Photo: murianews.com

Pada hari ini, tanggal 19 2 2017 penulis dikejutkan informasi dari saudara di desa para leluhur ayahanda, yaitu di desa Kajen Pati, bahwa KH. A. Nafi Abdullah telah wafat. Dalam informasi ini, telah menjelaskan beliau wafat di Turki pada hari ahad, 22 Jumadil Ula 1438 H./ 19 Februari 2017. KH. A. Nafi’ Abdillah adalah putra KH. Abdullah Zein Salam bin KH. Abdussalam. Tidak hanya masyarakat dan santri kajen yang kehilangan beliau, namun Indonesia juga sangat kehilangan. Sosok Kiai Nafi merupakan sosok yang memiliki kepribadian santun dan dapat dikatakan sebagai penjaga cahaya Islam yang mencerahkan.

Cahaya Islam, adalah cahaya pembebasan dan pencerahan yang dibawa melalui risalah kenabian Nabi Muhammad, yang sudah banyak dijelaskan melalui khazanah keilmuan abad pertengahan dan sudah banyak dijelaskan melalui khazanah kewalian. Jika kita belajar kepada sosok Kiai Nafi, maka kita akan merasakan cahaya Islam ini relevansinya dengan kehadiran Kiai Nafi. Kehadiran Kiai Nafi tidak berbeda dengan kisah para pendahulunya. Misalnya, adanya model pandangan dan sikapnya membangun pribumisasi Islam dan dinamisasi ilmu keislaman di abad modern, Model keberagamaan yang seperti ini, yang sebenarnya menjadi fondasi laju kemajuan model Islam Nusantara.

Sehubungan dengan keutamaan Kiai Nafi yang kian melegenda, ternyata Allah berkehendak yang lain, yaitu memanggil Kiai Nafi kembali kepada Allah. Ada beberapa murid dan kerabat yang berkata kepada penulis, “jika ada hak sesama umat manusia untuk bisa menahan panggilan Allah, maka kami akan memohon kepada Allah, agar Kiai Nafi bisa lebih lama lagi mendampingi keberagamaan umat Islam di Indonesia.” Betapa Kiai Nafi sangat berarti dalam memberikan pendampingan kepada santri, anak cucu Syekh Ahmad Al Mutamakkin, dan masyarakat.

Secara real, banyak santri dan generasi Syekh Ahmad Al Mutamakkin yang merasakan pendampingan Kiai Nafi hingga sekarang, telah mengisi gerakan keberagamaan dan keragaman di Indonesia. Kiai Nafi mampu menjadi jembatan kekhasan dan keunikan keberagamaan Syekh Ahmad Al Mutamakkin sampai kepada dzuriyah, santri, dan masyarakat sekarang ini. Dengan demikian, Syekh Ahmad Al Mutamakkin dapat menjadi modeling yang mudah dipahami hingga sekarang, yang diantaranya berkat penjelasan Kiai Nafi.

Subhanallah, meskipun banyak yang kehilangan Kiai Nafi, namun tidak kuasa memohon kepada Allah yang telah memanggilnya. Fenomena ini yang memunculkan harapan para santri, dzurriyah, dan masyarakat memohon kepada Allah, agar cahaya Islam Kiai Nafi tetap memancar sepadan dengan masa kiprah perjuangannya di dunia. Meski umat bersedih melepas kepergian Kiai Nafi, namun tetap juga harus merelakannya kembali kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Dengan kata lain, seberat apa pun kesedihan para santri karena ditinggal seorang Ulama yang peduli terhadap pembebasan dan pencerahan, Allah lebih berhak atas rahmat yang akan diberikan kepada hambanya yang mewarisi risalah dan tradisi kenabian. Sungguh sudah banyak yang merasakan makna hidup relasinya dengan Allah dan manusia, setelah mendapatkan uraian sufistik Kiai Nafi.

Karenanya, tidak berlebihan jika penulis tegaskan, bahwa Indonesia kehilangan anak negeri yang mewarisi tradisi keberagamaan Kiai Cebolek yang menghormati kearifan lokal dan sikap ramah terhadap lingkungan.

