Pada tanggal 8-9 Maret 2017 BAPPEDA Rembang menerima tamu studi banding terkait Kota Pusaka dari Pemerintah Kota Pasuruan. Diterima oleh unsur pimpinan BAPPEDA, DINBUDPAR, dan PU Kab.Rembang, serta Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) dan Ketua Padepokan Sambua Lasem.

Padepokan Sambua menyampaikan pandangannya terhadap Kota Pusaka Pasuruan. Dari budaya fisik atau bendawi perlu diambil sari nilai-nilai luhur keberagaman di Pasuruan. Diharapkan Rencana Aksi Kota Pusaka menjembatani keberagaman di Pasuruan yang merupakan fakta sosial selama berabad-abad. Terdiri entitas budaya Jawa, Arab, Pesantren, Islam, Tionghoa dan Belanda, seperti tercermin dalam peninggalannya. Maka dalam penataan dan pelestarian kota pusaka perlu ditetapkan, semua entitas terwakili.

Melongok studi banding di Lasem, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan keinginannya Lasem menjadi salah satu tempat destinasi wisata di Jawa Tengah. Menurutnya, desain kawasan Lasem, berikut semua unsur di dalamnya seperti pesantren, pecinan, Arab harus ditata dengan baik, sehingga maupun pengunjung bisa nyaman. “Kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati yang akan dilantik, segera undang pakar untuk mendesain ini, bagaimana penataan kawasan Lasem,” tuturnya saat menghadiri acara perayaan Imlek 2567 atau 2016 di Klenteng Poo An Bio Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang, Ahad (7/2) tahun lalu. Selanjutnya seluruh produk unggulan harus dioptimalkan untuk mendukung suksesi destinasi pariwisata. Pemerintah akan mendukung untuk infrastruktur dan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.”Berbagai potensi wisata mulai kuliner, kerajinan seperti batik dan sejarahnya harus dioptimalkan,” jelasnya. Dalam perayaan Imlek di Lasem 2017, berbagai pertunjukan dihadirkan untuk menghibur masyarakat. Mulai dari pertunjukkan Barongsai, pertunjukan lintas etnik itu menghadirkan cerita kepahlawanan seorang pribumi bernama Raden Panji Margono, Kyai Ali Baidlawi dan Oei Ing Kiat saat melawan VOC pada tahun 1751.

Kalau kita menyaksikan kemegahan Gedung Yayasan Pendidikan Pancasila di Pasuruan, cobalah menyeberang sejenak. Karena tepat dihadapan gedung tersebut ada bangunan tua yang tak kalah pesona heritagenya. Masyarakat sekitar menyebut bangunan tua tersebut dengan sebutan Rumah Singa. Rumah Singa ini terletak di Jalan Hasanudin No. 11-14 RT.01 RW.04 Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi Rumah Singa ini berada di depan Gedung Yayasan Pendidikan Pancasila, atau biasa disebut dengan Gedung Pancasila saja.

Dalam buku Profil Cagar Budaya Kota Pasuruan (2015) disebutkan, bahwa Rumah Singa ini pada awalnya merupakan rumah orang Belanda yang dibangun pada tahun 1825 namun kemudian dibeli oleh Tan Kong Seng, seorang Kapitein der Chineezen pada tahun 1840an.
Pada awal abad ke-20, rumah ini dikenal sebagai rumah keluarga Kwee. Keluarga Kwee bersama keluarga Han dan Tan merupakan salah satu keluarga terkemuka (konglomerat) di Pasuruan yang diberi keistimewaan di bidang perdagangan dan pajak oleh Pemerintah Hindia Belanda. Mereka menguasai perdagangan hasil bumi dan ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mengatur tata niaga opium. Bersama keluarga Tionghoa yang lain, keluarga Kwee dan Han mengembangkan industri gula di Pasuruan dan Probolinggo. Sekarang ini, rumah tersebut menjadi milik Alan Douglas Rudianto Wardhana Zecha dan tetap dijadikan tempat tinggal. Rumah yang memiliki lahan seluas 1 hektar ini memiliki langgam Indische Empire.

Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat yang berada di Hindia Belanda (Nederlands-Indië). Pada waktu keluarga Kwee menempati rumah ini, dibuatlah patung singa yang ditempatkan di halaman depan. Hal ini yang menyebabkan rumah ini kemudian dinamakan Rumah Singa, dengan harapan rumah tersebut bisa selalu aman terjaga. Hal ini selaras dengan kepercayaan yang dianut di kalangan orang Tionghoa, bahwa patung singa dianggap sebagai dewa pelindung. Atas nama Undang-Undang dan Perda Cagar Budaya pihak terkait kota pusaka harus diberi akses informasi jaminan kelestariannya.

