TBM Kumala berlokasi di Kec.Lasem. Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang terletak di daerah pesisir utara pantai laut jawa. Yang mana daerahnya terdiri dari daerah pantai sampai dengan pegunungan. Matapencaharian sebagian besar penduduknya nelayan, petani pedagang serta pegawai baik swasta maupun negri. Kondisi sosial ekonomi sebagian masyarakat di kecamatan Lasem masih tergolong kurang mampu hal ini masih banyak di jumpai masyarakat miskin terutama di daerah-daerah pedesaan, selain itu juga banyak di jumpai pondok – pondok pesantren yang tersebar luas di kec. Lasem dimana mencerminkan bahwa masyarakat Lasem merupakan masyarakat yang agamis.

Dengan adanya kondisi sosial ekonomi yang kurang mempunyai dampak yang cukup besar terhadap tingkat pendidikan. Hal ini dapat di lihat persoalan-persoalan pendidikan di Kecamatan Lasem yaitu (1). Masih banyak di temukan penduduk yang menyandang buta aksara usia > 15 tahun keatas yakni ±1.300 baik buta aksara murni ataupun DO SD kls 1,2 dan 3. (2) masih banyak masyarakat yang belum mengenyampendidikan dasar 9 tahun pada usia sekolah (3) masih tingginya jumlah anak putus sekolah baik SD,SMP SMA, (4) rendahnya mutu, relevansi dan daya saing lulusan.Melihat kondisi tersebut diatas maka perlu di susun strategi pengembangan minat belajar masyarakat yaitu dengan program pengembangan budaya baca di kalangan masyarakat.

Salah satu program pengembangan minat baca dimasyarakat yaitu dengan melalui TBM atau Taman Bacaan Masyarakat. TBM sebagai unsur program pemberantasan buta aksara khususnya, dan program pendidikan pada satuan pendidikan non formal dan informal, memiliki peran sebagai berikut :
1. TBM sebagai medium pelestarian aksarawan baru
2. TBM sebagai medium peningkatan kecakapan hidup
3. TBM sebagai medium pengembangan budaya baca menuju terwujudnya masyarakat pembelajaran sepanjang hayat.

Selain mempunyai peran tersebut dengan adanya program pengembangan budaya baca melalui TBM sebagai sebuah lembaga perlu dilakukan strategi penguatan minat baca sebagai berikut :
1. Mengintegrasikan peningkatan mutu TBM di daerah kelompok sasaran program – program Pendidikan Non Formal dan Informal.
2. Menjadikan TBM sebagai sumber bahan belajar dan sumber informasi.
3. Mengembangkan jaringan kemitraan pengembangan TBM dengan stekholder pendidikan terkait.

Maksud TBM Kumala mengajukan program TBM Penguatan Minat Baca untuk memotivasi dan menumbuhkan minat baca dan kegemaran membaca dengan menyediakan, mengelola, dan memberikan layanan baca bagi orang dewasa, peserta didik pendidikan menengah, peserta didik pendidikan tinggi, dan masyarakat luas pada umumnya.
Pemberian dana program TBM Penguatan Keaksaraan dimaksudkan untuk menyediakan, memperluas dan memeratakan akses TBM sehingga menjangkau dan memberikan layanan peningkatan keberaksaran dan memberdayakan masyarakat.

Adapun tujuan dari program TBM Penguatan Minat Baca adalah :

1. Menyediakan bahan bacaan yang berkualitas dalam jumlah dan variasi judul.
2. Menyediakan sarana kepada masyarakat untuk membaca
3. Memberikan bimbingan dan penyuluhan
4. Menyelenggaraan kegiatan pembudayaan kegemaran membaca

DESKRIPSI KEGIATAN TBM “KUMALA”

