Makam

MELURUSKAN KESIMPANGSIURAN PANEMBAHAN RAMA
ULAMA PEJUANG DARI KRATON LASEM
Oleh : Abdullah Hamid Padepokan Sambua

Panembahan Rama adalah kakak Adipati Lasem, Tejakusuma III. Semasa hidupnya sangat gigih melawan penjajah Kompeni Belanda. Pada tahun 1679 Masehi, Panembahan Rama ditangkap kompeni, kemudian dihukum pancung di Alun Alun Lasem desa Tulis kala itu. Oleh sejumlah pengikutnya, jenazah pejuang Panembahan Rama akhirnya dimakamkan di perbukitan desa Sendangcoyo.
Panembahan Rama Tokoh yang dinilai berjasa besar bagi masyarakat Lasem bahkan perang Jawa, bersama Trunojoyo, menantunya.. Di Sendangcoyo, RM Wingit juga dikenal dengan nama Guling Wesi, sedangkan dalam sejarah nasional dengan nama Panembahan Rama karena dinilai oleh kawula Mataram jujur dan bijaksana serta masa mudanya di Lasem ikut nyantri atau mengaji. Juga bernama Pangeran Kajoran karena pulang ke Lasem babat alas Kajor, alas Desa Kajar sekarang.
RM Wingit kakak sulung Adipati Tejokusuma III memimpin perang besar-besaran di Kadipaten Lasem melawan Belanda yang puncaknya pada tahun 1679 M yang saat itu wilayahnya membujur mencakup Sedayu Gresik sampai Pati. Pergerakannya sampai alas argasoka yang saat itu hanya hutan belantara sekarang masuk hutan argo di Desa Criwik menimbulkan terbentuknya komunitas warga kampong baru di sekitarnya yaitu Dukuh Mentoro kemudian menjadi lokasi Pemakaman Islam RM Wingit hingga sekarang sebagai pusat kota (krajan) Desa Sendang Coyo, dulu diambil dari nama jabatan RM Wingit yang pernah menjadi Senopoati Mataram. Di kawasan hutan belantara itu sekarang terbentuk masyarakat / pemukiman, lebih mengenal sosok Panembahan Rama dengan nama Guling Wesi karena kesaktiannya.
Pengorbanannya untuk bangsa sangat besar tidak mau tunduk menyerah meski harus mati dipancung Belanda. Kata-katanya di Babad Lasem sangat terkenal yaitu: : “Lila sukung nyawa kanggo nglabuhi bumi Jawa aja nganti dikuwasani Walanda”. Mengingatkan kita dengan kepahlawanan Omar Mochtar pahlawan Libia yang legendaris melawan penjajah Prancis yang akhir hidupnya dramatis digantung, hampir sama,.

Masyarakat membangun Makam RM Wiangit secara swadaya. Atas petunjuk isyarat ghaib yang ditrima Mbah Jupri dengan mengarahkan bentuk bangunannya rumah makamnya.
Perjalanan Napak Tilas. Menuju makamnya, dari makam Adipati Tejokusuma I di Komplek Masjid Jami Lasem kemudian menyusuri Desa Kajar, Tulis Selopuro, Megamalang, sampai pada punthuk seklothok Sendangcoyo (makam RM Wingit) kawasan Alas Argasoka..

HARAPAN
Sayang sejarah hidup pembanding yang ditulis secara lengkap tentang tokoh Panembajan Rama sampai sekarang belum ada. Pemkab Rembang, Klaten, dan Yogyakarta perlu membantu sejarawan melakukan penelitian sejarah hidupnya secara utuh dan lengkap agar masyarakat tidak mendengarnya sepotong-potong untuk dapat meneladani sisi kehidupan pahlawannya. Dan mempublikasinkannya kepada masyarakat luas yang selama ini namanya terkubur bersama raganya.

KESIMPANGSIURAN 1
Yang membingungkan Makam Panembahan Rama juga terdapat di Desa Kajoran, Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten. Panembahan Rama sendiri erat kaitannya dengan kasultanan Mataram, kasultanan Pajang, dan Kasunanan Surakarta.
Memasuki gerbang masuk, tampak sebuah bangunan tempat makam Panembahan Rama berada. Pagar dan bangunan tersebut tampak baru dan terdapat papan bertuliskan “Bangunan cagar budaya” berikut tahun pemugarannya. Namun pintu masuk menuju ke makam ditutup, mungkin tidak sembarangan orang boleh masuk dan harus meminta izin dulu kepada penjaga makam.
Nasibnya sama dengan makam di Lasem, area ini telah selesai dipugar, namun saya menyayangkan kondisinya tidak dikembalikan seperti aslinya. Entah ini mungkin disengaja atau karena minimnya dana pemugaran. Seperti halnya kawasan wisata lain di kabupaten Klaten, seharusnya pemerintah lebih tanggap dalam mengelola dan melestarikan peninggalan sejarah yang ada di daerahnya
Asal usul Panembahan Rama merupakan keturunan dari kesultanan Pajang. Raden Kajoran (Raden Kajoran Ambalik) yang disebut juga Pangeran Rama atau Panembahan Kajoran atau Kyai Kajoran merupakan seorang ulama terkemuka dari Kajoran. Keluarga Kajoran ini mempunyai pengaruh besar dan punya hubungan perkawinan dengan Keraton Mataram. Beliau juga masih keturunan dari Panembahan Senopati.
Dalam sejarahnya, Raden Kajoran menghimpun kekuatan untuk menghancurkan Sunan Amangkurat I.. Raden Kajoran dalam menghimpun kekuatan tersebut dibantu oleh Pangeran Purbaya, Adipati Anom, Trunojoyo (Menantu dari Raden Kajoran), Kraeng Galesung (Menantu dari Trunojoyo) yang juga pemimpin pelarian Makasar di Demang-Basuki serta dibantu oleh sebagian prajurit mataram yang membelot untuk mengadakan serangan ke Kraton Mataram. Dalam pemberontakan Trunojoyo, Panembahan Rama terbunuh dan jasadnya dikebumikan di kompleks makam ini.
TITIK TEMU 1

