asia Tenggara dan membom Pearl Harbor, yaitu pangkalan terbesar Angkatan Laut Amerika di Pasifik. Lima jam setelah penyerangan atas Pearl Harbor itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachhouwer menyatakan perang terhadap Jepang. Tanggal 11 Januari 1942 : tentara Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur, dan esok harinya (12 Januari 1942) Komandan Belanda di pulau itu menyerah. Tanggal 24 Januari 1942 : Balikpapan yang merupakan sumber minyak ke-2 jatuh ke tangan tentara Jepang Tanggal 29 Januari 1942 : Pontianak berhasil diduduki oleh Jepang Tanggal 3 Februari 1942 : Samarinda diduduki Jepang Tanggal 5 Februari 1942 : sesampainya di Kotabangun, tentara Jepang melanjutkan penyerbuannya ke lapangan terbang Samarinda II yang waktu itu masih dikuasai oleh tentara Hindia Belanda (KNIL). Tanggal 10 Februari 1942 : dengan berhasil direbutnya lapangan terbang itu, maka dengan mudah pula Banjarmasin diduduki oleh tentara Jepang Tanggal 14 Februari 1942 : diturunkan pasukan paying di Palembang. Dua hari kemudian (16 Februari 1942) Palembang dan sekitarnya berhasil diduduki. Dengan jatuhnya Palembang itu sebagai sumber minyak, maka terbukalah Pulau Jawa bagi tentara Jepang. Di dalam menghadapi ofensif Jepang, pernah dibentuk suatu komando gabungan oleh pihak Serikat, yakni yang disebut ABDACOM (American British Dutch Australian Command) yang markas besarnya ada di Lembang, dekat Bandung dengan panglimanya Jenderal H. Ter Poorten diangkat sebagai panglima tentara Hindia Belanda (KNIL). Pada akhir Februari 1942 Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh telah mengungsi ke Bandung disertai oleh pejabat-pejabat tinggi pemerintah. Pada masa itu Hotel Homman dan Preanger penuh dengan pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda. Tanggal 1 Maret 1942 : tentara ke-16 Jepang berhasil mendarat di 3 tempat sekaligus yaitu di Teluk Banten, di Eretan Wetan (Jawa Barat), dan di Kragan (Jawa Tengah). Tanggal 1 Maret 1942 : Jepang telah mendaratkan satu detasemen yang dipimpin oleh Kolonel Toshinori Shoji dengan kekuatan 5000 orang di Eretan, sebelah Barat Cirebon. Pada hari yang sama, Kolonel Shoji telah berhasil menduduki Subang. Momentum itu mereka manfaatkan dengan terus menerobos ke lapangan terbang Kalijati, 40 Km dari Bandung. Setelah pertempuran singkat, pasukan-pasukan Jepang merebut lapangan terbang tersebut.
Sumber: Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka.

Awal Maret 1942, di luar dugaan, seluruh kekuatan bersenjata Kolonial Belanda di Pulau Jawa yang diperkuat tentara Sekutu berhasil digulung tentara Jepang hanya dalam hitungan hari. Kekalahan dramatis ini terjadi ketika armada Sekutu dan Belanda di bawah pimpinan Laksamana Muda Karel Doorman dipukul dan dihancurkan armada Jepang di Laut Jawa.
Usai keberhasilan tersebut, Jepang melakukan pendaratan kilat di empat tempat di Pulau Jawa, yakni di Merak dekat Serang (Banten), di Pantai Eretan Wetan sebelah barat Indramayu, di Jawa Tengah dekat Rembang, dan di Kragan Jawa Tengah.
Penyerbuan ke Kalijati
28 Februari 1942 malam, pasukan bala tentara Jepang pimpinan Kolonel Shoji beserta Divisi Udara III pimpinan Letnan Jenderal Sugawara Michio mendarat di Pantai Eretan Wetan Indramayu (Pantura, Jawa Barat). Pasukan Shoji yang berkekuatan sekira 3.000 personel ini terdiri dari dua batalyon infanteri masing-masing dipimpin Mayor Wakamatsu dan Mayor Egashira, yang dilengkapi sepeda dan panser mendapat tugas merebut kota Bandung.
Perundingan penyerahan kekuasaan dari kolonial Belanda kepada Jepang berlangsung amat singkat. Dalam transkrip perundingan Kalijati terungkap, Jenderal Immamura berbicara stright to the point kepada lawannya. “Apakah Gubernur Jenderal dan Panglima Tentara mempunyai wewenang untuk mengadakan perundingan ini?”

”Saya tidak memiliki wewenang bicara sebagai Panglima Tentara,” jawab Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh.
Author: Kolonel Sus M. Akbar Linggaprana
Tambahan : Menurut Mansur Junaidi warga Kragan disampaikan Sambua, pernah ditemukan bom peninggalan Jepang sepanjang 1 meter dapat meluluhlantakan Jawa Tengah, dibawa Mabes TNI.

Penetapan Cagar Budaya Lokasi Pendaratan Jepang di Kragan 1942 Dapat Menjadi Potensi Pariwisata dan Menarik Investor Jepang.

Seperti Lokasi Pendaratan Jepang di Indonesia Tertulis di Pantai Lamaru Balikpapan Dalam Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang
Hubungan Indonesia dan Jepang ternyata memang sangat dekat sekali. Sebuah tempat di Balikpapan, 26 kilometer dari Kota Balikpapan ada pantai Lamaru. Di sana juga terdapat tugu besar dengan tinggi sekitar 3 meter bertuliskan kanji.

