Photo: Islamalternatif.com

PRODUK HUKUM TATA NEGARA MASA KERAJAAN ISLAM NUSANTARA

Kerajaan Islam Nusantara, menyimpan benda purbakala, manuskrif kuno, arsip atau buku dalam/luar negeri yang membahas kerajaan Islam, terutama seputar legislasi hukum Islam atau pemberlakuan syariat Islam dan tata pemerintahannya berbasis kearifan local.

Karya-karya besar di bidang hukum seperti Angger Surya Ngalam (KUHP Demak), Jugul Muda (KUHP Pajang), Angger Pradata Dalem dan Angger Arubiru (KUHP Mataram) lahir sebagai fakta sejarah keberhasilan pesantren dalam mencetak lulusan berkualitas. “Salokantara” dan “Jugul Muda”, itulah dua kitab Undang-undang Demak yang menurut budayawan WS Rendra dalam sebuah orasi budaya “Megatruh”, punya landasan syariah Islam yang membumi.

Di hadapan peraturan negeri pengganti Majapahit itu, semua manusia sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Sultan-sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan syura para wali. Rakyat bukanlah abdi atau kawula.
Untuk menciptakan ketertiban di seluruh kerajaan, diciptakan peraturan yang dinamakan anger-anger yang harus dipatuhi oleh seluruh penduduk. Seperti Angger Nawala Pradata pada Era Keraton Kasunanan Surakarta.

Pada era kekuasaan Pakubuwono IV terjadi penetapan Pengadilan Surambi sebagai pengadilan tertinggi sekaligus sebagai pengadilan banding bagi kasus-kasus yang tidak dapat diselesaikan oleh Pengadilan Pradata dan Pengadilan Balemangu (pengadilan khusus yang menangani tata urusan pertanahan, semacam pengadilan agraria, dan hubungan antar tingkat antara pegawai kerajaan). Pengadilan Surambi sendiri adalah pengadilan yang berlandaskan pada Syariat (Hukum) Islam. Sebelum ditetapkan sebagai pengadilan tertinggi, Pengadilan Surambi menangani perkara-perkara hukum keluarga (misalnya nikah, talak, dan waris), serta kasus-kasus pidana.

Pengaruh kolonial Belanda pada era PB IV tejadi, undang-undang Angger Nawala Pradata mengalami amandemen dengan memperluas wewenang dan tugas Pengadilan Pradata untuk menangani perkara-perkara kriminal. Kasus-kasus tindak kriminal yang diatur dalam Angger Nawala Pradata antara lain: perkara yang berhubungan dengan tindak perampokan, pencurian (termasuk pencurian hewan), atau perampasan, praktek penggelapan, perjudian, dan lain sebagainya. Kasus-kasus sipil seperti membakar rumah, menyamun, dan sejenisnya, dimasukkan ke dalam kategori perkara kriminal. Pada tanggal 15 Mei 1771, perkara-perkara di atas dicantumkan ke dalam kitab hukum undang-undang Angger Nawala Pradata.
Sejak diterapkannya pembagian Pengadilan Pradata yang ada di ibukota dan di daerah, maka Pengadilan Pradata Gedhe yang berkedudukan di pusat pemerintahan ditetapkan menjadi pengadilan tertinggi di Kasunanan Surakarta, menggusur posisi puncak yang semula diduduki oleh Pengadilan Surambi.

Perubahan ini tidak terlepas dari hegemoni pemerintah kolonial Hindia Belanda yang tetap berusaha menanamkan pengaruhnya di dalam urusan internal Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ditetapkannya Pengadilan Pradata Gedhe sebagai pengadilan tertinggi kerajaan untuk menggantikan posisi Pengadilan Surambi dapat dimaknai sebagai upaya menggeser kedudukan hukum Islam (yang diejawantahkan melalui Pengadilan Surambi) sebagai dasar hukum pengadilan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dengan demikian, lembaga pengadilan yang berhubungan dengan kepentingan dan ketertiban umum memiliki posisi yang lebih tinggi daripada lembaga pengadilan yang bersifat lebih khusus.
Para pakar/peneliti diharapkan melakukan kajian/penelitian yang intens sehingga dapat memberikan kontribusi bagi hukum positif yang memiliki dasar kesejarahan dan pemerintahan pribumi Islam. Sumber hukum Islam tidak saja diambil langsung dari bumi Arab tetapi telah mengalami uji lapangan dan legitimasi setempat.
Dengan demikian tidak semata penerapan instan seperti yang diperjuangkan saudara kita lainnya, sekaligus sebagai sumber hukum positif, tidak didominasi peninggalan kolonial yang tentunya tidak mengacu kepada kepentingan Indonesia, walau sebagian harus diakui berkontribusi positif. Penelitian juga dilakukan di Kerajaan Islam Giri Kedaton dan luar Jawa, seperti di Aceh, Samudera Pasai, Pangkalan Bun Kalimantan, Tidore, Ternate, Bacan, Minag Raya, Palembang, Gowa Sulsel, dll di nusantara.

