Asal usul Mbah Jejeruk. Mbah Jejeruk atau Sultan Mahmud merupakan keturunan Sunan Giri. Beliau menjadi Raja di Minangkabau kemudian menanggalkan jabatan rajanya digantikan adiknya karena hijrah ke Lasem ingin menuntut ilmu kepada Sunan Bonang. Pengakuan asal usul Mbah Jejeruk juga datang dari Bapak Hari Ichlas Raja Minang Raya Sekjen Forum Silaturrahmi Keraton se Nusantara, mengatakan: berdasarkan penelitian ke berbagai daerah yang ditengarai makam Sultan Mahmud nenek moyangnya, ternyata yang paling valid dan dapat dipastikan yang berlokasi di Desa Bonang Lasem, dikenal dengan nama Mbah Jejeruk. Demikian waktu memberi penjelasan bersama pejabat Pemprov Sumbar, Peneliti LIPI dan Pembina Gebu (Gerakan Seribu) Minang Bapak Ir. H. Azwar Anas mantan Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat dan Tokoh ICMI, Pemangku Desa Adat Sijunjung Sumatera Barat serta KH.M.Zaim Ahmad Ma’shoem Lasem. Bahkan Gus Zaim yang akrab disapa, setelah ziarah bersama ke Mbah Jejeruk Bonang Lasem kemudian diajak ziarah ke pemakaman keluarga Mbah Jejeruk di. Desa Sumpur Kudus Sumbar. Antara lain terdapat makam Sultan Ibadat., satu nasab dengan Tuanku Imam Bonjol. Termasuk keturunannya, Buya Syafii Ma’arif. Di Desa bersejarah itu terdapat Monumen Perjuangan PDRI (Pemerintah Darurat RI).

Yang menarik menurut Kyai Agus Mustofa ahli nasab kakak kandung Gus Zaim dan Ustadz Luthfi putera Kyai Wahid Yayasan Sunan Bonang, bahwa Mbah Jejeruk punya putera Sunan Senongko. Masyarakat setempat sampai sekarang juga kuat meyakini. disebut namanya dalam tahlil oleh keluarganya dan warga rutin tiap tahun mengadakan haul dan pengajian umum. Sehingga silsilahnya relative lebih runtut dan tak lupa, berikut kuburnya pun terawat/ terpelihara..
Bukti hidup 2 clan besar di Lasem yaitu Mbah Jejeruk dan Mbah Sambu keturunannya masih hidup dan tersebar luas di Lasem dan daerah lain dari generasi sekarang, Jalur nasabnya yang panjang dicatat, tertulis dan tersimpan rapi turun-temurun, rutin mengadakan pertemuan keluarga atau halal bi halal, dan tiap malam Jum’at biasanya dibacakan, didoakan tawassul , selalu disebut namanya dalam tahlil.. Tradisi keagamaan itu salahsatu yang membuat silsilahnya terjaga dan runtut tak lupa. hilang ditelan zaman. Bebeberapa keluarga besar keturunan/ bani Mbah Jejeruk masih hidup dan eksis adalah keluarga Mbah Maksum PP Al-Hidayat. Mbah Masduqi PP Al-Islah, Mbah Kholil PP An-Nur, Mbah Sihah, Mbah Masykuri, Mbah Qusaeri Bonang. Dll. Adapun keluarga keturunan Mbah Sambu masih hidup juga tersebar luas di Lasem seperti keluarga Mbah Baidlowi, Mbah Umar, Mbah Nuriyyah, Kyai Fathurrahman Mbah Jumali. Dan di daerah lain seperti keluarga Bani Shiddiq Jember, Mbah Chasbullah Tambakberas, Nyai Hasyim Asy’ari Tebuireng, Kyai Hamid Pasuruan dll. Antara 2 clan besar tesebut di Lasem banyak yang menjalin hubungan pernikahan. Keturunannya di masyarakat mengakar, sampai sekarang mudah ditemui, dapat menceritakan jaringan keluarganya yang menambah kehangatan silaturrahmi, mendengar kisah hikmah leluhur yang patut diteladani. Tidak sedikit sampai keturunannya sekarang kini, menjadi tokoh masyarakat yang disegani.

Asal Usul Temenggung Wilwatika. Semua orang di Indonesia , apalagi orang Islam, kenal dengan nama Sunan Kalijaga yang kecilnya bernama Raden Mas Syahid ini. Dalam Buku 700 tahun Sejarah Tuban yang diterbitkan oleh Pemkab dikatakan dia adalah putera Raden Sahur yang beragama Islam atau Tumenggung Wilatikta, pernah menjadi Adipati Tuban. Silsilah Raden Sahur ke atas adalah putera Ario Tejo III ((Sunan Bejagung?)), putera Ario Tejo II , putera Ario Tejo I, putera Ronggolawe, putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja, putera Adipati Ponorogo. Itulah asal usul Sunan Kalijaga yang banyak ditulis dan diyakini orang, yang sebenamya merupakan versi Jawa. (Imron Abu Ammar, 1992). Masa mudanya lama di Lasem berguru dengan Sunan Bonang. Versi Pembabar Pustaka Semarang nama lainnya Santi Kusuma, memiliki saudara Santi Puspa dan Santiyogo atau Sayid Abubakar atau Sunan Kajoran. Punya ayah Santi Badra (saudara Wilwatika/ Wirabajra) dan ibu putri dari Sunan Bejagung, Punya kakek Badra Nala dan Nenek Putri Campa/Bi Nang Ti

