ABSTRAK
Indonesia adalah Negara yang memiliki banyak ras, suku, bahasa, budaya dan agama yang beragam. Peneliti tertarik untuk mengetahui dan meneliti tentang pondok pesantren kauman lasem guna mengetahui citra toleransi dan akulturasi etnis Tionghoa dan Jawa Islam kampung pecinan di Desa Karangturi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan yang berbentuk kualitatif. Fokus dari penelitian ini didasarkan pada tinjauan pustaka, yang berupa: bagai mana para santri pondok kauman lasem menerapkan citra toleransi dan akulturasi di lingkungan pecinan. Peneliti memperoleh sumber data berupa data primer dan data sekunder. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, analisis dokumen, verivikasi sumber ,interpretasi, heuristik, dan historiografi.

Hasil dari penilitian yang dilakukan menjelaskan bahwa Kota lasem memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan kedatangan orang-orang cina sehingga tercipta akulturasi budaya. Lokasi dari penelitian toleransi dan akulturasi yaitu berada di Pondok pesantren Kauman Lasem Desa Karangturi Kecamatan Lasem Kaupaten Rembang. Perkembangan Pondok pesantren yang berada di lingkungan pecinan menjadi seuah pembahasan yang menarik bagi peneliti untuk melihat interaksi sosial santri dengan orang Tionghoa.

A.PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang majemuk yang memiliki beragai macam ras, bahasa,agama,dan beragai macam suku bangsa yang sesuai dengan pancasila sila ke 3 yang berunyi “Persatuan Indonesia”.Dengan persatuan yang sudah tercipta dari dulu hingga sekarang menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat toleran terhadap perbedaan.
Daerah yang diteliti dalam perkemangan toleransi beragama dan percampuran kebudayaan (akulturasi) berada di Rembang. Yang bertepatan di Pondok kauman yang berada di Desa Karangturi-Lasem-Rembang-Jawa Tengah. Rembang tidak hanya dikenal dengan objek wisata saja, ternyata disana terdapat pondok yang memiliki toleransi dan akulturasi yang sangat unik. (Nurhajarani.45)

Dalam perkembangannya pesantren paling tidak mempunyai tiga peran utama, yaitu sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwah dan sebagai lembaga pengembangan masyarakat. Pada tahap berikutnya, Pondok pesantren menjelma sebagai lembaga sosial yang memberikan warna khas bagi perkembangan masyarakat sekitarnya.Peranannya pun berubah menjadi agen pembaharuan (Agen Of Change) dan agen pembangunan masyarakat. Sekalipun perubahan demikian, apapun usaha yang dilakukan pondok pesantren tetap saja yang menjadi khittoh berdirinya dan tujuan utamanya, yaitu tafaqquh fid-din.Secara eksistensi Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan lembaga sosial. (Golba,S Indu.1995)

Pondok Kauman adalah Pondok Pesantren yang bisa dibilang unik atau langkah karena mempunyai bangunan yang berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya, yaitu bangunan khas tiongkok, dengan dilengkapi adanya lampion-lampion yang bergantung serta tulisan kanji yang tertulis di pintu-pintu dan tempat-tempat tertentu yang mencerminkanadanya persatuan antara penghuni pondok pesantren dengan masyarakat sekitar pondok (masyarakat pecinan).
Dengan berada dilingkungan yang kontradiktif, toleransi sosial agama dijunjung tinggi oleh warga pesantren maupun penduduk sekitarnya. Sifat saling menghargai kebebasan beragama, kemajemukan dan hak asasi, mendasari terciptanya lingkungan kondusif, perilaku sikap tasamuh (toleransi) terhadap tetangga yang sering diajarkan dan dicontohkan pengasuh, mejadikan filosofi tersendiri bagi santri, sehingga tak mengalami kendala untuk berinteraksi dengan masyarakat dalam menghadapi perbedaan di kecamatan yang terdapat 3 kelenteng, 3 Vihara, puluhan gereja dan ratusan musholah ini benar-benar sudah teruji dan terbukti dengan tak pernah menjumpai adanya konflik berbau SARA yang sering terjadi di daerah lain.