Itulah tugu peringatan bagi para serdadu Jepang yang meninggal saat perang dunia kedua melawan serdadu tentara sekutu dipimpin Australia yang mendarat di sana antara tanggal 26 Juni 1945 – 15 Juli 1945. Tentara Jepang saat itu dipimpin Shizuo Sakaguchi yang tanggal 23 Januari 1942 mendarat di sana merebut dari tentara Belanda.

Pantai Lamaru ternyata memiliki sejarah mendalam bagi tentara Jepang dan para nasionalis Jepang. Olehkarena itu tanggal 30 Mei 2013, sedikitnya lima nasionalis Jepang datang ke sana, membersihkan daerah tugu peringatan tersebut dan berdoa, layaknya ke makam kuburan, serta meletakkan papan nama mereka (ukuran tipis tinggi seperti yang ditaruh di kuburan Jepang) bertuliskan beberapa yayasan yang ada di jepang, misalnya Yayasan Kenkyusho Jepang.

Lima di antara yang berkunjung seperti pada foto berpakaian putih-putih seperti serdadu angkatan laut Jepang, berdiri berfoto bersama di muka tugu peringatan tersebut.

Mereka, sesuai foto-foto yang dimuat di majalah Jepang, Dokyumento edisi September 2013, mencuci, membersihkan, menyapu daerah tugu pahlawan tersebut, yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun.
Menurut penduduk setempat, di pantai Lamaru tersebut selain tugu ternyata juga menjadi makam prajurit Jepang yang gugur ketika Perang Dunia. Tempat itu menjadi tanda puluhan prajurit Jepang yang telah gugur di sana. Tugu dan makam itu dibangun tahun 1990. Karena ini nyekar para nasionalis Jepang itu juga dalam rangka peringatan ke-23, pembangunan tugu tersebut.

Sayang tugu di Kragan sekarang tidak ada lagi, setelah lahannya dijual oleh pemiliknya
Menurut sumber itu pula, “Sekarang makam itu memang agak kurang terawat.” Mungkin pemda setempat perlu melestarikan tempat tersebut sebagai cagar budaya dan lambang keterkaitan Jepang dengan Indonesia pula.
Ke arah timur dari makam itu, bisa ditemukan beberapa vila yang dibangun untuk lebih melengkapi keberadaan pantai Lamaru. Keadaannya juga jauh lebih bersih dan indah. Pengunjung juga bisa merasakan wisata kuda. Menunggang Kuda yang menarik sebuah andong yang bisa dinaiki lebih dari satu orang itu, menyusuri keindahan pantai. Tarifnya juga tidak mahal hanya sekitar 1.000 rupiah sekali naik.

Dalam Buku Magelang di Masa Pendudukan Jepang 1942 – 1945 Disusun ulang oleh : Agung Surono disebutkan sbb :

Setelah pendaratan pasukan Jepang di Kragan (Rembang). Rembang berhasil dikuasai oleh Jepang tanggal 1 Maret 1942. Gerak maju serangan pasukan Jepang kemudian dilanjutkan ke daerah lain. Gerak maju invasi Jepang itu terus berlanjut dan berhasil menguasai Purwodadi pada tanggal 3 Maret 1942. Dari Purwodadi kekuatan pasukan Jepang dibagi menjadi dua. Pasukan pertama yang dipimpinoleh Yamamoto dan Matsumoto bergerak melalui jalur Samberlawang terus menuju Surakarta. Pasukan yang kedua dipimpin oleh Kaneuyi yangmelewati jalur Godong terus ke Boyolali. Kedua pasukan Jepang ini nantinya akan bergabung kembali di daerah Klaten. Dalam waktu yang singkat daerah-daerah tersebut mampu ditaklukkan dan dikuasi oleh pasukan Jepang. Gerakan invasi pasukan Jepang kemudian terus dilakukan hingga mampu menguasai Surakarta dan Yogyakarta yang merupakan dua daerah istimewa di Jawa Tengah. Setelah berhasil menguasai Yogyakarta, pasukan Jepang dibagi menjadi dua pasukan. Pasukan yang pertama dipimpin Matsumoto maju melewati daerah Magelang kemudian Temanggung terus hingga daerah Banyumas.

Pasukan yang kedua dipimpin oleh Yamamoto dan Kaneuyi yang ditugaskan menguasai daerah selatan Jawa Tengah. Magelang berhasil dikuasai Jepang tanggal 6 Maret setelah Surakarta dan Yogyakarta dapat dikuasai sebelumnya oleh Jepang pada tanggal 5 Maret 1942. Ketertarikan Jepang terhadap Magelang dipicu karena potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh Magelang yang sangat melimpah. Ada beberapa hal yang menjadikan perlu untuk dikuasai. Pertama, Magelang merupakan pusat produksi hasil pertanian (pangan) berupa padi, sayuran dan buah-buahan serta tanaman komoditi (tembakau). Kedua, sebagai pusat administrasi pemerintahan Kota Madya Magelang dan Kabupaten Magelang. Ketiga, Magelang terletak di jalur transportasi utama daerah-daerah yang memiliki perekonomian yang cukup baik dalam bidang pertanian. Dengan menguasai Magelang maka mereka tidak perlu merasa khawatir berkaitan dengan pemenuhan keperluan pasukan mereka dalam berperang baik itu dalam masalah konsumsi pasukannya maupun untuk bahan baku persenjataan.

