Gambar: madina.go.id

Kekerasan politik memiliki banyak variasi kedok yang digunakan, misalnya, berkedok kekuasaan, berkedok sistem permodalan, berkedok asas kajian ilmiah, berkedok kebijakan, berkedok organisasi basis masa, dan berkedok agama.

Hal ini terbaca dari model copas di berbagai sosial media yang tidak beralamat dan beridentitas, berisi: isu ras, isu penistaan, Isu tentang kebijakan presiden yang berbihak asing, isu anti NKRI atau anti nasionalisme, dan masih banyak model model isu yang memancing kebencian dan kecuriagaan antar sesama warganegara. Tanpa disadari, banyak mahasiswa dan akademisi, tokoh agama, pejabat publik, dan elit politik yang terpancing dengan provokasi ini.

Sehubungan dengan variasi kedok tersebut di atas, yang hendak penulis kaji, adalah model kekerasan politik yang berkedok agama. Politik berkedok agama ini merupakan fenomena yang sudah mengemuka lama, yang tidak boleh kita abaikan. Politik kekerasan berkedok agama ini belum terbaca pada zaman Orde Baru, karena sistem pemerintahan Orde Baru bersikap tegas menghadapi simbol simbol kekerasan meski mengatasnamakan agama.

Politik kekerasan yang bersumber dari agama komunal ini tanpa disadari telah lahir dari benih kelompok diskusi keagamaan yang diluar perspektif Islam Nusantara yang berkembang luas di kampus kampus perguruan tinggi umum. Pada era reformasi telah terpecah, ada yang masih mempertimbangkan Islam ramah lingkungan, namun ada yang mengkrucut dalam gerakan Islam radikal. Selain itu, ada yang bergabung dengan model Islam Formalis yang sekarang berkembang di partai partai politik yang berasas Islam. Karenanya, mereka ini sampai sekarang masih saling mengenal meski sudah berbeda visi gerakan.

Tulisan singkat ini, bertujuan untuk mengenali kekerasan politik berkedok agama dan menghapus kekerasan politik berkedok agama. Kedua tujuan ini penting untuk dikaji, sebab jika menunda memahami tujuan ini, maka akan menjadi persoalan yang riskan bagi sistem kebangsaan dan kewarganegaraan.

Kisah Gerakan Komunal di Kampus

Sebagai umat Islam, saya senang melihat saudara saudara muslim dapat menjalankan ajaran agama Islam bebas di negeri ini. Secara manusiawi, saya juga senang tradisi keberagamaan yang membentuk corak pemikiran dan sikap keberagamaan saya, menjadi pilihan masyarakat muslim di Indonesia, yaitu tradisi keberagamaan Islam Nusantara yang dikuatkan oleh ORMAS NU.

Secara manusiawi, perasaan senang ini tidak bisa saya tutup tutupi, karena secara historis Islam dan NU, telah mampu menjembatani proses hidup saya: bagaimana mengenal nilai nilai keutamaan yang membentuk visi hidup di tengah gesekan dan pergolakan hidup seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karenanya, bersamaan banyak teori dan perspektif akademik, tetap saja membuat saya tidak melupakan para Kiai di lingkungan pesantren yang sabar mendampingi saya. Semoga amal mereka diterima di sisi Allah Jalla Jalaluhu.

Sehubungan dengan rasa senang dan penuh kegembiraan memiliki latar belakang hidup dalam suasana model tradisi keberagamaan Islam Nusantara, tiba tiba suasana pemandangan keberagamaan menjadi berubah ketika memasuki semester 5 program S1.

Pemandangan yang saya maksudkan, adalah sebuah model keberagamaan yang membuat jantung saya selalu berdebar dan terkejut. Alasannya, mengapa Islam yang saya pahami dari pesantren berbeda dengan model keberagamaan Islam di kampus kampus negeri dan di beberapa kelompok muslim perkotaan. Misalnya, model pemahaman yang secara simbolik mengatasnamakan kelompok aktivis muslim, namun model kajiannya lebih menekankan pada pengulangan kekerasan kata yang ditujukan kepada mereka yang berbeda paham dengan yang diyankininya.