Melihat lingkungan sekitar pesantren adalah lingkungan pecinan, agar kehadiran pesantren ini bisa diterima oleh mereka maka cara yang lakukan oleh Abah Zaim adalah menjunjung toleransi bertetangga dengan masyarakat Tionghoa sekitar pesantren, peduli masyarakat dan lingkungan sekitar pesantren. Namun hal ini dilakukan bukan semata-mata agar pesantren ini kehadirannya diterima oleh masyarakat China, Islam sendiri juga mengajarkan untuk berbuat baik kepada tetangga baik itu tetangga muslim ataupun non muslim. Sebelum mendirikan pondok Kauman ini Abah Zaim terlebih dahulu mendatangi rumah-rumah warga Tionghoa untuk meminta izin mendirikan pondok pesantren di Kauman, warga Tionghoa menyambut dengan baik dan menerima dengan lapang jika mendirikan pondok di lingkungan mereka. Para santri kami anjurkan untuk berbaur tanpa sekat dengan masyarakat Tionghoa dengan tetap menghormati keyakinan masing-masing, dan Alhamdulillah dengan menjunjung toleransi bertetangga dengan masyarakat Tionghoa berkat hidayah Allah ada sejumlah masyarakat Tionghoa yang masuk Islam yang merupakan pengaruh terbesar adanya pondok yang secara tidak langsung berperan sebagai dakwah agama Islam.

Kehadiran pondok pesantren Kauman di tengah-tengah kehidupan masyarakat Karangturi yang notabennya adalah orang-orang China mempunyai keunikan tersendiri dan menarik untuk diteliti. Berkenaan dengan latar belakang permasalahan tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PONDOK PESANTREN KAUMAN LASEM SEBAGAI CITRA TOLERANSI DAN AKULTURASI ETNIS CHINA ,ARAB ,DAN JAWA”.

B.Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, agar lebih praktis dan terarah dalam pembahasannya, maka rumusan masalah yang dapat dipaparkan pada
penelitian ini adalah:

Bagaimana penerapan sikap toleransi dan akulturasi budaya didalam lingkungan pondok kauman lasem?

C. Tujuan Karya Ilmiyah
Tujuan dari karya ilmiyah ini adalah untuk mengetahui dan memahami sikap toleransi dan akulturasi yang dimiliki oleh santri pondok pesantren kauman lasem.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan mampu memberikan wawasan keilmuan tentang mengetahui dan memahami sikap toleransi dan akulturasi yang dimiliki oleh santri pondok pesantren kauman lasem
2. Secara Praktis, bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca, guna sebagai referensi tambahan mengenai sikap toleransi dan akulturasi yang dimiliki oleh santri pondok pesantren kauman lasem.

E.METODE PENELITIAN
Metode disini diartikan suatu cara atau teknis dilakukan dalam proses penelitian. Sedangkan penelitian itu sendiri diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar dan hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Dalam penulisan penelitiansejarah kualitaif, penulis menggunakan 2 metode yaitu metode etnografi dan metode etnohistory untuk membantu kelangsungan penelitian. Langkah awal di lakukan penulis dalam penelilitian ini adalah menggunakan metode etnografi. Etnografi berasal dari kata ethos yang berarti Bahasa dan graphein yang bertulisan atau uraian. Jadi berdasarkan asal katanya, etnografi berarti tulisan atau uraian. Etnografi juga dapat diartikan apa yang dikerjakan oleh para praktisi di lapangan. Metode penelitian etnografi adalah suatu aturan dan prinsip-prinsip yang sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, dengan tujuan untuk memahami makna tindakan dari kejadian yang menimpa suatu kelompok. Sedangkan penelitian ini bersifat deskriptif yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik tentang objek yang sebenarnya. metode etnografi ini menggunakan media pengamatan (observasi) dan wawancara dalam proses pengumpulan data atau sumbernya.(Kuntowijoyo,2001)

1. Observasi atau pengamatan merupakan proses pencarian data atau sumber yang diperoleh melalui pengamatan inderawi. Dalam hal ini proses pengumpulan data dilakukan dengan cara mencatat semua gejala-gejala, fenomena atau kejadian pada objek penelitian secara langsung dilapangan. Dalam prakteknya, penulis melakukan observasi atau pengamatan langsung di lapangan untuk mengetahui kejadian, fenomena atau gejala yang ada di Pondok Pesantren Kauman yang berada di kawasan Pecinan Lasem-Rembang-Jawa Tengah.