Secara mendasar, kehadiran Kiai Nafi sangat mengenang jiwa siapa pun yang pernah bersilaturrahim dengan beliau, karena beliau sosok yang bersahaja, santun, dan ramah kepada siapapun. Dua dunia dalam tradisi pesantren telah beliau selami, yaitu tradisi keilmuan dalam pesantren dan tradisi pengamalan tasawuf yang berkembang menguatkan pesantren dan NU.

Dalam ilmu thariqah para Ulama Tasawuf, beliau memangku sebagai seorang mursyid thariqah yang mempunyai jamaah yang tingkat keilmuan dan strata sosialnya beragam. Dalam keberagaman ini, beliau mampu mengayomi semua bidang keilmuan dan amalan yang ditekuni para santri bersama beliau tanpa adanya diskriminasi.

Penulis bertemu beliau sejak masih kecil, sejak penulis diperkenalkan oleh orang tua terhadap jejaring keluarga dari generasi Syekh KH, Ahmad Al Mutamakkin. Kiai Nafi sangat bersabar mendampingi penulis, baik dalam memberikan perspektif keberagamaan maupun membentuk kepribadian. Meskipun hanya dalam hitungan bulan penulis nyantri di Kiai Nafi, namun beliau masih sayang dan memberikan banyak makna dan hikmah kehidupan kepada penulis. Allahu Akbar betapa berat ditinggal beliau, Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.

Tauladan Yang Mencerahkan

Dalam perspektif keilmuan, sering kali beberapa santri yang pernah diajar beliau berkisah, bahwa beliau mengajar Ushul Fiqh Ghayatul Wushul karya Zakariyya Al-Anshari Rahimahullah. Dari kisah para santri yang masih mengisi ruang memori penulis, banyak yang merasakan telah banyak yang dapat memetik model pembelajaran yang disampaikan Kiai Nafi. Misalnya, setiap membacakan kajian teks at turast, Kiai Nafi’ selalu menyampaikan penjelasannya dengan membuat skema atau pemetaan pemikiran di papan tulis. Pemetaan pemikiran ini telah dibuat oleh Kiai Nafi secara sistematis dan dengan bagan-bagan peta makna dan pemikiran yang dimaksudkan oleh teks yang dibacakannya.

Setiap menyampaikan perspektif keilmuan ini, Kiai Nafi selalu terlihat sebagai sosok pribadi yang luhur dan membawa aura pancaran kewibawaan yang khas. Fenomena keluhuran budi pekerti beliau ini berbarengan dengan keteladanannya selama mengajar. Kekhasan Kiai Nafi ini, juga dirasakan para tamu pada saat mendengarkan kalam kalam hikmah dari Kiai Nafi.

Sebagaimana yang selama ini dikenal oleh kebanyakan santri Kajen, Kiai Nafi merupakan Ulama’yang dihormati dan menjadi rujukan santri dan masyarakat, baik dari para alumni atau dari masyarakat luas. Sebagai rujukan, Kiai Nafi merupakan sosok kiai yang sabar memberikan pendampingan kepada subjek dampingan (santri dan masyarakat). Secara khusus, kehadiran Kiai Nafi dirasakan oleh kebanyakann putra putra Kiai di Kajen dan yang lainnya, yang semuanya merasakan pendampingan tulusnya. Babyak dari putra Kiai yang telah menjadi Ulama besar dari kesabaran pendampingannya.

KH. A. Nafi Abdillah merupakan seorang Ulama yang mewarisi tradisi kenabian yang luhur, Sebagaimana yang dirasakan oleh para santri, bahwa Kehadirannya telah mendatangkan keberkahan. Hal ini sesuai dengan fungsi Ulama yang diriwayatkan Imam At Thabrani, sebagai pembawa keberkahan (al-barakatu ma’a akaabirukum). Mengapa? karena Ulama telah menandai mata rantai keilmuan ilmu ilmu keislaman yang bersumber langsung (sanad) dari Nabi Muhammad. Ilmu keislaman yang ditandai oleh para Ulama ini, dapat menjadi kajian yang penting yang dapat membantu menguatkan pemahaman umat Islam terhadap teks suci kewahyuan dan sunnah Nabi Muhammad.

