Bupati Rembang H.Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Bayu Andriyanto jagong bareng di acara Jagong Gayeng Rembang dengan masyarakat di eks alun-alun Lasem, Minggu (7/5/2017) pagi. Banyak hal yang didiskusikan dalam dialog antara Kepala Daerah dengan rakyatnya itu mengangkat tema Asri Kotaku Tentrem Atiku.

Dari forum tersebut ternyata banyak warga yang hadir menginginkan adanya alun-alun lagi di Lasem, dan untuk merealisasikannya Pemkab siap untuk mewujudkannya dengan pendekatan persuasif. Para pedagang akan dicarikan solusi yang terbaik agar bisa tetap berdagang.

Terkait fungsi trotoar yang justru dipakai untuk berjualan Pedagang Kaki Lima (PKL), pemkab juga akan menertibkan. Trotoar mulai dari terminal sampai dengan Ngemplak akan ditata lebih baik dan diberi taman – taman agar terlihat lebih asri dan indah.

“Sesuai dengan undang-undang memang aturannya 30 persen yang namanya kota harus dipakai untuk ruang terbuka hijau dan di Lasem ini kita kesulitan. Nah, yang ada ini kita optimalkan, nanti kita tata tahun 2018, warung-warung ini kita buatkan tenda seragam dan kemungkinan kita tempatkan di sepanjang jalan Masjid ke selatan atau di kawasan terminal,”ungkapnya.

Bupati berharap masyarakat juga ikut mendukung dan berkontribusi dalam mewujudkan ketertiban dan kebersihan di Lasem, karena Pemkab tidak bisa berjalan sendiri tanpa bantuan dari masyarakat. Dirinya berharap Forkopimca terus menjalin koordinasi dengan masyarakat untuk mensukseskan ketertiban dan kebersihan.

“Setelah ini kita akan bentuk tim yang akan melakukan sosialisasi dan koordinasi untuk mencari jalan terbaik.”

Selama ini tata kota di kecamatan Lasem sangat semrawut, trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki digunakan untuk berjualan Pedagang Kaki Lima (PKL). Terkait hal itu banyak masyarakat yang mengeluh dan mendorong pemkab untuk mengambil langkah.

Najih salah satu peserta jagong gayeng berharap alun-alun agar dikembalikan seperti semula sebelum tahun 2001. Alun-alun ini merupakan satu dari empat pilar yang dibangun Adipati Tejo Kusuma atau Mbah Srimpet untuk menata kota Lasem pada kisaran tahun 1588 lalu.

Perwakilan dari pedagang di eks alun-alun Lasem, Durotun Fatimah mengaku tidak keberatan jika alun-alun Lasem dikembalikan lagi fungsinya. Yang terpenting ada tempat lain yang bisa digunakan mereka untuk berjualan lagi.

Sebelum kegiatan Jagong Gayeng dimulai Wabup bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) bersepeda meninjau pelaksanaan kerja bhakti di sepanjang jalan pantura Lasem dan jalan jatirogo (masjid Jami’ sampai dengan jembatan Kumendung). Kerja bakti dilakukan dari berbagai unsur, mulai dari masyarakat, pelajar dan unsur swasta.

LEAVE A REPLY