Pasuruan juga dikenal dengan Kota Santri. Dengan kehadiran Pesantren Sidogiri. Sidogiri dibabat oleh seorang Sayyid dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban.Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.Sayyid Sulaiman membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarakah.

Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963. Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun/ikhtibar Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.

Pada Masa Agresi Belanda tahun 1947 terbentuk Laskar Hizbullah Kompi II Divisi Timur yang dipimpin Kiai Sa’dullah dari Pondok Pesantren Sidogiri. Kiai Sa’dullah bersama 250 pasukannya bertempur di area Wonokasian Sidoarjo. Mengetahui Sidogiri dijadikan markas Hizbullah, pada 26 September 1947 Belanda menyerbu Pondok Pesantren. Kiai Djalil, pengasuh saat itu bersama para santri yang mendampinginya mati syahid. Kiai Sa’dullah selamat dan bergabung dengan Hizbullah Malang. Di luar simbol fisik seperti bambu runcing, para kiai mempunyai senjata di luar nalar manusia. Senjata itu adalah kekuatan yang langsung dari Allah Swt melalui benda-benda biasa saja, bukan senjata. Kiai Sa’dullah dari Pondok Pesantren Sidogiri membekali Laskar Hizbullah Pasuruan dengan berbagai ilmu, di antaranya “Lembu Sekilan”.

Tak kalah heroiknya kisah Untung Suropati yang legendaris cukup banyak ditulis dalam bentuk sastra. Selain Babad Tanah Jawi, juga terdapat antara lain Babad Suropati. Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati. dan berikut foto makam untung suropati yang ada di Kebonagung Pasuruan. Makam pahlawan nasional perlu ditetapkan cagar budaya.

Pemerintah Kota Pasuruan, Jawa Timur sejak 2013 menetapkan, haul atau hari peringatan wafatnya KH Abdul Hamid menjadi hari libur lokal. Kabag Humas Pemerintah Kota Pasuruan, menjelaskan,keputusan itu diawali dengan meliburkan seluruh pelajar di Kota Pasuruan pada haul yang akan digelar pada Senin, 21 Januari 2013. Hal ini demi menghormati Haul KH Abdul Hamid karena pada tahun sebelumnya sebagian besar siswa yang beragama Islam di kota santri ini menghadiri haul tersebut,” katanya. Ia menambahkan, diliburkannya para pelajar di Kota Pasuruan juga didasarkan pada Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama Kota Pasuruan Nomor 420/64/423.102/2013 serta Disposisi Nota Dinas Walikota Pasuruan Nomor 450/19/2013 tertanggal 9 Januari 2013. “Sosialisasinya sudah dilakukan sejak surat edaran keluar, sehingga para pelajar tidak akan ketinggalan informasi, mengingat sekolah-sekolah sudah kami beritahu sebelumnya melalui Dinas Pendidikan,” jelasnya. Sebagai langkah penetapan Haul KH Abdul Hamid sebagai libur lokal, Pemerintah Kota Pasuruan sudah mengkonsultasikan kepada Bagian Biro Hukum dan Organisasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Kota Pasuruan sudah mengkonsultasikannya, kemudian lahir keputusan Gubernur Jatim. Sambua menilai perayaan Haul KH A.Hamid Pasuruan ditetapkan sebagai Hari Libur Lokal yang dipusatkan di Makam beliau Komplek Masjid Jami Pasuruan dekat alun-alun merupakan kearifan lokal dan warisan budaya luhur non bendawi. Beliau berasal dari Lasem, membuka pensantren dan wafat di Pasuruan. Lasem-Pasuruan merupakan kota kembar yang memiliki kemiripan ciri kota pusakanya.

Dari perjalanan Sayyid Sulaiman sampai menurunkan KH Nawawi Abdul Jalil sekarang kita dapat mengambil pelajaran seorang Sayyid murni Arab kini telah melebur menjadi Jawa santri, membuktikan nilai-nilai Islam yang membumi yang bersahabat dengan pribumi, menhargai kebudayaan lokal. Begitu juga KH A Hamid Pasuruan dan KH Abdurrahman Wahid keduanya keturunan Sayyid Abdurrahman Basyaiban atau yang lebih dikenal nama Jawanya Mbah Sambu Lasem. Namun yang penting penyerapan nilainya, bukan fisik. Bukan berarti tidak berlaku bagi yang hingga kini tetap dalam kemurnian nasab sayyid. Kita sangat menghormati Habib Taufiq Pasuruan dan Habib Luthfi Pekalongan yang berhasil menarik simpati masyarakat dan mencintai NKRI.