2. Wawancara merupakan proses pencarian sumber atau data yang diperoleh dari pitutur lisan, wawancara atau interview kepada responden secara langsung atau tatap muka.Terkait dengan metode ini,para peneliti kerap melakukan stenografi, rekaman audio, rekaman video, atau catatan tertulis sebagai media pengumpulan data.Dalam prakteknya penulis melakukan wawancara terhadap kyai pendiri pondok pesantren Kauman dan beberapa tokoh yang mempunyai peran dalam mendirikan serta dalam mengembangkan pondok pesantren. Selain itu penulis juga melakukan wawancara terhadap masyarakat pecinan sebagai salah satu media untuk menguatkan data terkait dengan sejarah Pondok Pesantren Kauman di Kawasan Pecinan Lasem-Rembang-Jawa Tengah.

3. Analisis dokumen, pengumpulan data dengan cara kategorisasi dan klasifikasi bahan- bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, yakni berasal dari dokumen-dokumen, buku-buku dan surat kabar yang relevan dengan penelitian serta data-data yang berlaku sekarang sebagai pendukung kebenaran sumber data.

4. Koneksi internet sebagai Instrumen penelitian yang lain.

Kemudian dalam penerapan pada penelitian ini, metode etnografi membantu penulis mendeskripsikan hal-hal yang sedang berlangsung
(berkembang) saat ini yang terkait dengan Pondok Pesantren Kauman di kawasan pecinan dan aktifitas pondok pesantren yang masih berlangsung hingga saat ini.
Langkah ke dua yaitu menggunakan metode etnohistory, dalam penelitian ini, metode etnohistory membantu penulis dalam mengungkapkan sejarah berdirinya Pondok Pesantren Kauman secara diakronik di kawasan Pecinan Lasem-Rembang-Jawa Tengah dan keadaan kawasan pecinan sebelum adanya pondok pesantren Kauman.Dapatkan dari survey ke lokasi Desa Karangturi Lasem-Rembang- JawaTengah kemudian di bedakan menjadi sumber primer dan sumber sukender.

Sumber primer adalah sumber yang dihasilkan atau ditulis pihak-pihak yang secara langsung terlibat dan menjadi saksi mata dalam peristiwa sejarah.Sumber primer yang digunakan penulis antara lain, wawancara dengan pengurus Pondok Pesantren Kauman bapak Abdullah dan santrinya yang bernama M.Dia’udin dengan memeperdalam dan menguatkan sumber sejarah.
Sumber sekunder adalah sumber yang digunakan sebagai pendukung dalam penelitian. Sumber-sumber tersebut didapatkan dari beberapa buku maupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tema.Seperti buku Akulturasi Lintas Zaman di Lasem perspektif sejarah dan Budaya, Lasem Negeri Dampoawang Sejarah yang Terlupakan. M. Mundhofai, “StrategiDakwah K.H. Zaim Ahmad
Ma’shoemdalamMeningkatkanKerukunanLingkunganKomunitasTioghoa di
Kec. LasemKab.Rembang.http://eprints.walisongo.ac.id/2623/4/091311026_ (Di Unduh Pada 7 0ktober 2018)

F. HASIL PENELITIAN
1. Hubungan antara Jawa Islam dengan Orang Tionghoa
Seperti yang kami ketahui bahwasanya di Lasem terdapat dua etnik yangmemiliki karakteriktis budaya yang berlaianan. Kehadiran etnis Tionghoa disudah cukup laam. Dua etnis yang membawa warna pada budaya di lasemadalah etnis Tionghoa dan Jawa. Interaksi kebudayaan ini merupakan bagian dari keseluruhan prosesyang telah membentuk Lasem pada masa kini. Dengan adanya interaksi yang cukup lama antara jawa dan Tionghoa membuatunsur budaya dari dua etnik tesebut yang saling di serap atau salingmempengaruhi.