Instrumen yang menjadi dasar keabsahan melakukan konflik dan kekerasan, adalah melalui kata kata yang bernada mengkafirkan, menolak kebaikan yang dianggap tidak terdapat dalam hadis, melemahkan Imam dan para pemikir besar Islam dalam perkembangan pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dan filsafat, mereka ini juga anti terhadap hari besar Islam, dan menolak adat istiadat jawa yang memuat nilai luhur dan kearifan lokal.

Filosofi beragama bagi para pengikut Islam Radikal, adalah menjadikan agama bukan sebagai jalan kebenaran, namun agama hanya menjadi simbol dan merek gerakan yang mereka cita citakan. Islam radikal belajar tentang peinsip Islam, namum hanya mengambil bagian prinsip ajaran yang dapat mengkosongkan otak dari pengaruh pihak luar agama. Misalnya, menguatkan mental tentang ketergantungan kepada Allah dan kepada janji kepada pemimpin. Target cuci otak ini, supaya tidak memiliki kepercayaan lagi kepada pihak lain. Otak peserta ini, hanya ada harapan surga dan syahid membela komunalisme dengan meminjam agama Allah.

Sesudah otak tercuci bersih, agama komunal akan menjadikan Allah sebagai alat pengendali para pengikutnya yang dikendalikan oleh figur central dalam gerakan agama komunal. Figur central ini pun tidak segan segan akan memulai membius jiwa para peserta yang sudah dikendalikan nafs dan imajinasi yang dilipat dalam doktrinasi dan prinsip ideologi kekerasan atas nama syahid.

Metode cuci otak ini merujuk pada metode fasisme politik yang tidak segan segan menunjukkan yang seolah olah berjalan pada kehendak Allah dan makna ketauhidan. Padahal hal ini, hanya langkah para pemimpin agama komunal yang berniyat membajak agama yang benar dan berpengaruh bagi dunia. Karenanya, sama seperti kaum fasis, para figur central dalam ideologi kekerasan, juga merupakan sosok yang selalu menyebut Allah dan mendasarkan ideologi kekerasan dengan harapan surga Allah.

Sama namun berbeda dengan masa jahiliyah. Artinya, jika pada masa jahiliyah, mengaku tidak mau meninggalkan agama para leluhur mereka yang sudah turun temurun. Sedangkan agama komunal pada abad modern ini, hanya percaya kepada figur ketokohan dalam kelompoknya yang dianggap seoalah olah paling suci dan menjadi imam yang akan membimbing kesyahidan.

Baik pada masa jahiliyah maupun masa komunalisme sekarang ini, keduanya mengaku ada penguasa langit dan bumi, namun yang mereka pahami, adalah penguasa yang hanya mengizinkan kepercayaan yang mereka yakini secara komunal, bukan kebenaran yang bersifat universal yang bersumber dari hakikat sumber kebenaran.

Yang Berubah Dan Yang Tetap

Bermula dari merasa terasing dalam gerakan komunal dari pihak pihak yang lain, lalu membangun kebersamaan dalam komunitas yang sedang membentuk ikatan dan janji yang disucikan berasama, maka menjadi sebuah kekuatan yang membentuk ideologi baru. Gerakan ini banyak mengambil merek agama yang suci yang seolah olah hanya bisa digerakkan oleh para pengikut agama komunal.

Dengan demikian, pengikut ini merasakan ada pembenaran menyerukan jihad suci dan merasakan sudah tidak berdosa lagi membasemi musuh musuh yang kotor dan akan mengotori surga agama komunal.

Pada zaman orde baru, mereka ini melakukan gerakan bawah tanah, namun sekarang ini, benar benar telah keluar secara publik. Misalnya, mereka bersikap mendahului aparat dan memberikan ancaman dan menekan atas nama Islam. Dalam konteks ini, para pengikut agama komunal, ingin bersikap mendahului kewenangan aparat. Misalnya, melakukan intervensi kepada pihak pihak yang lemah dan dianggap klas menoritas.