Magelang juga merupakan pusat pemerintahan daripada Karesidenan Kedu yang meliputi daerah Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Magelang sendiri. Menguasai Magelang berarti Jepang dapat dengan mudah mengontrol dan menggunakan potensi-potensi daerah-daerah yang termasuk ke dalam lingkup Karesidenan Kedu dengan mudah, misal politik beras, dan perekrutan para pemuda guna dijadikan pasukan perang guna membantu perang Asia Timur Raya yang sedang dilakukannya. Dengan datangnya Jepang di Magelang terjadi berbagai perubahan di dalam masyarakatnya.
Menurut Undang-Undang Nomor 27 (Undang-Undang Perubahan Tata Pemerintahan Daerah) seluruh pulau Jawa dan Madura, kecuali kedua Koci Surakarta dan Yogyakarta, dibagi menjadi atas syu, syi, ken, gun, son, dan, ku. Daerah syi sama dengan daerah stasdgemeente daerah ken sama dengan Kabupaten, daerah gun sama dengan daerah kawedanan, daerah son sama dengan order distrik atau kecamatan, dan ku sama dengan desa atau kelurahan. Selaku kepala daerah syu, syi, ken, gun, dan ku masing-masing diangkat seorang syuco, syico, kenco, gunco, dan kuco. Dengan pembagian diatas, maka propinsi-propinsi seperti halnya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur di hapuskan. Di Kab.Rembang terdapat Gedung eks Kawedanan Kragan peninggalan Belanda. Sayang sekarang telah hilang berganti Pasar Kragan.

Pada masa pendudukan Jepang daerah Magelang sudah termasuk Kabupaten atau ken yang mempunyai otonomi penuh dengan R.A.A Sosrodiprodjo sebagai Bupati atau kenco Magelang. Kabupaten Magelang adalah merupakan bagian dari Kerisidenan Kedu (syu kedu) dengan Residen (syutyokan) Raden Panji Soeroso, yang membawahi Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten kebumen, Kabupaten Magelang, dan Kotapraja (syi) Magelang.
Pada masa pendudukan Jepang Jawa ditetapkan sebagai pemasok beras untuk pulau-pulau diluar Jawa serta untuk keperluan medan pertempuran di Pasifik Selatan. Beras yang didatangkan dari Jawa menjadi semakin penting karena semasa perang angkutan jarak jauh dan perkapalan sangat sulit serta keamanan di laut memburuk. Beras dari Jawa terkenal enak. Jepang berniat memprioritaskan Pulau Jawa guna memenuhi kebutuhan akan beras. Dalam rangka pelaksanaannya Jawa sebagai bagian dari lingkungan bersama Asia Timur Raya mengemban dua tugas. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan sendiri untuk tetap bertahan. Kedua, mengusahakan produksi bahan makanan untuk kepentingan perang. Jaman penjajahan Jepang di mana rakyat diwajibkan melaksanakan “wajib setor beras” ini juga biasa disebut ”Zaman Kuintalan”, karena berasal dari kata Quintaal, yang berarti 100 Kg (satuan berat yang diperkenalkan oleh Jepang).

Para petani juga menyebut jaman ini sebagai jaman penyetoran padi. Masyarakat diwajibkan untuk menyetorkan sejumlah padi sebanyak yang telah ditentukan pemerintah pendudukan dalam rangka mencukupi kebutuhan untuk perang. Jepang menerapkan politik ekonomi yang desentralisasi. Dalam pelaksanaannya Jepang memberikan tanggungjawab mengumpulkan semua kebutuhan ekonomi pada pemerintah daerah. Setelah semua selesai baru kemudian dilaporkan kepada pimpinan pusat pemerintahan pendudukan. Selama pendudukan Jepang ini, untuk memperlancar kebijakan ekonomi Jepang secara terus menerus mengumandangkan propaganda mengenai pelipatgandaan hasil pangan melalui radio, surat kabar, penerbitan, ataupun pemutaran film. Untuk memenuhi target kebutuhan akan beras bagi pasukannya yang sedang berperang Jepang memerintahkan untuk membuka lahan baru yaitu dengan cara menebangi hutan atau mengganti lahan perkebunan yang tidak bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan perang untuk kemudian ditanami beras guna keperluan perang. Jepang juga memperkenalkan cara penanaman padi yang baru (larikan) yang tujuannya adalah untuk peningkatan hasil produksi beras.