Misteri Putri Campa.. Ada banyak versi, konon murid Sunan Bonang dan Ibu Raden Fatah. KH Abdul Aziz putera Ki Joyo Tirto merawat dan membangun fasilitas makamnya.. Mbah Abdul Aziz adalah ulama besar teman Kyai Saleh Darat, pada waktu meninggal temannya itu menangis bisa mengetahui padahal jarak Lasem Semarang jauh tidak ada alat komunikasi. Beliau besan KH Hasyim Asy’ari Tebuireng. Kemampuannya mengcandra hal ghaib, artinya mengetahui kemuliaan sosok Putri Campa.

Legenda Bajak Ngilo. Diceritakan kesaktian Sunan Bonang mengalahkan Bajak Ngilo. Kapal bajak laut itu hancur terkeping, terpencar di kaki gunung Bugel dan Rembang, diperkirakan dulu lautan. Sebagai symbol kebenaran menang atas kebatilan. Jejak situs di Bonang :
1. Kitab Suluk Sunan Bonang. Tersimpan di Perpustakaan Belanda dan Perpustakaan Nasional Jakarta. Mengajarkan suluk kepada muridnya bernama Wujil di desa Bonang Lasem.
2. Makam Sunan Bonang tanpa batu nisan. Di dekatnya ada batu lumbung, jamu gajah, nisan alip, dll.
3. Masjid Sunan Bonang. Pernah ditemukan tempayan isi tengkorak.
4. Pasujudan Bonang. Dalam suatu Hadits Nabi bersabda bahwa Atsar (petilasan, pasujudan) orang alim lebih utama daripada kuburannya (afdlalu min qabrihi).
5. Satu tempat kawasan memiliki beberapa nama depan kuno se….. :Selaban (ditemukan arca emas).
6. Situs batu dekat Jejeruk.
7. Bende Becak. Berupa perangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat . Lebih –lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan, seperti bende becak peninggalannya di Desa Bonang Lasem, mungkin yang pertama dibuat dalam sejarah gamelan. Sunan Bonang juga menambahkan instrumen baru pada gamelan. Yaitu bonang (diambil dari gelarnya sebagai wali yang membuka pesantren pertama di Desa Bonang).

Bonang adalah alat musik dari Campa, yang dibawa dari Campa sebagai hadiah perkawinan Prabu Brawijaya dengan Putri Campa, yang juga saudara sepupu Sunan Bonang. Instrumen lain yang ditambahkan pada gamelan ialah rebab, alat musik Arab yang memberi suasana syahdu dan harus apabila dibunyikan. Rebab, yang tidak ada pada gamelan Bali, sangat dominan dalam gamelan Jawa, bahkan didudukkan sebagai raja instrumen.Sunan Bonang menciptakan beberapa komposisi (gending), di antaranya dicipta berdasarkan wawasan estetik sufi, yang memandang alunan bunyi musik tertentu dapat dijadikan sarana kenaikan menuju alam kerohanian. Konon, apabila didengar orang dapat menghanyutkan jiwa dan membawa suasana mistis ke alam meditasi (tafakkur). Top of FormSunan Bonang menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut).

Sunan Bonang bersama Sunan Kalijaga dan lain-lain, jelas merasa bertanggung jawab bagi perubahan arah estetika Gamelan. Musik yang semula bercorak Hindu kemudian ditabuh berdasarkan wawasan estetik Sufi.Tidak mengherankan gamelan Jawa menjadi sangat kontemplatif dan meditatif, berbeda dengan gamelan Bali yang merupakan warisan musik Hindu. Warna sufistik gamelan Jawa ini lalu berpengaruh pada gamelan Sunda…Miniaturnya dari bahan kuningan tampak ditempel di tembok Gapura Desa Karangturi Lasem.

Sayang, berbeda sekali dengan Mbah Srimpet (Tejokusumo I) dan Widyaningrat atau Oey Ing Kiat tokoh yang juga disebut di Babad Lasem yang masih ada sekarang hanya versi 1985 yang digubah oleh Pembabar Semarang keturunannya sekarang tidak ada yang bisa ditemui satu pun, mungkin tidak ada? Penting untuk mendapatkan saksi hidup, ada keturunnnya langsung, dan menggali informasi dari sumber langsung keturunannya yang biasanya menyimpan silsilah aseli dan menjaganya, disimpan turun temurun. (Penulis : Abdullah Hamid)

LEAVE A REPLY