Jejak peningalan rumah keluarga VOC di gunung Punjul

Oleh : Abdullah Hamid, Padepokan Sambua

Darsono bersama warga menata area makam kuno di kaki Gunung Punjul Desa Warugunung. Beberapa hari sebelumnya sowan Gus Zainul Pengasuh Pesantren Al-Fahriyah melaporkan rencana itu.

Kemudian Gus Zainul mengajak Abdullah Hamid Masjid Jami Lasem ke lokasi. Ikut pula Gus Taftazani Pesantren Nailun Najah Sumber Girang. Almarhum Gus Faidun Nasser kakaknya dulu ziarah dan ikut merawat. Menurut cerita yang didengar ada 12 makam sayyid. Namun sekarang yang tampak ada nisannya hanya 2 makam. Abdullah juga pernah mendengar Nyai Muhimmah Thoyfur bersama keluarga juga pernah ziarah makam yang dihormatinya itu.

Tak lebih 200 meter dari area makam tersebut terdapat situs sisa bangunan pesantren Mbah Siddiq yang hidup sekitar tahun 1900-an. Kemudian pindah mendirikan pesantren Al Fahriyah. Terus hijrah berdakwah babat alas di Kabupaten Jember Jawa Timur.

Putra-putranya yaitu KH Mahfud Siddiq dan KH Ahmad, Siddiq dua-duanya semasa hidupnya masing-masing pernah menjadi ketua umum tanfidziah pengurus besar NU. Dan Kyai Hamid Pasuruan juga keturunannya juga.

Selanjutnya kami meneruskan napak tilas naik ke atas sekitar 1 km terdapat situs bekas rumah keluarga VOC. Tinggal dinding-dinding tembok dan kamar tua yang tak beratap.

Kemudian naik lagi ke atas sekitar 500 meter dan jalan memutar terdapat bekas benteng VOC, warga menyebutnya loji. Bangunannya juga tinggal menyisakan dinding tembok tebal hampir 1 meter tinggi 4 meter. Dari benteng itu memang terlihat daratan kota lasem. Disayangkan di bawah dinding benteng ada lubang bekas galian orang mencari emas tidak menemukan. Sehingga dikhawatirkan rubuh.

Sebelum sampai benteng VOC tersebut kami melewati jalan berundak terdiri dari batu alam yang banyak sekali. Dalam Babad Carita Lasem disebutkan VOC mendirikan benteng itu di atas Candi Butun. Keberadaan candi terusik lagi 5 tahun lalu oleh ulah orang yang tidak bertanggung jawab mengambil batu-batu untuk usaha bahan bangunan. Kemudian dilarang Pemerintah Desa.

Dari benteng VOC napak tilas dilanjutkan berjalan 500 meter setengah melingkar menuju Mujahadah Mbah Soleh. Perjalanan Abdullah ke puncak gunung ditemani Pak Yakun warga setempat, dia menyebutnya ke makam.

Batu Mujahadah adalah lempengan batu alam mirip sejadah lebar sekitar 80 cm panjang 1,5 meter, posisinya menghadap kitblat.

Sesampainya saya bersujud ke hadirat ilahi rabbi di atas batu itu. Saya lihat batu itu di Gunung Punjul posisinya lurus ke depan mengarah ke Masjid Jami Lasem. Batu itu di zaman dulu menjadi tempat tirakat Mbah Soleh bermujahadah yang makamnya di timur makam Mbah Sambu Komplek Masjid Jami Lasem.

Silsilah Mbah Soleh atau KH. Asy’ari alias Raden Pangeran Asri bin KH.Muhammad Adzro’I alias Raden Badra’I bin KH.Yusuf bin Mbah Sambu. Mbah Soleh berputra Abdullah berputra Mbah Muhammad Siddiq.

Di dekat batu mujahadah itu Pak Yakun mencari-cari makam kuno yang dulu 25 tahun lalu pernah dilihatnya berada di sebelah kanan batu mujahadah ternyata sekarang tidak ada lagi. Atas kesaksian itu Abdullah menyarankan diletakkan tetenger. Kemudian Pak Yakun memasangkan 2 batu sebagai nisan yang menurutnya lokasi makam.