Disamping rakyat dituntut untuk menyetor beras dan menaikkan produksinya, mereka masih dibebani pekerjaan tambahan yang bersifat wajib, seperti menanam dan memelihara jarak (Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 1993:49).
Untuk mengontrol dan upaya menaikkan hasil produksi beras di desadesa, Jepang membentuk Kumiai(koperasi). Fungsi dari koperasi ini adalah untuk menampung beras yang berasal dari masyarakat terutama karena adanya wajib setor beras, juga sebagai sarana penyebar informasi berkaitan dengan kebijakan perekonomian Jepang.Beras yang akan diberikan pada Jepang dikumpulkan melalui perangkat desa (Kepala Desa) atau melalui badan desa bentukan Jepang (Sidoing). Sidoingini nantinya yang akan mengumpulkan beras dengan cara mendatangi rumah penduduk yang memiliki sawah untuk menarik beras. Penarikan beras dilakukan seminggu sekali atau dua minggu sekali (Wawancara dengan Bapak. Simhadi, 17 April 2007).
Beras yang telah berhasil dikumpulkan oleh Sidoing disimpan di rumah Kepala Desa atau di koperasi (Kumiai) yang kedudukannya biasanya menjadi satu dengan kelurahan. Setelah itu para petugas Jepang akan mengmbilnya untuk kemudian disimpan di tangsi-tangsi penyimpanan beras mereka. Salah satu tangsi penyimpanan beras Jepang yang ada di Magelang antara lain berada di Komplek SECABA (Sekolah Calon Bintara) di jalan Ahmad Yani Magelang (Wawancara dengan Bapak Sabar18 April 2007). Tetapi secara umum tangsi penyimpanan beras Jepang memang ditempatkan di daerah komplek militer dan sangat dirahasiakan. Itu bertujuan untuk keamanan dan jaminan keraha-
siaan.