Jika diamati, mereka yang melakukan kekerasan verbal di tengah masyarakat, adalah yang pernah aktif pada komunitas agama komunal. Meskipun, tidak bisa digeneralisir, namun pengaruh gerakan halakah di kampus umum negeri memilikk pengaruh yang besar terhadap gerakan sebagian kecil umat Islam yang memilih pada jalan komunalisme.

Contoh aktual, adanya Forum Umat Islam yang memaksa kepada Rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, agar pihak kampus menurunkan baliho dan promosi dengan protret mahasiswi berjilbab. Jika permintaan paksa ini tidak segera dipenuhi, maka FUI akan melanjutkan upaya penurunan baliho iklan universitas yang menggunakan model perempuan berjilbab.

Sebagaimana diakui rektor UKDW, Henry Feriadi, dalam jumpa pers di kampus UKDW, Kamis (8/12/2016), adanya baliho ini, karena menyampaikan realitas keberadaan UKDW yang tidak hanya terdiri dari mahasiswa Kristen Duta Wacana saja, namun juga ada mahasiswa dari agama lain, seperti Islam. Jika mengacu pada tahun 2015 lalu, maka kampus UKDW sudah memasang iklan baliho dengan memuat mahasiswi berjilbab.

Fenomena kemunculan FUI yang menggugat pemasangan baliho, tentu saja sangat mengejutkan, sebab peran FUI yang sering kita dengar sebagai ormas yang mencegah kemungkaran dan pada saat hari hari penting Islam, namun sekarang sudah berani memperluas kawasan konfrontatifnya, yaitu kawasan perguruan tinggi yang kita kenal aman dari komunalisme, justru telah menjadi sarang komunalisme.

Islam, Bukan Agama Komunal

Ketauhidan dan kemanusiaan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Kemanusiaan tanpa ketuhanan akan menjadi radikal kiri. Sedangkan, ketuhanan tanpa kemanusiaan akan menjadi radikal kanan.

Agama komunal, adalah agama yang didasarkan pada kepentingan kelompok dan janji yang disucikan para pengikutnya. Para pengikut agama komunal, telah mengabaikan prinsip ketauhidan dan kemanusiaan.

Strategi agama komunal, akan mengambil legitimasi dari agama yang diyakinininya. Karenanya, para pengikut agama komunal, rata rata dari pengikut agama agama yang berpengaruh di dunia ini. Namun demikian, para pengikut agama komunal lebih memilih jalan komunalisme dari pada nilai keutamaan dan kebaikan agama yang sebenarnya.

Yang menjadi persoalan, mengapa ajaran agama menjadi berputar putar di tangan para pengikut agama komunal atau komunalisme? Karena ditangan para komunalis, makna agama tidak lagi dapat dipahami sebagai jalan yang tidak berbelok arau agama tidak dipahami lagi sebagai jalan yang lurus sesuai dengan garis prinsip kebenaran. Karenanya, Agama Islam yang mengajarkan toleransi pun jika sudah di tangan komunalis, maka akan dibelokkan menjadi agama kekerasan dan menodai agama Islam.

Berbeda dengan komunalisme, Islam bermakna memusatkan keyakinan (Iman) menjalankan proses hidup untuk bersikap teguh tunduk, pasrah dan condong (Islam) lurus ke Allah Jalla Jalaluhu, Dengan menguatkan energi keimanan dan keislaman ini, maka seseorang akan mudah untuk menghadirkan kehadiran-Nya dalam setiap waktu dan kesempatan, sehingga dapat sampai pada tujuan tinggi, yaitu mendapatkan Ridlau-Nya.

