Kepala Pusat Manajemen Media Massa dari Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Alouis Wisnuhardana saat memberikan materi pelatihan jurnalistik dan media digital di Ponpes An-Najah Gondang Sragen Jawa Tengah (19/06/2017)

SRAGEN, TABLOIDSOPHIA.COM – Pelatihan Jurnalistik dan Media Digital yang telah dilaksanakan selama tiga hari sejak Minggu-Selasa (18-20/06/2017) di Pondok Pesantren An-Najah Gondang Sragen Jawa Tengah, kali ini kedatangan pembicara luar biasa. Ia adalah Kepala Pusat Manajemen Media Sosial dari Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Alouis Wisnuhardana. Meski waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIB, ternyata tak menyurutkan semangat 25 peserta pelatihan, yang merupakan pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang pendidikan dan agama, untuk menerima ilmu baru dari Wisnu malam itu.

Media Sosial, Persekusi, Ekstremisme adalah judul sesi materi kali ini. Dalam pemaparannya, Wisnu menekankan mengenai pentingnya generasi muda untuk menangkal hoax yang sedang marak beredar dewasa ini. Beragam berita palsu yang meresahkan, ujaran-ujaran penuh kebencian dan provokasi, serta foto dan video yang dimanipulasi namun diviralkan demi kepentingan tertentu, sedang menjadi masalah serius di Indonesia.

Wisnu menyatakan, terdapat banyak kepentingan di baliknya, seperti isu-isu geopolitik, kekuatan, dan persaingan, baik dari dalam maupun luar negeri, yang mengharapkan gagalnya keberjalanan kinerja pemerintah dan ketidakstabilan negara, sehingga dapat mengambil keuntungan di tengah carut marut negeri. Lalu ia menjelaskan bagaimana menghadapi perpecahan yang tengah mengancam bangsa ini, “Tak ada pilihan yang paling baik selain menjaga pertalian hubungan. Kita hidup di atas tanah yang sama, minum dari air yang sama. Seharusnya jika ada yang tersakiti satu, yang lain ikut merasakan”.

Wisnu juga menyajikan data-data statistik yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah terjangkit adiksi terhadap handphone dan media sosial. Dari total 262 juta penduduk Indonesia, ternyata 142% memiliki handphone dan 40% aktif di media sosial, dimana mereka menghabiskan 8 jam sehari untuk bermain media sosial dan hanya bisa bertahan tanpa handphone paling lama tujuh menit. Data tersebut cukup menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sekarang sedang dikendalikan oleh handphone dan media sosial.

Padahal, apa yang tersaji di media sosial tak selalu benar dan positif. Wisnu menyebutkan setidaknya terdapat tujuh konten yang banyak beredar di Google dewasa ini, seperti parodi dan satire, kamuflase, hingga informasi yang dimanipulasi dan menyesatkan. Masyarakat harus dapat memilah dan mengidentifikasi informasi dengan bijak, untuk menghindari termakan hoax dan larut dalam kebencian. “Kebencian itu menguburkan akal sehat,” ungkapnya. Untuk mengenali hoax, ia memberikan beberapa karakteristik hoax, antara lain fear arousing (menyebabkan ketakutan), whispered propaganda (sumber tidak jelas dan mengandung propaganda), one side attacking or defending (penyerangan atau pembelaan salah satu pihak kelompok), stealing authority (mencatut nama tokoh berpengaruh atau menggunakan nama mirip media terkenal tertentu), negative labelling (pelabelan atau penjulukan negatif), band wagon (memaksa untuk menyebarkan dan memviralkan), dan pseudo science(menggunakan argumen yang sangat teknis, supaya terlihat ilmiah dan dipercaya). Jika suatu berita memiliki satu atau lebih karakteristik di atas, Wisnu mengatakan, berita tersebut patut diragukan dan dipertanyakan kebenarannya.

Pada awal sesi materi, Wisnu memaparkan penemuan besar hingga abad ke 21, pergeseran kekuasaan di Indonesia, hingga sepak terjang Presiden RI, Joko Widodo, dalam membangun negeri selama tiga tahun keberjalanan masa pemerintahannya. Bagaimana Jokowi mengalihkan subsidi BBM yang selama ini menghabiskan ratusan trilliun uang negara namun salah sasaran, menuju ke sektor-sektor lain yang kebermanfaatannya dapat dirasakan seluruh negeri seperti energi, infrastruktur, maritim, manusia, kebudayaan, pariwisata, hingga pendidikan. Berdasarkan data statistik, jika pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan stabil dan linear, Wisnu menyatakan bahwa pada 2050 mendatang, Indonesia akan menduduki peringkat GDP (gross domestic product)tertinggi ketiga di dunia, mengalahkan Amerika Serikat, Brazil, Rusia, dan negara lainnya.

Namun apa mau dikata, kenyataan tak seindah angan. Pembangunan luar biasa yang dilakukan Jokowi ternyata harus dihadapkan dengan gejolak bangsa yang akhir-akhir ini semakin tak menentu. Isu-isu SARA dan fitnah yang keras dihembuskan, kebencian dan pembenturan antar golongan, hingga seruan aksi tengah santer memenuhi timeline media sosial baik dalam bentuk tulisan artikel, foto, hingga video. Untuk mengamankan satu aksi saja, pemerintah menghabiskan dana hingga 80 milliar. Ini adalah angka yang cukup fantastis, mengingat beberapa waktu terakhir terjadi beberapa kali aksi yang menuntut pemerintah untuk melakukan pengamanan ekstra, dan tentunya menghabiskan dana yang tidak sedikit. Uang negara yang seharusnya dapat digunakan untuk kemaslahatan dan pembangunan negeri, harus dihabiskan untuk mengamankan serentetan aksi yang disulut kebencian.

Antusiasme peserta pelatihan tetap membara hingga akhir pemaparan dari Wisnu selaku pembicara. Ketika sesi tanya jawab dan diskusi dibuka, terdapat beberapa pertanyaan masuk dari peserta, yang kemudian berlanjut menjadi diskusi yang cukup seru, meskipun waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Dalam sesi diskusi, Wisnu menyatakan bahwa pemerintah telah menyadari dan mewaspadai adanya ancaman media sosial bagi para generasi muda, maka pemerintah ke depannya akan terus mendorong generasi muda untuk menjadi positif dan optimis dalam menggunakan media sosial. Kemudian ia menutup sesi materinya dengan pesan untuk para peserta, “Jangan berdoa untuk dihindarkan dari masalah yang berat, namun berdoalah agar dikuatkan untuk menghadapi masalah yang berat. Karena apapun yang tidak membuatmu mati, akan membuatmu semakin kuat. Entah masalah atau tantangan apapun. Kecuali jika kita menyerah, itu berarti kita sudah mati”.

Penulis / editor: Yasmin Shidqiyah SF / Muhammad Widad

LEAVE A REPLY