Beras yang mereka simpan itu nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pasukan Jepang yang sedang berperang. Beras itu nantinya akan dikirimkan dengan menggunakan kereta api atau truk. Sewaktu akan dilakukan pengiriman beras, pemerintahan Jepang di Magelang akan membunyikan sirine (oleh pemerintah Jepang digunakan sebagai pemberitahuan adanya musuh yang datang dan rakyat disuruh sembunyi). Bagi rakyat Magelang yang sedang ada di pinggir jalan diwajibkan untuk membalikkan badan pada saat truk atau kereta api itu akan lewat agar rakyat tidak mengetahui apa yang diangkut di dalamnya. Apabila ada yang menoleh atau melihat maka dia akan dihukum, biasanya berupa pukulan atau tendangan (Wawancara dengan Bapak. Rachmat, 17 April 2007).
Kebijakan keuangan Jepang yang berusaha mempertahankan nilai gulden atau rupiah Hindia Belanda guna mempertahankan harga barang-barang agar dapat dipertahankan seperti sebelum perang dan untuk mengawasi arus lalu lintas permodalan dan kredit tidak efektif. Terjadilah inflasi yang sangat parah terhadap Indonesia. Pada masa ini nilai tukar uang menjadi semakin kecil karena uang dibuat semakin banyak sehingga membuat nilai tukarnya menurun. Pada masa Jepang proses pembuatan uang dipusatkan di Yogyakarta. Bahkan, karena sangat kecilnya nilai tukar uang pada masa itu akibat adanya inflasi, gaji yang diterima orang Indonesia yang bekerja di pemerintah Jepang per bulannya nilainya sama dengan harga sebuah nangka. Selain kebijakan itu Jepang juga memberlakukan kebijakan wajib bayar pajak yang diambil dari berbagai sumber misal pajak tanah, pajak produksi, atau juga pajak penghasilan. Selain itu, para petani di Magelang juga diwajibkan untuk melaksanakan kebijakan “tanam-wajib” lainnya yaitu menanam rami dan jarak (Wawancara dengan Bapak. Simhadi, 17 April 2007).
Apabila dibandingkan antara tingkat perekonomian pada masa Jepang dengan masa Belanda, Bapak Simhadi, Bapak Rachmat maupun Bapak Sabar sama-sama mengatakan bahwa pada masa Belanda lebih baik daripada masa Jepang, meskipun sama-sama dalam kondisi terjajah. Pada masa Belanda apa-apa ada (barang keperluan sehari-hari selalu ada), sedang pada masa Jepang kebalikannya (tidak ada atau sulit dicari). Pada dasarnya pada masa Jepang apa-apa yang ada dianggap milik Jepang atau setidaknya boleh digunakan oleh Jepang. Jepang juga memberi perhatian terhadap masalah sosial ekonomi kemasyarakatan. Pemerintahan pendudukan Jepang melakukan beberapa perubahan, terutama berkaitan dengan masalah sosial ekonomi kemasyarakatan itu. Di masa pendudukan Jepang, organisasi pedesaan secara langsung dihubungkan dengan dunia luar dalam pengertian politik, ekonomi dan spiritual (Kurasawa dalam Nagazumi, 1988: 83). Struktur otoritas di daerah pedesaan juga dirubah. Selama pendudukan Jepang, kepala desa dan para pembantunya diperlakukan sedikit lebih baik seperti wakil pemerintah pusat, dan menjalankan perintah dari atas untuk keuntungan pengusaha penjajahan (Kurasawa dalam Nagazumi, 1988: 84). Pada masa pendudukan Jepang ini struktur sosial di daerah pedesaan berubah. Para pejabat pamong praja (pangreh praja) beserta stafnya berada di puncak hierarkhi sosial. Mereka pada umumnya adalah berasal dari kota yang tidak berminat pada sektor pertanian di pedesaan.
Selama masa pendudukan itu seorang Kepala Desa dan perangkatnya diperlakukan sebagai alat pemerintah pusat, alat penguasa sehingga mereka menjalankan perintah dari atas untuk keuntungan Jepang (Soemarmo, 2001: 51).
Mereka diberi tugas untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan pemerintah pendudukan Jepang di tingkat pedesaan. Tugas mereka antara lain mengumpulkan beras dari warga desa, merekrut romusha, merekrut para pemuda/pemudi untuk mendapat didikan militer guna keperluan perang Jepang.
Di antara penduduk dari golongan petani, kepala desa dan para pembantunya mempunyai prestisesosial yang sangat tinggi. Diluar kelompok pamong desa, stratifikasi sosial didasarkan atas kepemilikan tanah, yang menempati golongan pertama masyarakat ini adalah kuli kenceng, mereka yang memiliki sawah yang mudah dialiri. Kelas ini juga mencakup mereka yang memiliki tanah kering yang mudah ditanami tetapi status mereka berada di bawah para pemilik tanah. Tingkat sosial di bawahnya adalah kuli karangkopek, yang memiliki tanah hanya pekarangan. Berikutnya adalah kuli indung, yang sama sekali tidak memiliki tanah tapi punya rumah. Kelas terakhir adalah indung tlosor, yang tidak punya tanah maupun rumah dan menumpang pada keluarga lain dan bekerja untuk mereka (Soemardjan, 1981: 41).
Pada masa pendudukan Jepang ini nasib petani tak banyak berbeda. Mereka berada di tingkat paling bawah dalam struktur sosial masyarakat Indonesia. Sangat sulit bagi mereka untuk merubah posisi mereka karena kewajiban yang harus dipenuhi. Tak ubahnya pada masa pendudukan Belanda, pada masa pendudukan Jepang juga tak jauh berbeda. Terjadi peralihan kepemilikan tanah di dalam masyarakat dari para petani ke pemerintahan pendudukan Jepang di Magelang (Wawancara dengan Bapak Sabar 18 April 2007).
Perubahan stratifikasi sosial berlangsung di masyarakat dimana orang Jepang menduduki kelas tertinggi. Kelas berikutnya ditempati oleh orang-orang Eropa terutama sekutu dari Jepang. Kelas berikutnya adalah orang Indonesia. Kelas terbawah adalah orang-orang Belanda dan sekutunya (orang-orang Cina). Penduduk keturunan Cina di Muntilan dibenci oleh Jepang karena dianggap sebagai kaki tangan Belanda pada masa itu. Perubahan ini juga diikuti adanya perubahan sosial sehari-hari.
Pada masa pendudukan Jepang bagi masyarakat Tionghoa sangat terbatas sekali. Segala tindak tanduknya di awasi betul oleh Jepang. Termasuk dengan 2 perkumpulan sosial Hoo Hap Hwee dan Sam Ban Hien tersebut (mengurusi kegiatan sosial yaitu kematian, juga memiliki grup Barongsai dan Lion Samsi. Nah pada setiap perayaan tahun baru Imlek, kedua grup seni ini diadu keterampilannya). Karena itu kedua perkumpulan itu dilebur menjadi satu dengan nama Song Soe Kiok. Maka sejak saat itu perkumpulan ini hanya khusus menangani urusan kematian saja. Sedangkan lokasi atau tempat dari perkumpulan ini berada di kawasan VOETPAT KARET, tepatnya di depan seberang jalan dari rumah makan Es Murni di Jalan Sriwijaya Bogeman.
Kebiasaan yang dilakukan orang Jepang setiap harinya harus diikuti. Di Magelang sendiri juga demikian. Setiap hari ada kewajiban yang harus dilakukan, yaitu mengikuti kebiasaan orang Jepang. Kewajiban itu antara lain setiap pukul 7 pagi diharuskan menghadap ke arah Timur menghadap matahari (memberi hormat kepada Dewa Matahari), serta melaksanakan Upacara Tenno Heika menghadap arah Timur Laut (memberi hormat kepada Kaisar Jepang). Kedua kewajiban ini harus dilaksanakan oleh semua orang di mana saja mereka berada. Apabila ada yang melanggar maka akan dihukum
Selain itu, rakyat Magelang juga diwajibkan memberi hormat kepada setiap orang Jepang yang mereka temui di jalan (Wawancara dengan Bapak Rachmat, 17 April 2007).
Ada juga kewajiban untuk berolahraga (melakukan senam) bagi rakyat terutama bagi para pemuda yang sedang mendapat pendidikan militer. Kegiatan olahraga senam ini biasanya dilakukan secara bersama-sama di Stadion Tidar (sekarang bernama Stadion Abu Bakrin). Pada waktu Jepang menduduki Magelang hampir tidak ada pembangunan, kecuali membuat Stadion Tidar yang dikerjakan secara gotong royong oleh seluruh masyarakat, pegawai, pejabat dan anak-anak sekolah
dan tentunya para romusha.
Kondisi ekonomi sangat parah sebab segala hasil produksi disedot untuk kepentingan perang. Kekayaan rakyat dikuras sampai ke “balung sumsumnya”. Kemelaratan berkecamuk dan kelaparan berjangkit hampir di seluruh Indonesia akibatnya timbullah golongan yang disebut “kere” atau “gembel” dalam jumlah yang sangat besar. Untuk membangun prasarana perang seperti kubukubu pertahanan, jalan raya, lapangan udara dan lain-lain, Jepang memerlukan banyak tenaga kasar. Selain itu, diperlukan juga tenaga kasar untuk bekerja di pabrik-pabrik dan pelabuhanpelabuhan. Tenaga-tenaga inilah yang disebut romusha. Pulau Jawa sebagai pulau yang padat penduduknya memungkinkan pengerahan tenaga tersebut secara besar-besaran. Pada mulanya tugas-tugas yang dilakukan itu bersifat sukarela, tetapi lama kelamaan karena kebutuhan yang terus meningkat di seluruh Asia Tenggara, pengerahan tenaga yang bersifat sukarela berubah menjadi paksaan. Beribu-ribu romushadikirim ke luar Jawa bahkan ke luar Indonesia, seperti Birma, Muangthai, Vietnam dan Malaya. Di Magelang tenaga romusha direkrut oleh Kepala Desa. Tenaga romusha yang direkrut biasanya orang yang masih muda, sehat dan kuat. Tenaga romusha yang direkrut ini berasal dari desa-desa yang ada di Magelang. Mereka direkrut untuk membangun prasarana perang Jepang, misalnya membangun gua-gua perlindungan dan persembunyian di daerah-daerah pegunungan (misal di daerah Windusari, Kabupaten Magelang), mambangun jalan bawah tanah sebagai alat pertahanan dari serangan musuh (misal di daerah Jambon, belakang Koramil), memperbaiki landasan udara yang ada di Bukit Tidar yang rusak karena politik bumi hangus Belanda., Merusak jalan raya sebagai cara memperlambat musuh (menghancurkan jalan raya atau minimal aspalnya harus mengelupas), setiap jarak 1 Km pada jalan raya harus dibangun rugrat (lubang jebakan sekaligus lubang persembunyian), membangun asrama bagi siswa sekolah yang ada di Magelang (Wawancara dengan Bapak Sabar 18 April 2007).
Di Magelang para romusha ini pada saat direkrut dijanjikan akan mendapat bayaran setiap harinya. Tetapi pada pelaksanaannya tidak demikian. Para romusha ini diperlakukan sangat buruk. Sejak dari pagi hingga petang hari mereka diharuskan bekerja kasar tanpa makanan yang cukup (bahkan tidak makan sama sekali) dan juga tanpa perawatan cukup. Bayaran uang yang dijanjikan oleh Jepang tidak pernah ada. Romushamendapat jatah makan tiap harinya, bukan berupa nasi (beras) melainkan berupa gronjol atau tiwul (terbuat dari ketela) yang juga dianggap sebagai bayaran mereka karena telah bekerja selama satu hari (Wawancara dengan Bapak Sabar 18
April 2007).