Jadi, beragama merupakan aktifitas untuk mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi, merasakan relasi suci fungsi kehambaan di hadapan Allah dan fungsi kemerdekaan mempertahankan kemanusiaan, keadilan, dan peraamaan. Dasar pencapaian pada tujuan tertinggi ini, adalah menjaga anugrah rahmani Allah dan membangun kasih sayang antara sesama umat manusia dan kesemestaan. Anugrah Allah harus diterima ditengah perbedaan dalam proses mendewasakan dan menguatkan eksiatensi diri.

Jadi, Islam sebagai agama tauhid (monotheistik) dan kasih sayang, telah mengajarkan perlunya menjalin relasi dengan yang lain, meskipun tidak sependapat. Kebaikan dan keutamaan seseorang dapat dibangun dari diri sendiri, bagaimana cara berfikir positif dan menjaga wahyu yang mengajarkan adanya kemuliaan pada seluruh anak cucu Adam.

Permusuhan tidak akan membuat ketenangan hidup seseorang. Karenanya, perlu membangun persaudaraan dengan sesama umat beragama dan antar sesama umat manusia dan antar umat beragama. Artinya, menjaga hubungan baik lebih berharga dari pada permusuhan. Dengan demikian, siapa pun tidak boleh mengaku atau merasakan lebih baik, karena pengakuan ini hanya akan membentuk arogansi sikap untuk menganggap buruk orang lain.

Dalam ajaran Islam, yang membahayakan, adalah jika ada anggapan sudah benar benar tidak ada kebaikan lagi pada diri yang lain. Berbeda dengan agama yang bersumber dari tradisi kenabian, agama yang telah menjadi simbol komunalisme, telah menjadi agama komunal, yang mengajarkan dalil kebencian dan menghapus dalil keramahan lingkungan dan berbagi kesenangan dengan sesama umat manusia. Agama komunal mengajarkan arti penting membohongi diri sendiri untuk menguatkan sikap kebencian kepada yang lain.

Agama komunal tidak mempercayai adanya perbedaan, semua kehidupan harus dibangun dengan sistem persamaan, sehingga
tidak boleh ada perbedaan antar sesama umat beragama dan antar umat beragama, Agama komunal berkeyakinan keharusan perintah agama untuk memiliki keserupaan, sehingga tidak ada perbedaan. Karenanya, jika pihak lain tidak sesuai dengan yang diyakini dianggap salah dan tersesat, baik mereka yang berbeda maupun yang tidak melibatkan dengan pandangannya. Karenanya, jika kesulitan menyamakan kehendak yang lain dengan kehendaknya, maka boleh melakukan pemaksaan.

Sehubungan dengan prinsip agama komunal tersebut, maka telah menunjukkan para pengikut agama komunal seperti minum racun, karena dalam pikirannya seperti menyimpan dendam yang sering kita umpamakan dengan seseorang yang minum racun, mereka ini berharap orang lain yang mati yang ternyata telah mengharapkan dirinya.

Kapan Pemerinta Bersikap? yang paling terancam dari gerakan agama komunal, adalah sistem kekuasaan dan rakyat. Jika para pengikut agama yang benar, hanya dirugikan bahwa agama yang suci dan benar telah dibajak oleh mereka yang membangun agama komunal. Meskipum demikian, sebagai warga negara yang sah, para pengikut agama yang benar dan suci, juga akan terancam model kekerasan para pengikut agama komunal, karena rata rata para pengikut agama yang benar, juga sebagai warga negara yang baik, yang mengikuti sistem pemerjntahan yang sah.

Sebagai pengikut agama yang benar dan warganegara yang baik, hanya berdo’a dan menunggu kebijakan dari pemerintah, sebab yang berwenang bertindak dan mensikapi segera, adalah pemerintah melalui aparat yang bertugas dan pengawasan para inteljen yang cakap.

Jika semua aparat bekerja untuk negara, maka akan mudah menjawab persoalan kekerasan di tengah sistem pemerintahan ini. Sebagai pengikut agama yang benar dan warganegara yang baik hanya ada sikap, bagaimana mengendalikan kemarahan? Menjaga keseimbangan jiwa dan kesempurnaan kepribadian.

Penulis: Ubaidillah Achmad, Penulis Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.