1. Pengembangan Karakter dan Budaya

Tradisi penguatan karakter sebagai warga dan sebagai bangsa adalah salah satu proyek yang belum selesai sejak berdirinya Republik Indonesia puluhan tahun silam. Penguatan karakter, sikap, kepribadian bukanlah proyek ideologisasi watak dalam satuan sel yang seragam yang dikendalikan dari pusat. Penguatan karakter, sikap, dan kepribadian dalam pengertiannya yang terbaru di sini mengambil lokus pada penciptaan karakter individu dan sekaligus kolektif yang memiliki wawasan majemuk, semangat keragaman, kepekaan sosial yang tinggi, kreatif, dan kemandirian. Praksisnya dalam gelanggang sejarah kebangsaan, kegiatan ini banyak mengambil bentuk kursus, pengajian keagamaan, atau edukasi sosial berorientasi kemandirian dan kebersamaan.

2. Revitalisasi Industri Kebudayaan

Industri kebudayaan adalah matra baru melihat kebudayaan yang tak sekadar benda statis dan terbeli, tapi juga terkelola dengan etos peradaban dengan nilai ekonomi kreatif menjadi bagian tak terpisahkan di dalamnya. Di tengah arus kian merosotnya cadangan sumber daya alam yang dimiliki, seluruh anasir bangsa didorong untuk membekali dan bersiap diri dalam lingkup ekonomi baru yang disebut ekonomi berbasis kreativitas. Dalam hal ini modal dasar yang sudah dipunyai adalah kekayaan tradisi dan pengetahuan tradisional dan itu membutuhkan pengelola-pengelola baru dengan pikiran-pikiran baru. Fungsi Balai Belajar Bersama “Kumala” dalam usaha merevitalisasi pranata-pranata dan modal kebudayaan yang sudah ada dalam masyarakat ini adalah menyodorkan kembali kemungkinan-kemungkinan baru bagi pengembangan potensi kreatif dari kelompok atau komunitas untuk berdaya, mandiri, dan menjadi motor penggerak bagi pengayaan tradisi keberaksaraan. Elemen-elemen yang dimaksudkan adalah sanggar seni tradisi dan modern, Pesantren Kauman yang tak hanya mengajarkan bagaimana membaca kitab suci tapi juga pengayaan tradisi menulis dan kaligrafi Nusantara (huruf arab) dengan menyelenggarakan kursus kaligrafi.Menggabungkan kerajinan tangan berbahan baku lokal seperti kayu, kain bordir atau gabus.Mengembangkan pola belajar yang rutin, unik, dan kreatif antara satu anggota dengan anggota lainnya.Sekaligus mengangkat kembali budaya tulis pegon kekayaan budaya nusantara tak ternilai dalam kemasan seni kaligrafi.Media efektif menyampaikan pesan moral dan mempertahankan keberlangsungan seni tradisi bangsa. Program Rintisan Balai Belajar Bersama “Kumala” ingin memunculkan kembali semangat tradisi asli yang tepat guna mengakar ratusan tahun dalam bentuk aksi dan pesan moral bangsa yang lebih kontekstual dan berorientasi ke masa depan.

3. Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Kedudukan dan peran perempuan dalam segenap aspek perubahan sosial di Indonesia diakui banyak pihak sangat penting dan strategis. Namun demikian, boleh jadi karena pengaruh berkepanjangan dari budaya patriarkat, di mana kaum laki-laki pada umumnya lebih dominan dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga dan masyarakat, maka kaum perempuan berada agak tertinggal di belakang. Kesetaraan gender pun timpang. Adalah fakta bahwa, dalam peran-peran sosial kemasyarakatan, kedudukan dan peran kaum perempuan pada umumnya masih tertinggal dari kaum laki-laki. Fungsi Balai Belajar Bersama “Kumala” di sini dimaksudkan sebagai wahana pemberdayaan perempuan dalam pengertian yang seluas-luasnya, sekaligus untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.Keterlibatan perempuan mengikuti pendidikan yang sistemik di balai belajar bersama merupakan pengkaderan dan pencerahan.Berpartisipasi aktif sebagai pengelola, tutor maupun warga belajar.Antara perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Penulis: Abdullah Hamid