REKOMENDASI LASEM MENUJU KOTA PUSAKA
Berdasarkan pola catur pathus yaitu pusat pengembangan Kota berupa
Alun-Alun Lasem

Masukan Sarasehan Permuseuman dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Jawa Tengah, 23-24 Maret 2017
Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum yang telah menginisiasi Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) berorientasi pada pelestarian pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana. Inisasi ini dilakukan sebagai upaya mewujudkan kota pusaka Lasem yang lestari, berkarakter serta menjadi bagian dari kota pusaka dunia yang berkelanjutan.

Bersama ini rekomendasi yang bersifat membangun, diharapkan menjadi masukan RAKP yang memungkinkan Pemkab melakukan intervensi mengarahkan pengembangan kota pusaka secara komprehensif. Salah satu cara memahami kompleksitas kota dengan cara meninjau secara sepintas melalui pandangan orang-orang dari bidang-bidang yang berlainan di masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan perencanaan kota pusaka, maupun yang tidak memiliki pengaruh tidak langsung pada kegiatan tersebut.

Jorge E.Hardoy menyebutkan kriteria kota antara lain memiliki fungsi minimum meliputi sebuah pasar, pusat administratif/ pemerintahan, pusat keagamaan atau pusat aktifitas intlektual, dll. Sebagai gambaran kota pusaka lasem nanti.

Kriteria lain kota sebagai pusat penyebaran, memiliki falsafah hidup kota pusaka. Memiliki ciri yang mesti dikelola secara harmoni heterogenitas dan perbedaan yang bersifat hierarkis pada masyarakat. Tugas RAKP menyusun mozaik kota pusaka lasem tersebut terdiri dari unsur-unsur sub budaya Jawa, China, Arab, India dan Belanda yang bersifat plural.

Menurut Amos Rapoport, perumusan kota yang agak luas ini telah menuntun ke arah argumentasi yang lebih jauh daripada sekedar definisi klasik yang hanya cocok dengan kota modern di Eropa, tidak sesuai dengan perkampungan besar di China dan Jawa yang sama dengan perkampungan di Mesir pada masa lampau, di Peru pada masa Pra Chimu, atau di kota kuno Yunani masa pra-klasiks.Ia merumuskan definisi baru yang dapat diterapkan pada pemukiman kota dimana saja, termasuk kota pusaka sbb: Sebuah pemukiman dapat dirumuskan sebagai sebuah kota bukan dari segi ciri-ciri morfologis tertentu melainkan dari segi suatu fungsi khusus dalam menyusun kota dan menciptakan ruang-ruang efektif melalui pengorganisasian daerah pedalaman secara hierarki.

Artinya wujud perkotaan dapat berbeda antara satu kota dengan kota lainnya, namun beberapa prinsip dan elemen perkotaan tetap dapat diamati dimana pun terikat dalam susunannya. Menekankan pentingnya memperhatikan penyusunan kawasan kota pusaka secara fisik sesuai dengan tempat dan konteksnya, karena hubungannya erat dengan penyusunan kehidupan yang berbudaya di perkotaan.

Hal ini memang tantangan yang besar bagi masyarakat, masing-masing penduduknya, dan perencana untuk menciptakan kawasan kota pusaka yang menggunakan elemen-elemen arsitektur perkotaan sesuai dengan tempatnya. Dalam sejarah kota sudah dibuktikan tiap budaya mampu membentuk kota serta menyusun polanya dengan cara yang tepat dan bijaksana sesuai prinsip universal yang diterapkan secara kontekstual, walaupun rupa bentuk masing-masing sering sangat berbeda dengan yang lain.

Dari aspek fisik (kawasan terbangun) pun Branch menguraikan unsur yang mempengaruhi kota termasuk juga ruang terbuka berupa taman,tempat bermain/rekreasi (alun-alun), bahkan juga penggunaan tanah tertentu yang terbuka ke langit seperti makam dan tanah pertanian, dan tentu saja lapangan parkir bis. Branch juga memasukkan pentingnya vegetasi yang tumbuh di seluruh bagian kota sebagai paru-paru kota, resapan dan mengurangi erosi tanah. Fisik kota juga menuntut kualitas estetika, indikatornya kebersihan dan tidak terlihatnya papan reklame yang terlalu besar yang mengganggu pemandangan kota dan ruang publik.

Setiap aspek kota dipengaruhi oleh besaran jumlah penduduknya. Dari aspek sosial, komposisi penduduk memperhitungkan kegiatan dan pelayanan kota tertentu seperti perguruan tinggi, pesantren dan rumah ibadah sesuai kebutuhan/ aspirasi warganya. Dari 14 jenis fasilitas kota sebagaimana Kriteria BPS. Juga memperhitungkan penduduk yang berpindah kemungkinan berubah fungsinya perumahan, dipindahtangankan karena dijual menjadi kosong tidak berpenghuni, dibongkar, atau lainnya.

Kota secara sosial dipandang dari sudut ke ruangan, biasanya terdapat sederetan bangunan tidak terawat yang merupakan tempat tinggal sebagian besar penduduk yang tidak mampu, berpenghasilan rendah, golongan usia lanjut, dan kelompok yang tergolong marginal. Agar menjadi rekomendasi RAKP untuk juga diperhatikan perawatan bangunannya.