Kalau melihat posisi makam adik adik kandung Pangeran Kajoran yang dimakamkan 1677 di dalem kajoran berhadapan dengan makam Pangeran Kajoran sendiri maka bisa di pastikan bahwa makam beliau yang asli berada di dalem kajoran klaten adalah wadag nya saja setelah dikisas JA Sloot….atas perintah Amangkurat II (de Graaf). Sedangkan makamnya yang di Lasem sebagaimana diceritakan di Babad Lasem bisa jadi makam kepala beliau …karena yang di dalem kajoran badannya saja. Sedangakn de Graaf dan manuskrip Klaten tidak mengetahui kepalanya dikubur dimana.
Ada banyak pangeran menggunakan nama Kajoran. Adapun Pangeran Kajoran cucu Mbah Srimpet Adipati Lasem I atau yang dimaksud Panembahan Rama gugur setelah tertangkap dipancung VOC atas perintah Amangkurat II sekutunya, setelah diketahui basis perjuangannya di Megamalang Criwik dekat pegunungan Kajar Lasem karena pengkhianatan teman seperguron di pesantren warugunung. De Graaf dan manuskrip Klaten tidak menceritakan dimana Panembahan Rama dipancung.
Babad Lasem juga menyebutkan kakek Panembahan Rama yaitu Adipati Lasem I keturunan Bhree Lasem Majapahit adalah menantu Sultan Pajang, maka ada titik temu dengan versi Kajoran Klaten bahwa Panembahan Rama keturunan Kesultanan Pajang.
Raden Wingit Lasem memiliki peran sejarah di Mataram memang telah disebutkan juga di Babad Lasem bahwa beliau diangkat menjadi Senopati Mataram .
KESIMPANGSIURAN 2
Pada Babad Lasem menyebutkan pada tahun 1632-1679 Kadipaten Lasem diperintah oleh Raden Wigit bergelar Adipati Tejokusuma III adik kandung Raden Wingit putra Ki Ageng Giring Tara atau cucu Mbah Srimpet atau Tejokusuma I.
Babad Lasem juga menceritakan ada upaya sistematis dari kolonial merampas dan membakar Babad Carita Lasem yang dimiliki penduduk sebagai upaya pengaburan sejarah, yang tersisa yang dimiliki RM Margono putra Tejokusuma V kemudian disusun R Panji Kamzah.
Yang membingungkan dalam buku Handinoto menyebutkan sepertinya Peter Carey menyebut Lasem pada kurun yang sama 1632-1679 dipimpin oleh bupati bernama Cik Go Ing, namun tidak pernah menjelaskan sepak terjangnya, sedangkan Babad Lasem detail menjelaskan peranan Tejokusumo III.
TITIK TEMU 2
Dualisme kepemimpinan Lasem oleh Cik (Cik Go Ing) dan Git (Raden Wigit) mungkin orang yang sama yaitu Raden Wigit, dengan alasan sbb :
1. Seperti disebutkan di atas selama ratusan tahun kolonial berusaha mengaburkan sejarah perjuangan Lasem yang merugikan kepentingannya.
2. Ada kebiasaan kronik Cina menyebut nama Jawa dengan dialek Cina, seperti dalam menyebut nama Raden Fatah, Sunan Bonang, Kertabhumi, RM Margono dan mungkin saja R. Wigit
3. Babad Lasem menyebut memang leluhur R Wigit ada sedikit unsur Cinanya yaitu melalui pernikahan Pangeran Badranala (cicit Dwi Indu) dengan Bi Nang Ti (putri Campa).
4. Peter Carey mengakui pada masa itu ada ikatan persekutuan di Lasem, Blora, Bojonegoro (Rajegwesi) dan bupati pesisir utara lainnya melalui pernikahan antara keluarga Tionghoa peranakan dengan keluarga istana penguasa Jawa.
5. Buku Sejarah Nasional menyatakan sejak 1676 Kraton Mataram dikuasai Trunojoyo dan dipindahkan ke Kediri setelah menyingkirkan Amangkurat I yang wafat saat pelarian, puncaknya pertempuran Trunujoyo melawan Belanda yang didukung kolaborator Amangkurat II tahun 1679. Jadi jelas masa itu Kesultanan Mataram vakum dan tidak punya legitimasi mengangkat Cik Go Ing sebagai Adipati Lasem terutama sejak 1676-1679 masa pemerintahannya, jika yang dimaksud orang yang berbeda, bukan Raden Wigit. Adapan Lasem masa itu jelas mandiri dan lebih berpihak pada Trunojoyo, jadi yang paling logis bupatinya adalah Raden Wigit dinasti Tejokusumo, sesuai Babad Lasem.
PENUTUP
Daripada terforsir dalam polemik wacana, terlalu sayang mengesampingkan NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN PANEMBAHAN RAMA GURU SPIRITUAL R.TRUNAJAYA, DIPANCUNG KUMPENI BELANDA DI ALUN-ALUN KADIPATEN LASEM 1679 M YANG TIDAK KALAH PENTING, endingnya mari kita nikmati kisah hidupnya yang relatif utuh di Babad Lasem peninggalan leluhur yang penuh arti (Selengkapnya di Babad Lasem baca : sambua.wordpress.com)

LEAVE A REPLY