ETIKA KEBANGSAAN ISLAM NUSANTARA.
Pada zaman keemasan Kerajaan Demak, banyak kitab yang ditulis. Banyak kitab-kitab yang dipengaruhi agama islam diantaranya: Het Boek van Bonang, Een Javaans Geschrift uit d 16 Eeuw, Suluk Sukarsa, Koja-Kojaan, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang, Serat Nitisruri, Serat Nitipraja,Serat Sewaka, Serat Menak, Serat Rengganis, Serat Manik Maya, Serat Ambiya, dan Serat Kandha.

Pada masa Sultan Agung Kerajaan Mataram adalah kerajaan Islam yang mengemban amanat Tuhan di tanah Jawa. Oleh sebab itu, struktur serta jabatan kepenghuluan dibangun dalam sistem kekuasaan kerajaan. Tradisi kekuasaan seperti sholat jumat di masjid, grebeg ramadan, dan upaya pengamanalan syariat Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan istana.

Sultan Agung juga sebagai pujangga. Karyanya yang terkenal yaitu kitab Serat Sastra Gendhing. Perkembangan di bidang kesusastraan memunculkan karya sastra yang cukup terkenal, yaitu Kitab Sastra Gending yang merupakan perpaduan dari hukum Islam dengan adat istiadat Jawa yang disebut Hukum Surya Alam..
Pada zaman kejayaan Sultan Agung, ilmu pengetahuan dan seni berkembang pesat,termasuk di dalamnya kesusastraan Jawa.Kitab yang berjudul Sastra Gending yang merupakan kitab filsafat kehidupan dan kenegaraan.Kitab-kitab yang lain adalah Nitisruti, Nitisastra, dan Astrabata. Kitab-kitab ini berisi tentang ajaran-ajaran budi pekerti yang baik

Adapun kitab serat Nitipraja digubahnya pada tahun 1641 M. Serat sastra Gendhing berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin. Serat Nitipraja berisi tata aturan moral, agar tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis. Selain menulis, Sultan Agung juga memerintahkan para pujangga kraton untuk menulis sejarah babad tanah Jawi.

Di antara semua karyanya , peran Sultan Agung yang lebih membawa pengaruh luas adalah dalam penanggalan. Sultan Agung memadukan tradisi pesantren Islam dengan tradisi kejawen dalam perhitungan tahun. Masyarakat pesantren biasa menggunakan tahun hijriah, masyarakat kejawen menggunakan tahun Caka atau saka. Pada tahun 1633, Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem perhitungan tahun yang baru bagi seluruh Mtaram. Perhitungan itu hampir seluruhnya disesuaikan dengan tahun hijriah, berdasarkan perhitungan bulan. Namun, awal perhitungan tahun Jawa ini tetap sama dengan tahun saka, yaitu 78 M. Kesatuan perhitungan tahun sangat penting bagi penulisan serat babad. Perubahan perhitungan itu merupakan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan proses pengislaman tradisi dan kebudayaan Jawa yang sudah terjadi sejak berdirinya Kerajaan Demak. Hingga saat ini, sistem penanggalan ala Sultan Agung ini masih banyak digunakan.

Sultan Agung berhasil menyusun tarikh Jawa. Sebelum tahun 1633 M, Mataram menggunakan tarikh Hindu yang didasarkan peredaran matahari (tarikh syamsiyah).Sejak tahun 1633 M (1555 Hindu), tarikh Hindu diubah ke tarikh Islam berdasarkan peredaran bulan (tarikh komariah). Caranya, tahun 1555 diteruskan tetapi dengan perhitungan baru berdasarkan tarikh komariah. Tahun perhitungan Sultan Agung ini kemudian dikenal sebagai“tahun Jawa”.

