Oleh: Abdullah Hamid

Bagi kacamata awam seperti saya, jawaban tiga pertanyaan sederhana di bawah ini cukup menggambarkan mengapa gamelan menjadi titik pertemuan budaya Jawa, Islam dan Tiongkok, yaitu pertanyaan sbb :.
Apakah makna gamelan ?
Dalam berdakwah Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim sering mempergunakan Kesenian Jawa Gamelan untuk menarik simpati rakyat, menambahkan perangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat . Lebih –lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan, seperti bende becak peninggalannya di Desa Bonang Lasem, Mungkin yang pertama dibuat dalam sejarah gamelan. Melalui karyanya itu Sunan Bonang, menggunakan metode intuitif atau jalan cinta (isyq) Pemahaman mengenal diri yang berkenaan dengan ikhtiar pengendalian diri, Bertalian dengan masalah kecerdasan emosi; masalah kemauan murni/ tulus dan lain-lain. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’(‘isyq).

Sangat mirip dengan kecenderungan Jalaluddin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui gamelan media kesenian Jawa yang disukai masyarakat. Sebagai musikus dan komponis terkemuka, konon Sunan Bonang menciptakan beberapa komposisi (gending), di antaranya Gending Dharma. Gending ini dicipta berdasarkan wawasan estetik sufi, yang memandang alunan bunyi musik tertentu dapat dijadikan sarana kenaikan menuju alam kerohanian. Gending Dharma, konon, apabila didengar orang dapat menghanyutkan jiwa dan membawa suasana mistis ke alam meditasi (tafakkur). Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa kental dengan estetika dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Sunan Bonang jelas bertanggung jawab bagi arah estetika Gamelan. Musik yang ditabuh berdasarkan wawasan estetik Sufi. Tidak mengherankan gamelan Jawa menjadi sangat kontemplatif dan meditatif.

Lalu siapakah sesungguhnya Sunan Bonang?
Pada Tahun 1413 M Bong Tak Keng seorang bangswan Cina Muslim ditempatkan di Champa oleh Kaisar Tiongkok Cheng Tsu dari Dinasti Ming atas peran utusannya, Laksamana Cheng Ho. Kemudian menikahi putri Raja Champa Ngaut Klaung Vijaya yang beristrikan Dyah Tapasi putri Raja Kertanegara dari Singosari, atas kunjungan Sayyid Jamaluddin Syah Jalal dari Pasai sebelumnya telah tertarik masuk Islam. Beberapa tahun setelah kunjungan itu giliran putranya, Syaikh Ibrahim As Samarqandi ke Champa dan dinikahi dengan putri Rajanya bernama Chandravati, bersaudarakan Dwarawati yang dinikahi Kertabhumi Raja Majapahit. Ibrahim yang kemudian wafat dan makamnya di Tuban menurunkan anak bernama Sayyid Ali Rahmad dengan nama Cinanya Bong Swie Hoo, tidak lain beliau adalah Sunan Ampel.. Kemudian menurunkan putranya, bernama Sunan Bonang , menetap di Lasem mendirikan pesantren.

Kemudian pertanyaan selanjutnya bagaimanakah sebenarnya asal mula Pecinan Lasem? Kedatangan resmi di nusantara diawali pada tahun (1406-1430) dipimpin Cheng Ho yang beragama Islam berasal dari Yunan. Tercatat dalam kronik Sam Po Kong kemudian mendirikan beberapa masjid di Ancol Jakarta, Sampo Toalang/ Semarang, Sembung/ Cirebon, Lao Sam/ Lasem, Tuban, Tse Tsun/ Gresik, Cangki/ Mojokerto, Jepara, dll. Peter Carey (1986) menulis, sejak Masa Majapahit pedagang-pedagang dari Tiongkok telah tinggal di daerah-daerah pelabuhan dan telah berlangsung lama menjalin perkawinan antar golongan etnis. Mereka yang menetap di Jawa terdapat di bebeapa daerah terutama di Pesisir Utara Pulau Jawa. Menurut Lee Song Liang (1980) banyak dari mereka mengambil perempuan Indonesia sebagai istri. Akibat dari perkawinan campuran ini muncul keturunan Cina yang memiliki nenek moyang ibu Indonesia. Lazimnya mereka disebut peranakan..Jadi termasuk warga Pecinan Lasem sesungguhnya merupakan peranakan Cina- Jawa. Karena semua Cina peranakan mempunyai leluhur orang Indonesia, berdarah campuran. Bahkan banyak sejumlah orang Cina di Indonesia yang rasnya tidak dapat dikenali/ ditentukan berdasarkan sifat fisiknya lagi, karena sudah tidak kentara. Maka akan menimbulkan kerancuan jika dikatakan bahwa warga Cina Lasem sebagai ras tersendiri dari orang-orang Indonesia.

Titik Pertemuan Budaya (Kesimpulan)
Berdasarkan ilustrasi atau gambaran perjalanan di atas menunjukkan amat dekatnya relasi/ hubungan budaya Jawa, Islam dan Tiongkok dan interaksi antar masyarakatnya pun bukanlah asing yang tidak saling mengenal satu sama lain, karena sejatinya menempati satu kesatuan nasional georafis. Maka tak heran mereka dipersatukan oleh gamelan yang kedengaran lembut dan menyentuh, membawa pesan kedamaian, enak dinikmati siapa pun dan di mana pun, etnis apa pun, bahkan menembus tanpa batas, telah memasuki rumah-rumah cina, tidak ada lagi sekat-sekat, semua telah lebur dan membaur menjadi menjadi Jawa atau Indonesia sejati yang ramah (berbudaya), hal ini telah berlangsung lama, menjadi sumber inspirasi dan tradisi selama puluhan tahun.