Dengan sikap saling menjaga diri dan menghargai antar etnik akan menghindarkan terjadinya disharmoni justru bahkan lebih menjadikanantar etnik tersebut dengan situasi yang harmoni.Kehidupan Harmoni di Lasem pada masa sekarang ini tidak hanya muncul begitu saja semua ada alur cerita yang menjadikan antar etnikini hidup dengan harmoni walaupun mempunyai kebudayaan yang berbeda. Interaksi antar etnik ini mengalami tiga Fase yakni pada masa Cheng ho (Zheng He),masa perang kuning dan masa abad ke 20 sampai sekarang.( Nurhajarani,109)

Pada awal terbentuknya pemukiman Tinghoa di Lasem, akulturasi berjalan damai.Perkawinan antara para laki-laki Tionghoa dengan perempuan jawa merupakan hal biasa sebab pada waktu itu para migran Tiongkok datang keJawa tidak serta merta membawa para istri, bahkan dalam sebuah babadLasem (Caritan Lasem) putri dari Campa menikah dengan seorang penguasa di Lasem.

Pada pertengahan abad ke -18 sebuah peristiwa kekerasan terhadap etnisTinghoa ayang di lakukan oleh Kompeni menjadi pemicu menguatnya hubungan antara jawa dengan Tinghoa. Kerjasama antara Tinghoa dan Jawa (para santri dan bangsawan) menjadi ingatan bersama warga Lasem. Harmoni dan saling membantu dalam melawan kedzaliman tersebut melahirkan bangunan monumental yakni Kelenteng Gi Yong Bio di Babagan.(ibid,110)

Pada masa berikutnya ketika Lsem berada di bawah kekuasaan Kolonial, formasi harmoni menjadi berubah. Hal ini karena pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan aturan yang berbau segregasi atnis, dengan adanya aturan pemukiman (Wijkenstelsel) dan surat jalan (Passenstelsel) aturan tersebut cuku membelenggu garak orang-orang Tinghoa di Jawa. Bahkan kemudian di ikuti dengan munculnya sekolah khusus untuk orang-orang Cina di awal abad ke-20, dan kebijakan deskriminatif kembali terulang pada masa Orde Baru.( Carey, Peter.1986)

Berbagai aturan itu di sikapi oleh warga Tionghoa di Lasem dengan cara kooperatif (berganti nama, menutup tulisan yang memakai huruf Cina, tidak menggelar acara budaya di runag public dan tidak memakai Bahasa Tionghoa). Mereka juga menyerap budaya sekitar seperti tahlilan, makanan,perkawinan, motif batik, dan mejaga hubungan social bertetangga. Lasem mengalami kebangkitan dalam budaya Tionghoa setelah masa reformasi bergulir.

Priode ini juga melahirkan sebuah bentuk kesepakatan damai antar etnis di Lasem. Di simbolkan dalam pernyataan “Lasem Milik Bersama” menjadi acuan untuk menjaga harmoni yang memiiki akar sejak lama. kesepakatan damai ini menjadikan Lasem semakin kental kerukunannya setidaknya terdapat tiga social kapital yang mengkonstruksi harmoni lintas etnis di Lasem yaitu collective memory tentang perang kuning, kedekatan social kultural di Lasem, perkawinan silang sehingga terbentuknya ruang interaksi. keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari antar etnis terjalin semakin erat dengan hadirnya pondok pesantren Kuman di kawasan pecinan karangturi. Kehadirnya pondok di kawasannon muslim tidak menjadikan konflik SARA bahkan mempererat hubungan antara orang Jawa muslim dan orang Cina.

Hidup damai dan saling membutuhkan tumbuh di kawasan pecinan karangturi antara Jawa muslim dan etnis Tinghoa. Dua etnis yang berbeda tersebut terikat dalam satu kesatuan dalam bermasyarakat.(Hamid Abdullah,wawancara.2018)
Keharmonisan di Lasem pada masa sekarang antara Jawa Muslim dan Orang Tionghoa tidak hanya muncul dalam kesepakatan “Lasem Milik Bersama”,namun dalam kehidupan sehari-hari dapat di lihat dalamruang publik seperti dalam perayakan atau ritual keagamaan maupun ritual keluarga. Kebersamaan masyarakat Lasem muncul dalam ruang-ruang ritual tersebut.

