Jakarta – Undur diri sebagai karyawan di perusahaan swasta lalu menjajal peruntungan di dunia usaha merupakan jalan yang diambil Natalia Indira. Siapa sangka pengusaha asal Yogyakarta ini mampu meraup omzet hingga ratusan juta dari usahanya yang bernama Inssoo.

Inssoo merupakan produk kerajinan tangan berupa tas tangan alias clutch. Uniknya, produk ini berbahan dasar serat pandan laut.

Natalia bercerita, dia mulai terjun di dunia usaha sejak 2010 dengan menjual produk batik dan aksesoris kain. Usaha itu dilakoninya sambil kerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Di 2014 dia terpaksa berhenti kerja lantaran menikah dan harus pindah ke Yogyakarta. Keputusannya itu dia ambil tanpa ragu, sebab dia yakin masih bisa menjalankan bisnisnya.

Natalia mulai menjajal membuat produk kerajinan tas tangan dengan bahan agel, mendong dan pandan laut. Modal yang dia keluarkan hanya Rp 500 ribu.

“Itu untuk membuat 12 pieces. Waktu itu aku ikut pameran di Solo, coba pasarin produk ini, ternyata tanggapannya bagus,” katanya.

Uang hasil jual 12 produk clutch itu kemudian dia gunakan lagi untuk memproduksi 2 kali lebih banyak. Ternyata produknya kembali ludes.

Melihat peluang yang besar, akhirnya wanita yang lahir pada 1 Desember 1987 itu memutuskan untuk serius memproduksi kerajinan clutch dalam jumlah lebih besar. Saat itu untuk tim penjualan Inssoo ada 8 orang termasuk dia dan suaminya.

“Sebenarnya aku cuma follower tapi aku lihat masih ada pangsa pasar yang bisa aku ambil,” tambahnya.

Dia mulai memasarkan produknya secara online melalui berbagai media, mulai dari marketplace di situs e-commerce hingga media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Penjualannya semakin besar ketika mulai masuk pemesanan untuk souvenir pernikahan. Ada pula pesanan suvenir untuk acara-acara instansi atau perusahaan.

Kini, Natalia mampu menjual sekitar 2.000-3.000 buah tas tangan dalam sebulan. Dengan harga jual di kisaran Rp 35 ribu – Rp 90 ribu omzet Inssoo saat ini sudah mencapai sekitar Rp 120 juta hingga Rp 180 juta per bulan.

Natalia pun yakin bisnisnya itu masih bisa terus berkembang meskipun banyak yang bilang produknya musiman.

“Orang yang enggak tahu itu bilang berarti kalau enggak nge-hits lagi penjualan turun tapi penjualan kita naik. Aku yakin karena orang di Indonesia itu banyak banget, lalu ini bisa buat souvenir pernikahan ataupun lembaga seperti Polri,” tuturnya.
2afdd986-834d-4d54-ba58-dbc74cc25258_169
Dia juga terus melakukan inovasi terhadap produknya. Setiap bulan atau maksimal 3 bulan, Inssoo selalu mengeluarkan clutch dengan motif yang baru.

Natalia juga kini memadukan bahan lain seperti kain batik dan kulit untuk produk tas tangannya. Itu juga menjadi alasan untuk mengantisipasi kenaikan harga serat pandan yang menjadi bahan baku utamanya. Sebab sejak 2016 dia putuskan hanya untuk memakai serat pandan sebagai bahan bakunya.

“Dulu waktu masih awal usaha pandan per kg Rp 7 ribu sekarang sudah hampir Rp 20 ribu. Makanya sekarang dompetnya kita kombinasikan dengan batik atau kulit sintetis, itu buat pangkas HPP-nya,” terangnya.

Natalia juga kini sudah mempekerjakan sekitar 50 orang ibu-ibu di sekitarnya. Mulai dari pembentukan hingga proses finishing dilakukan ibu-ibu itu di rumahnya masing-masing.

“Aku mikir mereka ibu rumah tangga, punya anak, harus urus rumah. Jadi mereka masih bisa melakukan itu tapi bisa punya penghasilan,” tambahnya.

Ke depan, Natalia ingin memiliki toko offline untuk Inssoo. Toko impiannya itu bukan hanya untuk menjual clutch tapi sebagai pusat oleh-oleh kerajinan tangan di Yogyakarta.