Kondisi itu membuat para romusha menderita kelemahan fisik, sehingga mereka tidak mampu bekerja lagi. Jika diantara mereka ada yang berani beristirahat sekalipun hanya sebentar maka hal itu akan mengundang makian atau pukulan dari pengawas mereka yang orang Jepang. Masa istirahat yang diperbolehkan adalah pada malam hari (tidur). Dalam keadaan fisik yang lemah membuat mereka tidak tahan (rentan) terhadap penyakit. Karena tidak sempat memasak air minum, sedangkan buang air di sembarang tempat maka mereka terjangkit wabah disentri. Mereka juga terjangkit wabah malaria karena tidak bisa menghindarkan diri dari serangan nyamuk (Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 1993:39).

Selain itu juga merebaknya penyakit beri-beri dan kutu yang memperparah penderitaan rakyat Magelang. Banyak dari para romusha ini yang mati karena koreng(infeksi luka). Selain mati karena kekurangan makan dan penyakit akibat kerja kasar yang mereka lakukan banyak romusha yang mati karena sengaja dibunuh untuk menjaga kerahasiaan setelah membangun prasarana perang Jepang agar tidak diketahui musuh. Mayat para romusha tergeletak dimana-mana dan dibiarkan saja tidak ada yang mengurus. Pemandangan itu terlihat setiap hari dan sudah biasa. Romushayang berasal yang dikirim ke daerah lain misal ke Jawa Barat atau Jawa Timur atau juga ke luar Pulau Jawa seperti ke Sumatra atau Kalimantan banyak yang tidak kembali. Bapak Sabar yang merupakan mantan romusha merasa beruntung hanya dipekerjakan di wilayah Magelang dan bisa bertahan. Temannya yang bernama Kirman tidak bisa bertahan dan akhirnya meninggal pada saat membangun jebakan di sepanjang jalan karena mendapat siksaaan dari tentara Jepang dan kekurangan makan (Wawancara dengan Bapak Sabar 18 April 2007).