2. Keadaan Kawasan Pecinan Sebelum Hadirnya Pondok Pesantren Kauman
Keadaan kawasan pecinan ini terlihat layaknya sebuah kawasan yang mayoritan beragama non muslim norma terjadi dikawasan ini sesuai dengan kebudayaan masyarakat yang tinggal disana,karena mayoritas beragama konghucu sehingga kebudayaan yang diterapkan disana juga kebudayaan orang cina. Di kawasan pecinan ini tidak sedikit pendudukan yang memiliki hewan peliharaan anjing bahkan ada beberapa rumah yang memiliki peternakan babi yang merupakan ciri khas makanan orang Cina.Jadi tidak heran jika sering di jumpai di kawasan pecinan Dase Karangturi anjing yang bekeliaran di seiring jalan Desa Karangturi pada masa lampau.

Selain itu kawasan pecinan pada masa lampau juga sering dijumpaibeberapa umat Islam yang membuat keonaran seperti minum-minuman keras dan berjudi tepatnya di tempat pos kampling Desa Karangturi sehinggameresahkan warga tionghoa yang berada di kawasan pecinan tersebut. Berikut ini kutipan dari Ahmad Nuryadi.“sebelum pondok berdiri di tempat ini, dulu tempat ronda itu di gawe minum-minum sama anak-anak muda juga dari kampong sebelah, yo agamane islam tapi tetep minum-minuman keras yo bisa di aranijadi tempat nongkrong seng enggak bener., pas dulu juga enggak ada seng berani lewat dek tempat iki lak bengi soale template surem”.(Abdullah. Wawancara 6 Oktober 2018)

Jadi tidak heran jika di awal pandangan orang tionghoa terhadap umat Islam sedikit negatif. Akan tetapi, pandanga tersebut berubah seiring denganhadirnya pondok pesantren Kauman pada tahun 2003 yang di pimpin oleh Abah Za‟im yang membawa ajaran agama Islam Rohmatan Lil „Alamin. Dia juga respon masyarakat tionghoa terhadap hadirnya pondok pesantren kauman di kawasan pecinan ini sangat baik sehingga interaksi yang terjalin di antara keduanya yaitu interaksi timbal balik.

3.Perubahan Kawasan Pecinan dengan hadirnya Pondok Pesantren Kauman

Segi Artefak

Kawasan pecinan karangturi adalah kawasan di mana penghuninya mayoritas dari etnik Tionghoa. Bangunan-bangunan yang ada di kawasan tersebut hampir 90% bangunan khas Tiongok, seperti atap melengkung, ruko-ruko banyak di jumpai di sepanjang jalan raya. Sebelum adanya pondok pesantren Dusun mahbong tempat beribahan hanya berpusat pada klenteng po an cung, dan hiasan rumah digantungi lampoin samping kanan dan kiri.Setelah hadirnya pondok pesantren Kauman di kawasan pecinan, adanya perubahandalam segi bangunan baik dari bangunan ciri khas etnis Tiongkok maupun bangunan Pondok Pesantren yang ada pada umumnya. Lampion yang biasa hanya di pasang di klenteng dan di pasang di rumah-rumah orang Cina, kini lampion juga di pasang di samping kanan dan kiri Musholah Pondok Pesantren Kauman serta di samping kanan dan
kiri rumah Abah Za‟im pengasuh Pondok Peantren Kauman.

Menyandingkan tulisan Arab dengan tulisan Kanji dalam kami jumpai di pondok pesantren Kauman.Selain itu pintu masuk depan pondok juga terdapat pos kampling yang memiliki bangunan khas Tiongkong lengkap dengan hiasan lampion serta berwarna merah, kuning melengkapi warna ciri khas etnis Tiongkok, semua itu merupakan penyesuaian pondok pesantren dengan budaya kawasan tersebut serta menunjukkan adanya ikatan yang erat antara penghuni pesantren dengan masyarakat setempat. (Abdullah,Wawancara 6 Oktober 2018)