Nomenklatur Nama Kawasan
Kawasan Pecinan dan Kawasan Masjid Jami Lasem sebagai prioritas merupakan satu Desa Karangturisebaiknya dilebur namanya menjadi Kawasan Multikultur Mozaik Lasem. Sehingga nama kawasan lainnya di Kab.Rembang dibagi berdasarkan kecamatan seperti Kec.Rembang (Perahu Punjul Harjo), Kragan (Situs Terjan dan Plawangan), Bulu (Makam Kartini, dg penyangga Museum Kartini). Jadi Lasem tidak boleh dipecah lagi berdasarkan perbedaan etnis, berpotensi menimbulkan sentimen SARA, tdk kondusif/ produktif bagi pembangunan Lasem, mengingkari sejarah, membuat sekat/ dinding sosial.Maka namanya diabadikan dalam nomenklatur menjadi Kota Pusaka Lasem. Membiarkan masyarakat berimajinasi sendiri dan menjustifikasi tentang Lasem, akan memperkaya dan bersaing secara positif, kreatif dan dinamis. Sekaligus membangun kesadaran sejarah tentang Lasem secara utuh.

Pendekatan morfologi kota yang sempit secara umum memfokuskan perhatian pada bentuk-bentuk fisikal kawasan perkotaan yang tercermin dari jenis blok-blok bangunan dll sebagai indikator morfologi kota.Berbeda lagi pendekatan ekonomi, system kegiatan dan lainnya.Namun pendekatan kota pusaka yang harus dipakai dalam menentukan kebijakan termasuk penilaian kawasan prioritas dan nama kawasan.

Kota Pusaka dalam konteks penataan ruang merupakan rumusan dan langkah strategi penataan ruang kota dalam sinergi kegiatan pelestarian yang tepat. Tidak hanya melibatkan kebijakan/keputusan dan berbagai bentuk advokasi maupun mitigasi terkini, namun penting mempertimbangkan kota dalam peradabannya di masa lampau.Salah satunya adalah dengan mempelajari tipologi perkembangan sebuah kota, yang tentunya akan memberikan gambaran tentang pengaruh-pengaruh bentuk tata ruang kota, perbedaan-perbedaannya serta menemukenali kearifan lokal yang bisa diterapkan di masa kini. Kota Pusaka adalah kota yang memiliki kekentalan sejarah yang besar yang terwujud dan berisikan keragaman pusaka alam, budaya baik ragawi dan tak ragawi, serta saujana (Adishakti, 2008).

SIGNIFIKANSI DESKRIPSI NILAI SEJARAH
Pusat Kadipaten di masa lampau merupakan tempat pemusatan hampir seluruh aspek kehidupan kota baik tata ruang, arsitektur dan aktivitas masyarakatnya. Dalam hal ini pusat kadipaten berarti sebuah wilayah kota yang melingkupi keraton serta kompleksnya yang berada di dalam tembok benteng soasial yang mengelilinginya.

Dimensi ruang kota sudah terbentuk di masa tersebut dengan pola catur pathus yaitu pusat kota berupa alun-alun dengan bagian sebelah timur adalah lapangan, sebelah barat adalah tempat sembahyang, sebelah utara adalah keraton, dan sebelah selatan adalah kompleks pemukiman. Salah satu instrumen yang kuat dalam sejarah perkotaaan adalah pengaturan teritorial, ruang dan bangunan berdasarkan konsepsi kosmografis serta kaidah penataannya.

Merekomendasikan perluasan lapangan alun-alun lasem (tempat terbuka/ publik), adapun perluasan pasar ke arah vertikal.

Salah satu bentuk penanganan pengelolaan Kota Pusaka adalah dengan pelaksanaan revitalisasi kawasan-kawasan pusaka yang berada di kota tersebut. Revitalisasi kawasan pusaka adalah upaya mengembalikan dan meningkatan vitalitas kawasan yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.Walau seringkali revitalisasi masih diartikan dengan tidak tepat sebagai memperindah fisik kawasan semata, tanpa memikirkan pemanfaatan baik dari segi sosial, budaya dan ekonomi.

Kawasan Kadipaten Lasem terdiri dari alun-alun, Masjid Jami Lasem, pemukiman Kauman dan pecinan Karangturi, serta rumah-rumah Tejokusumo I, Tejokusumo III, Widyaningrat, dan Nyai Ageng Maloka di Soditan.

Kawasan pusaka adalah suatu daerah yang memiliki beberapa objek pusaka, baik itu berupa bentangan alam, benda-benda, aktifitas lainnya yang merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi.Secara sadar kita telah meletakkan lingkungan sekitar merupakan salah satu pusaka yang harus kita jaga dan kita lestarikan keberlangsungannya.Melalui konsep manajemen kawasan pusaka, lingkungan sekitar merupakan salah satu elemen penting yang harus dilestarikan dan dijaga keberlangsungannya.

Langkah awal untuk menunjang upaya revitalisasi adalah registrasi dan dokumentasi semua pusaka yang dimiliki sebuah kota baik alam, budaya maupun saujana, adi pusaka maupun pusaka rakyat. Berbagai sektor perlu diajak bersama-sama memahami, mengamati, mengkaji berbagai aset pusaka di daerahnya, serta mendalami potensi dan hambatan yang dihadapinya.

Skala prioritas jangka pendek penataan alun-alun, fasilitas pusat wisata agama Masjid Jami Lasem, sosialisasi Rumah Gedong di Kauman, ketebukaan pagar/pintu rumah pecinan, dan menjadikan rumah-rumah Adipati Lasem menjadi ruang publik dan lestari keasliannya.

Di Alun-alun Lasem dibangun Monumen Sumpah Prasetya Rakyat Lasem 1750 M, Prasasti RP Margono, Prasasti Kyai Ali Baidhowi (Referensi :Babad Lasem)

Penulis :Abdullah Hamid
SEBAGAI REVIEW RAKP/ PENATAAN KAWASAN PUSAKA KAB. REMBANG
Institusi:Padepokan Sambua Lasem
Anggota Tim Teknis RAKP
HP 089617675345

LEAVE A REPLY