Selain itu, para Ulama pasca Ulama Madzhab sangat bermanfaat untuk dapat membantu para santri memahami pendapat imam mazhab yang masih ada kedekatan dengan sejarah kenabian Nabi Muhammad dan kedekatan dengan diskursus aliran madzhab. Di antara Ulama pasca Ulama madzhab ini, ada sanad keilmuan para santri Kajen Pati, baik mereka yang secara langsung belajar di pesantren Kajen Pati atau tidak, yang telah melewati sanat KH. A. Nafi Abdillah. Jadi, dalam konteks pembelajaran bermadzhab, telah banyak yang terbantu dengan model atau pola pandangan dan akhlak mulia yang diajarkan oleh KH. A. Nafi Abdillah.

Semasa hidup, Kiai Nafi ibarat telaga yang bening dan jernih, sehingga banyak santri yang bertanya kepada beliau yang mudah mendapatkan pemahaman keberagamaan, baik melalui tradisi bermadzhab maupun tradisi berkebudayaan atau berakulturasi dengan tradisi lokal. Kiai Nafi memiliki kepiawean membacakan, menjelaskan, dan memahamkan tema terkait tentang ilmu fiqh, ilmu kalam dan ilmu tasawuf. Kepiawean Keilmuan Kiai Nafi ini didukung dengan sikap beliau yang mampu mencontohkan bagaimana akhlak Nabi dan para Ulama yang mewarisinya, baik dalam persoalan ibadah maupun mu’amalah.

Karenanya, kehadiran Kiai Nafi sangat dicintai tidak hanya keluarga, namum juga para santri yang nyantri di kajen atau santri di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kiai Nafi telah berjasa memperkenalkan ilmu agama kepada zamannya, mengajarkan Al-Qur’an beserta ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teks kewahyuan. Misalnya, dalam bidang kebahasaan, sejarah dan kebudayaan, ilmu fiqh, ilmu kalam dan ilmu tasawuf.

Belajar dengan Kiai Nafi, para santri banyak yang disadarkan menangkap rahasia makna dari rahasia teks Al Quran: qul hal yastawilladzina ya’lamuna waaldzina la ya’lamun”. Teks ini, sebagaimana disampaikan para Ulama memberikan maksud tentang perbedaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Keberadaan Kiai Nafi itu, telah berhasil menjadi contoh yang mulia dan sangat terpuji bagi para santri yang sedang membaca teks kewahyuan dan khazanah klasik.

Kenangan Yang Indah

Banyak informasi dan cerita tentang kekhasan kemuliaan Kiai Nafi yang penulis terima dari saudara, teman, dan obrolan para santri. Dalam beberapa kesempatan penulis juga telah mendapatkan pesan hikmah dari Kiai Nafi. Yang mengenang di hati paling dalam, adalah akhlak beliau yang lehih banyak mendengarkan pihak lain yang ingin mencurahkan kondisi psikis dan pengalaman hidupnya. Baru kemudian beliau membalas hanya dengan beberapa kalimat yang memasuki jiwa terdalam.

Dalam perspektif akademik, sikap diam Kiai Nafi dan mendengarkan aduan persoalan yang dihadapi tamu ibarat tanpa jawaban yang diberikan Kiai Nafi kepada mereka yang menumpahkan permasalahannya, telah merasakan mendapatkan jawaban. Meskipun demikian, Kiai Nafi tetap menguatkan keteguhan keseimbangan psikis kepada tamu yang merasakan mendapatkan kesedihan dan persoalan hidup.

Selain itu, Kiai Nafi juga memberikan bekal kepada subjek dampingan dari masyarakat zamannya dengan memberikan ijazah dzikir dan doa yang sangat bermanfaat terkait dengan kelangsungan kesadaran hidup untuk selalu mengingat Allah dan hakikat kehidupan di bawa kehendak jiawa dan kebutuhan jasad.

Selama memberikan dampingan ini, beliau telah menunjukkan sikap yang tidak ingin menonjolkan diri. Dalam banyak even penting, setiap dimohon untuk menyampaikan mauidzah, beliau sering tidak berkenan memberikan ceramah, Hanya beberapa momentum tertentu, beliai bersedia menyampaikan hal hal yang memang dianggap penting dan harus disampaikan oleh Kiai Nafi. Yang prinsip dalam memberikan pembelajaran kepada para santri, beliau tetap bersikap sahaja dan elok melaksanakan rutinitas pembelajaran.