Pasuruan juga memiliki bangunan peninggalan bergaya indis yang masih bertahan. Yaitu Gedung Harmoni. Bangunan ini mengalami berbagai perubahan fungsi dari masa ke masa. Bangunan ini berawal dari didirikannya ballroom pada tahun 1858 untuk memfasilitasi warga Eropa khususnya Belanda sebagai tempat hiburan kemudian pada tahun 1921 diresmikan dan diberi nama SocietetHarmonie. Selain sebagai tempat hiburan, tempat tersebut juga dijadikan tempat pertemuan dan penginapan dengan dibangunnya kamar-kamar inap. Pada tahun 1947 fungsi SocietHarmonie berubah namanya menjadi Gedung Rakyat yang fungsinya sebagai tempat pertemuan-pertemuan dan pertunjukan-pertunjukan kesenian tradisional rakyat khususnya Pasuruan kemudian pada tahun 1964. Nama gedung rakyat diubah menjadi YPK Untung Surapati yang difungsikan sebagai sarana pendidikan sekolah kejuruan dengan ditambahkanya ruang-ruang kelas baru baik pada bangunan lama atau pendirian bangunan baru.

Setelah ditetapkan sebagai Kota Pusaka, Pemkot Pasuruan mulai berbenah diri. Sejumlah icon bangunan yang menjadi simbol kota tua di beberapa kawasan akan difungsikan dan dioptimalkan kembali. Beberapa bangunan kuno di antara Gedung Harmoni, Gedung Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yang dibangun pada zaman pemerintahan Belanda akan dibuka untuk umum. Masyarakat yang selama ini hanya mengenal luarnya saja, bisa mengenal lebih jauh. Hubungan dengan luar negeri cukup lancar bagi Kota Pasuruan pada abad ke-19 karena pelabuhannya digunakan untuk mengekspor hasil perkebunan selama cultuurstelsel sampai akhir abad ke-19.
Wali Kota Pasuruan, Setiyono, mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mendukung pengembangan Kota Pusaka. Para pengelola P3GI, pelabuhan rakyat dan Gedung Harmoni yang sekarang digunakan sebagai SMK Untung Suropati telah diajak berkomunikasi. “Pengelola P3GI sangat mendukung untuk digunakan sebagai wisata edukatif dan wisata agro. Demikian pula dengan pabrik baja, PT Boma yang masih menyimpan mesin-mesin kuno peninggalan Belanda. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan untuk pengenalan dan pembelajaran masyarakat,” kata Wali Kota Pasuruan, Setiyono.

Menurut Setiyono, pengembangan Kota Pusaka ini akan dipusatkan pada dua ruas jalan Balai Kota Pasuruan hingga Jalan Pahlawan yang banyak berdiri gedung-gedung bersejarah. Berbagai kegiatan masyarakat yang selama ini bertempat di kompleks GOR akan dipindahkan dikawasan Kota Pusaka. “Sarana dan prasarana untuk mendukung Kota Pusaka sedang kami persiapkan. Sehingga masyarakat akan merasa nyaman saat berada di kawasan yang dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata tersebut,” tugas Setiyono. Berbagai icon bangunan bersejarah ini, lanjut Setiyono, akan dipadukan dalam wisata Kota Pusaka sebagai sarana pembelajaran masyarakat. Bahwa Kota Pasuruan sebagai kota tua, memiliki sejarah panjang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saat ini sebanyak 20 bangunan bersejarah telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya yang harus dilindungi. Puluhan bangunan bersejarah lainnya telah diajukan untuk dilakukan verifikasi sebagai pendukung wisata Kota Pusaka. Bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya sebanyak 20 unit. Saat ini kami mengajukan lagi sekitar 80 unit bangunan untuk dilakukan verifikasi lembaga kepurbakalaan di Trowulan. Bangunan yang lolos verifikasi ini akan menjadi pendukung pengembangan Kota Pusaka. Menurut Sambua, cagar budaya P3GI dan pabrik baja memberi sumbangan transformasi iptek, pentingnya nilai-nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi, kemajuan

Penulis: Abdullah Hamid Ketua Padepokan Sambua Lasem