Penderitaan tidak hanya diterima oleh para pemuda, tetapi juga para wanita. Oleh orang-orang Jepang mereka dijadikan Jugunianfu (gundik), lebih diutamakan adalah yang masih perawan. Mereka dijadikan pemuas hasrat seksual pasukan Jepang. Orang-orang Jepang menjanjikan kepada para wanita tersebut untuk kemudian dijadikan isteri dan akan dibawa ke Jepang. Para Jugunian fuitu diambil dari desa atau kampung yang ada di Magelang.
Dari sebuah dokumen yang berasal dari arsip pemerintahan Belanda yang dibuat berdasarkan sebuah testimoni dari seorang wanita Belanda di tahun 1946 . Wanita yang berumur 27 tahun ini menceritakan tentang kamp wanita pekerja sex paksa di Magelang, Jawa Tengah ketika itu. Wanita- wanita di kamp itu dinamakan dengan sinis oleh Jepang dengan sebutan euphemisme “Jugun Ianfu” atau “comfort woman”.
Saat itu apabila ada orang Jepang yang tertarik kepada seorang wanita maka dia berhak untuk memilikinya. Barang siapa yang melawan atau mencegahnya maka orang itu akan dibunuh (Wawancara dengan Bapak Rachmat 17 April 2007).
Akibat ini semua maka pada tahun 1943 jumlah penduduk Magelang berkurang sangat signifikan dikarenakan terjangkitnya wabah cacar yang hampir terjadi di seluruh kecamatan dan khususnya generasi muda yang di kirim ke Ujung Kulon sebagai romusha oleh penjajahan Jepang. Kedua peristiwa ini tercatat dalam sejarah pertumbuhan penduduk.
Sejak jaman penjajahan Jepang Magelang terkenal sebagai kota Garnisun atau kota militer. Hal ini dapat di buktikan dengan banyaknya peninggalan bangunan-bangunan militer sebagai pemusatan pasukan Jepang.
Para pemuda Magelang selain direkrut untuk menjadi romusha juga direkrut untuk menjadi tentara atau dididik kemiliteran dengan tujuan mengamankan Magelang atau membantu Jepang dalam perang yang sedang dilakukan. Para pemuda ini mendapat latihan kemiliteran terutama baris-berbaris.

Para pemuda yang direkrut merupakan orang orang pilihan (berani dan kuat) terutama yang ditunjuk untuk menjadi pasukan yang membantu langsung Jepang dalam berperang. Ada beberapa pilihan yang ditawarkan para pemuda itu, antara lain: (1) Menjadi pasukan militer Jepang yang mambantu Jepang langsung dalam perang (HEIHO), untuk ditempatkan dalam organisasi militer Jepang, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut; (2) Menjadi pasukan PETA (berasal dari golongan masyarakat) yang bertugas mengamankan Magelang. Bahkan, menjelang tahun 1945 di Magelang dibentuk kompi yang beroperasi di daerah. Diadakan pendidikan atau penerimaan prajurit tentara PETA angkatan pertama di Magelang. Pada saat itu baru dapat terbentuk 2 batalyon atau Daidan. Dai Ici Daidan berkedudukan di Gombong dan Dai Ni Daidan berkedudukan di Magelang dengan nama lengkapnya Kedu Dai Ni Daidan atau Batalyon II Kedu (Wiyono,dkk, 1991: 30).
Dari kelurahan mereka dikirim ke kecamatan seterusnya dikirim dan dikumpulkan di kawedanan, kemudian mereka diberangkatkan dari pendopo Kabupaten Purworejo menuju tempat pendidikan di tangsi Tuguran, Magelang (Wiyono,dkk, 1991: 29).

Salah satu putra Indonesia yang memulai karier militernya di Magelang adalah Ahmad Yani beliau pada masa penjajahan Jepang, Yani mengikuti pendidikan militer Jepang di Magelang. Prestasinya begitu gemilang sampai-sampai Kapten Yanagawa, pelatih Jepang, menaruh perhatian khusus pada Yani. Ketika lulus, Yani pun menjadi siswa terbaik. Sebagai penghargaan, Yani diberikan sebilah pedang samurai. Kemudian beliau diangkat sebagai Komandan Dai Ici Syodan Dan San Cudan dari Dai Ni Daidan (Komandan Seksi 1 Kompi 3 Batalyon 2).

Jadi pelatihan militer ini bermanfaat bagi perjuangan hidup rakyat Magelang di masa depan.
Zaman Jepang di Magelang barang-barang kebutuhan seharihari misalnya bahan makanan dan pakaian sangat jarang bahkan hampir tidak ada. Barang industri sangat sulit didapat terutama tekstil. Akibatnya pakaian rakyat terbuat dari serat rami, karung goni, atau bagor. Apabila dipakai dan badan masih agak basah pakaian itu lengket di kulit. Itu pun jumlahnya sangat terbatas. Setiap orang pada umumnya hanya punya satu atau dua stel. Sebab itu sering terjadi bila orang harus mencucinya maka sambil menanti pakaian itu dijemur ia harus tetap berendam di sungai sampai pakaian itu kering untuk segera dapat dipakainya kembali (Soemarmo, 2001: 40).

Praktik- praktik romushamerupakan bentuk yang sangat nyata dari praktik eksploitasi tenaga kerja dan manusia pada masa pendudukan Jepang. Hal itu sekaligus merupakan suatu bentuk pemiskinan mentalitas masyarakat. Dengan demikian telah terjadi perubahan mentalitas masyarakat yang sangat mendasar pada masa pendudukan Jepang sebagai akibat penetrasi dan sistem pendudukan yang bersifat militer.

Selain itu ada pula pendidikan militer yang diberikan baik di sekolahsekolah maupun melalui organisasi semi militer maupun organisasi militer bentukan Jepang (Heiho, Peta, Seinendan, Keibondan) kepada para pemuda dan pemudi Magelang yang bermanfaat bagi peningkatan kedisiplinan dan juga bangkitnya rasa nasionalisme, terutama berkaitan dengan usaha merebut kemerdekaan dan juga mempertahankan daerah Magelang pada masa-masa perjuangan selanjutnya.
Masalah pendidikan yang meski pada masa pendudukan ini tidak terlalu diperhatikan, adanya sekolah-sekolah Jepang yang dibuka di Magelang semakin meningkatkan tingkat intelektual masyarakat.