Dalam perspektif Kiai Nafi, kegiatan memberikan medel pendampingan harus diiringi dengan dasar untuk memenuhi kebutuhan sendiri menguatkan risalah kenabian. Karenanya, selama sudah membuka pembelajaran kepada individu dan masyarakat, maka seseorang harus menjaga komitmen pendampingan yang kuat.

Dengan demikian, bagi penjaga komitmen pendampingan akan menerima segala konsekuensi yang akan dihadapi selama menjalankan pendampingan. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh “al-wajibu la yutraku illa lil-wajibi”, kewajiban tidak boleh ditinggalkan kecuali karena sesuatu yang wajib pula. Dengan kata lain, kewajiban tidak boleh ditinggalkan untuk sesuatu yang hukumnya sunnah atau mubah.

Kehadiran Kiai Nafi sudah menandai hati para santri dengan model keulamaannya. Misalnya, model kecintaan Kiai Nafi pada bidang ilmu telah menguatkan pandangan dan sikap para santri untuk turut mencintai ilmu. Meskipun sosok Kiai Nafi sudah memiliki kematangan ilmu keislaman, namun masih tekun membaca khazanah klasik abad pertengahan yang menguatkan perspektif keilmuan dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Kekuatan relasi antara bidang keilmuan yang dikuasai Kiai Nafi dan sikap keilmuan yang direfleksikan Kiai Nafis, telah menguatkan kehadiran ratusan bahkan ribuan jama’ah untuk mendengarkan petuah-petuah emas dari Kiai Nafi.

Sehubungan dengan pandangan dan sikap Kiai Nafi yang selalu terintegrasi menjadi satu kekuatan, telah melahirkan banyak rahasia keilmuan yang inspiratif untuk dapat dijadikan model keberagamaan. Misalnya, berupa model yang bersifat vertikal, yaitu model beragama yang tetap teguh berpegang pada prinsip ojo gelo (jangan menyesal) dengan setiap kejadian karena semua sudah menjadi takdir Allah SWT. Artinya, sebagai seorang hamba Allah sudah seharusnya untuk menerima atau rela terhadap takdir Allah. Kedua, model yang bersifat horizontal, yaitu berpegang teguh pada prinsip tafaqquh fiddin dan mencintai para kelasih Allah (auliyaillah).

Ibarat Telaga, Kiai Nafi adalah telaga yang jernih dan bening, sehingga banyak santri dan masyarakat senang memandanginya. Banyak para santri yang memandang Kiai Nafi merasakan ada gerak jiwa para santri yang merasakan nyaman dan teduh. Kehadiran Kiai Nafi di dunia ini tidak hanya dirasakan para santri, namun juga dirasakan generasi muda NU dan masyarakat luas. Kiai Nafi banyak memberikan nilai nilai kearifan pemikiran, ajaran, dan kearifan filosofis tentang hidup penuh dengan makna.

Dengan pelan dan pasti, Kiai Nafi telah memberikan pemahaman kepada para santri, agar amalan ritual tetap terjaga, namun para santri tidak boleh melupakan prinsip hidup melalui pandangan dan perilaku yang penuh makna. Contoh amalan ritual, seperti tahlilan, maulid, manaqiban, dan menghadiri Haul para wali Allah. Sedangkan, contoh prinsip hidup bermakna, meliputi sikap hidup yang terangkum dalam: tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang, proporsional). Tiga prinsip ini seperti telah menjadi paradigma sosiologis organisasi NU untuk menyikapi persoalan: kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, budaya.

Jadi, kiranya tidak cukup membacakan semua kisah Kiai Nafi, namun tidak sulit memetik hikmah dari Kiai Nafi, yang kehadirannya sudah mengisi hati masyarakat. Hal ini, karena modeling Kiai Nafi yang secara total membimbing dengan keteladanan. Hal ini sesuai dengan kaidah lisanul hal afshahu min lisanil maqal. Artinya, menilai tindakan seseorang itu lebih valid dari pada seseorang dari ucapannya.

Hikmah Kehidupan

Secara pribadi, beliau pernah berpesan kepada penulis, agar penulis tidak mencaci sesama umat manusia, karena mereka adalah ciptaan Allah. Selain pesan ini, penulis juga pernah dipesan, agar tidak meninggalkan rumusan model keilmuan para ilmuwan yang harus diikuti, yaitu sebagaimana rumusan yang ditetapkan Organisasi Nahdlatul Ulama. Misalnya, kehadiran Ulama Madzhab yang berhasil membentuk khazanah keilmuan Ulama hadis dan pemahaman umat Islam terhadap teks kewahyuan. Jika sudah berpegang pada rumusan ini, maka tidak boleh mencaci para Ulama di luar arus utama Nahdlatul Ulama.