Segi Prilaku
Hadirnya pondok pesantren Kauman di kawasan pecinan karangturi selain perubahan dalam bentuk bangunan (artefak) juga diikuti denganadanya beberapa perubahan dalam segi prilaku. Perubahan perilakutersebut dapat di contoh seperti beberapa orang Cina yang mengikuti pengajian yang di adakan oleh pondok pesantren Kauman, terdapat juga orang Cina yang mengikuti acara-acara peringatan agama Islam seperti acara Maulid Nabi dan acara khol Mbah Sambu.
Perubahan dalam bentuk sosial bermasyarakat dapat di contoh kan seperti para santri menghadiri orang Cina yang telah meninggal dunia (takziyah) dan perilaku tersebut di contohkan langsung olehpengasuh pondok pesantren Kauman yaitu Abah Zai‟im, sebaliknya ketika ada acara di pondok maupun di rumah warga Cina para dan warga Cina saling membantu satu sama lainya. (Abdullah,Wawancara 6 Oktober 2018)

Tempat pos kampling yang berada di pondok pesantren juga tidak hanya di jaga oleh para santri warga Cina tersebut juga ikut serta dalam penjagaan ronda malam di pos kampling tersebut. Selain itu pondok pesantren Kauman juga menjadi tempat di saksikannya beberapa warga Cina yang ingin menganut agama Islam, dari mulai tahun berdirinya pondok pesantren yang diresmikan oleh pemerintah setempat tahun 2003 hingga tahun 2016 kurang lebih sebanyak 21 orang yang berasal dari warga setempat dan dari beberapa orang dari luar kota.

4.Konsep Rohmatan Lil’Alamin Abah Za’im di Kawasan Pecinan
Islam adalah agama Rahmatan Lil „Alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta termasuk hewan, tumbuhan, dan lainnya terutama terhadap sesama manusia. Menurut Abah Za‟im Rohmatan Lil A‟lamin adalah gabungan dari dua kata, Rahmat artinya kasih sayang dan Lil A‟alamin artinya untuk seluruh yang ada di dunia ini. Dalam konsep Rohmatan Lil A‟alamin Abah Za‟im menggolongkan Lil A‟lamin ada 3 aspek yaitu para malaikat, jin, dan manusia. (Abdullah,Wawancara 6 Oktober 2018)

Karena malaikat dan jin tidak dapat di lihat oleh mata atau
termasuk dalam hal ghaib jadi Lil ,Alamin dalam konsep Rohmatan Lil A‟almin lebih di fokuskan pada semua manusia yang ada di dunia, laki-laki, perempuan, Islam, kriten, konghucu, katolik dan lain sebagainya. Jadi inti Rahmatan Lil A‟alamin adalah kasih sayang terhadap sesama manusia tidak memandang perbedaan Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan.

Konsep Rohmatan Lil‟Alamin yang dibawa oleh pengasuh pondok pesantren Kauman yang di dirikan pada tahun 2003 di kawasan pecinan membawa sebuah peradaban ajaran agama Islam yang penuh dengan Rahmat. Ajaran agama Islam yang dibawa oleh Abah Za‟im tanpa adanya paksaan dan kekerasan. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan tenaga para santri akan membantu, begitupum sebaliknya, itu namanya persaudaraan. Sikap saling tolong menolong ini selalu di tanamkan Abah Za‟im kepada semua santrinya sejak lama mulai didirikannya pondok di kawasan pecinan ini sehingga menumbuhkan tali persaudaraan di antara masyarakat Pecinan dan penghuni pondok pesantren Kauman. (Diya’, wawancara. 6 Oktober 2018)

Persaudaraan antar sesama Islam, dengan sesame manusia dan juga satu bangsa, merupakan inti dari ajaran Islam, yang wajid di jalankan secara alami tanpa rekayasa. Inilah Islam, inti dari ajaran lakum dinukum waliyadin agamamu agamamu, agamaku agamaku, silahkan laksanakan kegiatan agamamu sesuai dengan keyakinanmu dan kami akan melaksanakan ritual agama kami dengan keyakinan kami, yang penting tidak saling mengganggu. Menurut pendapat Abah Za‟im, biasanya pemikiran radikal ataupun intoleran jusru muncul jika seseorang tidak memperkuat semangat keberagamaannyadengan ilmu. “Yang radikal-radikal itu ilmunya dangkal, tidak paham artinya
beragama”. (Abdullah,Wawancara 6 Oktober 2018)