Cagar Budaya Musolla Belitung Sarang Rembang

Sejarah
Karangmangu adalah sebuah desa di terpi utara Jawa Tengah bagian timur. Termasuk bagian dari kecamatan Sarang kabupaten Rembang. Semula Karangmangu bernama Karangkembang, pada masa itu mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani seperti kebanyakan penduduk jawa, sebagian lagi sebagai nelayan. Penduduk tesebut merupakan campuran antara suku Jawa dan Madura yang telah berasimilasi, oleh karena itu terdapat desa yang bernama Bajingjawa,Bajingmadura,Sarangjawa dan Sarangmadura.

Kala itu terjadi perpindahan penduduk dari Sedayu Gersik ke Sarang karena mereka di kejar bangsa Belanda akibat tidak mau bekerja samadengan bangsa kolonial itu, mereka datang secara berkala dan berkelompok, para pendatang itulah yang akhirnya membawa angin yang positif bagi warga Sarang. Mereka mulai mengembangkan cara pencarian ikan yang semula dengan cara sederhana di ganti dengan cara yang lebih maju, hingga pada akhirnya perekonomian penduduk kian hari kian terangkat.

Penduduk Sarang setiap hari Jum’at selalu pergi ke Masjid di desa Balitung, sebuah desa sebelah barat Sarang sekitar 3,5 km untuk mengerjakan Sholat Jum’at. Hal ini di karenakan tidak adanya Masjid di Sarang. Budaya ini berlanjut sampai KH.Syua’ib yang wafat pada tahun 1358 H. Masjid Balitung merupakan masjid pertama yang ada di Sarang dan sekitarnya’ begitu juga Pondok Pesantrennya. Disebut desa Balitung karena orang yang pertama kali berdakwah di sana berasal dari desa Balitung sebuah desa yang berada di Sumatra. Dan pada akhirnya da’i tersebut di kenal dengan sebutan Wali Balitung.

Perkembangan Islam di Balitung mencapai puncaknya pada masa Kiyai ‘Abdullah Sajad yang sangat di kenal oleh penduduk setempat. Hanya saja sejarah kehidupannya tidak di ketahui secara pasti. Suatu ketika KH. Ghozali bersama menantunya yakni KH. Syua’ib menghadiri pemakaman salah satu pendudukl di sana, tiba-tiba sa’at penggalian qubur ,penduduk di kejutkan dengan di temukannya jasad mayat yang masih utuh seperti mayat yang baru saja di quburkan, lalu KH.Zubair dahlan [ pada masanya ] menanyakan tentang jasad mayat tersebut kepada Kyai Syua’ib. sedangkan beliau menyangka bahwa itu adalah jasad Kyai ‘Abdullah Sajad, tetapi di jawab oleh KH. Syua’ib setelah melakukan Istikhoroh memohon petunjuk kepada Allah, roh Kyai Syua’ib bisa bertemu langsung dengan roh jasad tersebut, akhirnya di ketahui bahwa jasad tersebut adalah jasad dari salah satu murid Kyai Sajad.

Pondok Balitung merupakan awal keberadaan Pondok Pesantren Sarang dan sekitarnya. Sebagai Masyayekhnya yang terkenal kala itu adalah Kyai Hasan Mursyidin yang pernah menulis tafsir jalalain .

Roda zamanpun berputar seiring dengan kerasnya kehidupan nelayan, maka muncullah sosok yang menjadi cikal bakal berdirinya pondok pesantren di Sarang yang besar, mempunyai ribuan santri, beliau adalah Saliyo Bin Lanah ( KH. Ghozali ) seorang dermawan yang suka beramal untuk perkembangan agama guna mengembangkan dan melestarikan ajaran Rosulillah SAW, antara lain dengan mengajak penduduk Sarang untuk meninggalkan kepercayaan Animisme dan Dinamisme kepada ajaran yang benar yaitu Islam.

Pada suatu hari, kala Camat Sarang selesai mengadakan pemantauan di Wilayahnya dengan menunggang kuda ke arah barat untuk pulang, secara tiba-tiba beliau merasakan gelap gulita seakan tak ada yang hendak di lewati. Tetapi betapa terkejutnya dia, ketika melihat pancaran sinar terang dari arah depan, lalu diapun turun dari kudanya untuk mendekati asal pancaran sinar tersebut. Dan alangkah takjubnya dia sa’at mengetahui bahwa sinar tersebut bukan sinar biasa tetapi pancaran nur dari wajah KH. Ghozali yang duduk di tepi jalan sambil membuat tambang. Akhirnya pada lain waktu Camat Sarang itupun sowan pada Kyai Ghozali seraya berjanji akan beribadah dan akan mewaqofkan langgar di Sarang sebagai rasa syukur. mengajarkan ajaran agama pada santrinya yang pada waktu itu terbatas pada penduduk setempat. kiprah beliau sebagai tokoh masyarakat dan agama sangat di segani. Dan dalam qurun waktu yang tidak begitu lama perkembangan pesantren sangat cepat dan pesat. Waktupun bergulir dan sudah menjadi garis kehidupan bahwa akhirnya Kyai Ghozali wafat pada tahun 1856 M

Gerbang Depan PP Al Anwar
Sumber : Website PP al-Anwar

LEAVE A REPLY