Sejak masa sebelum Sultan Agung pembangunan non-militer memang telah dilakukan. Satu yang layak disebut, panembahan Senopati menyempurnakan bentuk wayang dengan tatanan gempuran. Setelah zaman senopati, Mas Jolang juga berjasa dalam kebudayaan, dengan berusaha menyusun sejarah negeri Demak, serta menulis beberapa kitap suluk. Misalnya Suluk Wujil (1607 M) yang berisi wejangan Sunan Bonang kepada abdi raja Majapahit yang bernama Wujil. Pangeran Karanggayam juga menggubah Serat Nitisruti (1612 M) pada masa Mas Jolang.
Menjelang akhir hayatnya. Sultan Agung menerapkan peraturan yang bertujuan mencegah perebutan tahta, antara keluarga raja dan putra mahkota. Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram tidak hanya menjadi pusat kekuasaan, tapi juga menjadi pusat penyebaran Islam.

Jadi pada masa Mataram Islam lahir pula karya-karya besar di bidang pemerintahan seperti Serat Nitipraja, Serat Nitisruti, Serat Tripama, Serat Wulangreh,
Wulang Reh atau Serat Wulangreh adalah karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta, yang lahir pada 2 September 1768. Dia bertahta sejak 29 November 1788 hingga akhir hayatnya pada 1 Oktober 1820.

Kata Wulang bersinonim dengan kata pitutur memiliki arti ajaran. Kata Reh berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya jalan, aturan dan laku cara mencapai atau tuntutan. Wulang Reh dapat dimaknai ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam karya ini adalah laku menuju hidup harmoni atau sempurna. Untuk lebih jelasnya, berikut dikutipkan tembang yang memuat pengertian kata tersebut :
Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara
artinya ilmu itu bisa dipahami/ dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara.
Berdasarkan makna tembang tersebut, laku adalah langkah atau cara mencapai karakter mulia bukan ilmu dalam arti ilmu pengetahuan semata, seperti yang banyak kita jumpai pada saat ini. Lembaga pendidikan lebih memfokuskan pengkajian ilmu pengetahuan dan mengesampingkan ajaran moral dan budipekerti.[1]

Salah satu keistimewaan karya ini adalah tidak banyak menggunakan bahasa jawa arkhaik (kuno) sehingga memudahkan pembaca dalam memahaminya [2]. Walaupun demikian, ada hal-hal yang perlu dicermati karena karya tersebut merupakan sinkretisme Islam-Kejawen, atau tidak sepenuhnya merupakan ajaran Islam, sehingga akan menimbulkan perbedaan sudut pandang bagi pembaca yang berbeda ideologinya.[1]

Kajan tentang Wulang Reh pada umumnya mengupas isi atau maknanya yang kemudian bermuara pada interpretasi kandungan Wulang Reh, seperti nilai-nilai luhur, moral dan budi pekerti (ada yang menyebut dengan istilah etika), nilai-nilai religius, sampai pada ajaran tentang kepemimpinan.[2] Ada pula yang melakukan secara khusus dari segi bahasa.
Yuli Widiyono [4] – melakukan penelitian Tema, Nilasi Estetika dan Pendidikan dalam Serat Wulang Reh. Hasil kesimpulannya adalah :
Pertama, tema yang terdapat pada serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV yaitu: ajaran untuk memilih guru, kebijaksanaan dan bergaul, kepribadian,tema tata krama, ajaran berbakti pada orang lain, tema ketuhanan, berbakti kepada pemerintah, pengendalian diri, tema kekeluargaan, tema keselamatan, keikhlasan dan kesabaran, beribadah dengan baik, ajaran tentang keluhuran.

Kedua, Keindahan serat Wulangreh adanya ritma dan rima serta bunyi bahasa meliputi purwakanthi swara, purwakanthi guru swara, dan purwakanthi lumaksita. Pemahaman tentang diksi (Pemilihan kata), aliterasi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, dan metrum terdapat dalam serat Wulangreh.
Ketiga, nilai pendidikan moral pada Serat Wulangreh adalah nilai pendidikan moral kaitan antara manusia dengan Tuhan meliputi berserah diri kepada Tuhan, patuh kepada Tuhan, nilai pendidikan moral kaitan antara manusia dengan sesama, nilai pendidikan moral kaitannya manusia dengan diri pribadi, dan nilai tentang agama.