Sehubungan dengan pesan Kiai Nafi tersebut di atas, penulis baru merasakannya setelah lima tahun terakhir hingga 2017. Misalnya, sehubungan dengan kualivikasi Ulama Madzhab yang memang lebih dekat dengan Nabi Muhammad yang hanya berjarak dari Sahabat dan Tabi’in. Teori Ulama Madzhab dalam memahami hadis Nabi Muhammad ini, yang juga banyak menjadi bahan pengembangan Ulama Hadis dari Imam Hadis.

Imam Hadis sendiri, seperti yang dikutip Imam Bukhari dan Imam Muslim mengakui keunggulan mereka yang lebih memiliki jarak terdekat dengan Nabi Muhammad. Nabi bersabda bersabda: Khairunnas Qarni Tsumma Al Ladzi Yalunahum Tsumma Al Ladzi Yalunahum. Artinya, sebaik-baik manusia adalah pada kurunku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).”[HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 ].

Keunggulan Imam Mazhab seperti Imam Malik dapat melihat langsung cara sholat puluhan ribu putra putri sahabat Nabi di Madinah. Mereka ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Karenanya, Imam Bukhari dan Imam Muslim bermazhab kepada mazhab Imam Syafi’ie.

Selain pesan terkait dengan sumber keilmuan tersebut di atas, Kiai Nafi juga berpesan terkait dengan kehidupan berkeluarga. Dalam kehidupan berkeluarga, penulis mencatat dua pesan penting: pertama, sebelum akad berlangsung suami perlu meminta kerelaan dari Istri sewaktu suami mengambil hak istri yang sudah diberikan suami kepada Istri. Kedua, selama proses membangun bangunan rumah tangga, kedua pasangan perlu membentuk sikap berikut ini: sabar, sadar diri nak hakikate wong lanang iku seng noto wong wedok, nak ndelalahe ono perselisihan/tukaran, ojo ngasik anak2 mu weruh, perbanyak sedekah atas nama anak anak, suami sewaktu menyentuh Istri yang pertama disentuh adalah keningnya bersamaan dengan berdoa kepada Allah.

Adapun terkait dengan membangun hubungan dengan manusia dan kepentingannya, supaya tidak terjadi konflik perpecahan makin seru dan menjadi jadi, Kiai Nafi memberikan sebuah konsep berikut:

Jika setiap orang berbeda pendapat biar tidak menjadi jadi, maka perlu mengikuti cara ulama terdahulu. Dulu beliau beliau kalau berbeda pendapat tidak mencari bolo (pengikut), ditandangi (dihadapi) sendiri dan tidak mencari pengikut apalagi dengan cara cara memfitnah. Dalam konteks ini, Kiai Nafi sering mencontohkan Imam Madzhab dan para Kiai yang juga pernah mengalami berbeda pendapat, namun beliau beliau tetap saling menghormati.

Oleh karena itu, Kiai Nafi selalu mengingatkan berulang ulang, agar para santri tidak melakukan sesuatu dengan nafsu al amarah, meskipun dengan perbuatan yang dibenarkan dan dianggap baik. Salah satu contoh sikap amarah bissu’, adalah bersikap dengan cara-cara radikal, baik melalui ucapan maupun tindakan. Cara radikal berpotensi melahirkan sikap subjektif dan mengancam pihak yang berbeda, baik dalam konteks beragama, berbangsa, dan berbudaya.

Sikap seperti ini akan mudah menimbulkan kehancuran dan mengabaikan keutamaan hidup. Bahaya mereka yang mengedepankan nafs al amarah, adalah akan mengedepankan prinsip kebenaran subjektif tanpa mempertimbangkan hak yang lain. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiuun, kini Kiaiku telah memenuhi panggilan-Nya.

Rembang, 16 2 2017
Penulis: Ubaidillah Achmad, Penulis buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Dosen UIN Walisongo Semarang, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang,

LEAVE A REPLY