‘Keempat, ajaran yang ada pada serat wulangreh merupakan ajaran tata kaprajan ‘ajaran tentang perintah memberikan pengajaran untuk mencapai keluhuran hidup, ajaran pada serat Wedhatama merupakan ajaran tentang ilmu keutamaan.
Rukiyah [5], melakukan penelitian dari aspek kepemimpinan dalam Serat Wulang Reh. Kesimpulannya:Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak memiliki sifat lonyo, lemer, genjah, angrong pasanakan, nyumur gumiling, ambuntut arit, adigang, adigung, dan adiguna. Sebaliknya seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat jujur, tidak mengharapkan pemberian orang lain, rajin beribadah, serta tekun mengabdi kepada masyarakat.

Referensi

^ a b Endang Nurhayati, Nilai nilai moral islami dalam Serat Wulang Reh
^ a b HR Utami, Bahasa Pitutur Dalam Serat Wulang Reh, Karya Paku Buwono IV Kajian Sosiopragmatik
^ Muchson AR, Kandungan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Serat Wulang Reh
^ Widiyono, Yuli (2010), Kajian Tema, Nilai Estetika, dan Pendidikan dalam Serat Wulangreh Karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV.
^ Rukiyah, Konsep Kepemimpinan Dalam Serat Wulangreh.
Suliyati , (2010) (ABSTRAK.doc)Serat Nitiprana dalam Tata Sastra Todorov. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

Serat Nitiprana merupakan karya sastra lama yang ditulis menggunakan bahasa Jawa baru. Serat Nitiprana berisi tentang ajaran ketuhanan yang terbingkai dalam bentuk puisi/tembang macapat. Manfaat dari penelitian ini ada dua yakni manfaat secara teoritis dan secara praktis. Secara teoritis penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memperluas wawasan tentang studi kebudayaan dan kesusastraan Jawa, melalui kajian teks klasik dan struktur semiotik sedangkan manfaat secara praktis penelitian ini dapat menjadi contoh suri tauladan yang terbaik untuk menjalani kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Teori strukturalisme semiotik model Todorov untuk menganalisis karya sastra dari ke tiga aspek yaitu aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek verbal. Hasil dalam penelitian ini adalah struktur semiotik dalam Serat Nitiprana melalui aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek verbal. Aspek sintaksis Serat Nitiprana merupakan rangkaian dari beberapa urutan peristiwa (spasial) yang menjelaskan tentang 19 ajaran sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan. Pada aspek semantik menghasilkan makna secara keseluruhan ajaran-ajaran dalam Serat Nitiprana yang meliputi (1) Tuhan itu ada, (2) baik tidaknya budi seseorang dapat diketahui melalui tindakan sehari-harinya, (3) kewajiban menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

Pada aspek verbal dalam Serat Nitiprana terdiri dari pencerita dan ragam bahasa. Pencerita dalam Serat Nitiprana menjelaskan tentang ekspresi dari pengarang yang muncul melalui pemilihan tembang macapat yakni dhandhanggula. Selain itu juga terdapat ragam bahasa. Dalam ragam bahasa meliputi diksi dan majas. Diksi yang terdapat dalam Serat Nitiprana meliputi purwakanthi sastra, purwakanthi swara, dan purwakanthi tembung yang berfungsi untuk memperoleh keindahan dari tembang. Selain itu juga diksi digunakan untuk menyesuaikan setiap vokal dari akhir baris tembang.

Sedangkan majas digunakan untuk memperindah kata-kata dan kalimat yang digunakan dalam Serat Nitiprana. Majas-majas yang paling dominan dalam Serat Nitiprana yakni (1) Epitet, (2) Sarkasme, (3) hiperbola. Adapun saran dari hasil penelitian ini yaitu penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan pembaca terhadap karya sastra lama yang di dalamnya mengandung ajaran-ajaran dan nasihat-nasihat sebagai pedoman hidup dan diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi penelitian selanjutnya.

PENULIS:
Abdullah Hamid
PUSTAKA SAMBUA