Hubungan timbal balik antara warga Cina di Karangturi dan penghuni pondok pesantren Kauman Lasem dengan saling membantu terjaga sangat baik. Abah Za‟im mengatakannilai toleransi itu menjadi sebuah tata kehidupan dalam diri sendiri bukan suatu tugas tetapi kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus ada sebuah pelajarana, tetapi melalui praktek. Maka dengan hadirnya pondok pesantren Kauman di kawasan pecinan selain sebagai salah satu tempat untuk mempraktekkan sikap toleransi antar agama dan berbeda agama, banyak perubahan yang terjadi di kawasan pecinan seperti perubahan dalam segi artefak yaitu berdampingannya tulisan lafad Al qur’an dengan tulisan kanji, hiasan lampion-lapion di musholla, juga perubahan dalam segi prilaku semacam acara-acara keagamaan umat Islam yang di hadiri oleh warga Cina juga sebaliknya beberapa perayaan warga Cina juga di hadiri oleh beberapa orang Islam, dan sejarah hadirnya pondok pesantren Kauman dikawasan pecinan Karangturi Lasem membawa perubahan peradaban yaitu masuknya konsep ajaran Islam yang Rohmatan Lil,Alamin. (Abdullah,Wawancara 6 Oktober 2018)

G. PEMBAHASAN

Pondok kauman yang berada di Desa Karangturi-Lasem-Rembang-Jawa Tengah merupakan pondok pesantren yang terletak di kawasan pecinan yang menjadikan pondok pesantren ini unik adalah toleransi dan akulturasi budaya di junjung tinggi untuk menjaga rasa persatuan dan kesatuan diantara etnik masing-masing dan masyarakat hidup berdampingan dalam interkasi social tidak ada pergesekan diantara mereka.
Toleransi dan akulturasi budaya dapat tercipta di Desa Karangturi tidak lepas dari peran pondok Kauman yang di pimpin oleh Abah Za‟im yang menerapkan konsep Islam Rahmatan Lil A‟alamin adalah kasih sayang terhadap sesama manusia tidak memandang perbedaan Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan. Konsep Rohmatan Lil‟Alamin yang dibawa oleh pengasuh pondok pesantren Kauman yang di dirikan pada tahun 2003 di kawasan pecinan membawa sebuah peradaban ajaran agama Islam yang penuh dengan Rahmat. Ajaran agama Islam yang dibawa oleh Abah Za‟im tanpa adanya paksaan dan kekerasan. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan tenaga para santri akan membantu, begitupum sebaliknya, itu namanya persaudaraan.

Sikap saling tolong menolong ini selalu di tanamkan Abah Za‟im kepada
semua santrinya sejak lama mulai didirikannya pondok di kawasan pecinan ini sehingga menumbuhkan tali persaudaraan di antara masyarakat Pecinan dan penghuni pondok pesantren Kauman. Perubahan dalam bentuk sosial bermasyarakat dapat di contoh kan seperti para santri menghadiri orang Tionghoa yang telah meninggal dunia (takziyah) dan perilaku tersebut di contohkan langsung oleh pengasuh pondok pesantren Kauman yaitu Abah Zai‟im, sebaliknya ketika ada acara di pondok maupun di rumah warga Tionghoa para dan warga Tionghoa saling membantu satu sama lainya. Hubungan timbal balik antara warga Tionghoa di Karangturi dan penghuni pondok pesantren Kauman Lasem dengan saling membantu terjaga sangat baik.
Setelah hadirnya pondok pesantren Kauman di kawasan pecinan, adanya perubahan dalam segi bangunan baik dari bangunan ciri khas etnis Tiongkok maupun bangunan Pondok Pesantren yang ada pada umumnya. Lampion yang biasa hanya di pasang di klenteng dan di pasang di rumah-rumah orang Cina, kini lampion juga di pasang di samping kanan dan kiri Musholah Pondok Pesantren Kauman serta di samping kanan dan kiri rumah Abah Za‟im pengasuh Pondok Peantren Kauman.
Sikap Toleransi dan Akulturasi budaya yang tercipta di kawasan Desa Karangturi-Lasem-Rembang merupakan contoh yang baik dan perlu di terapkan di seluruh pulau di Indonesia agar tercipta persatuan dan kesatuan di semua golongan masyarakat di Indonesia.

H. KESIMPULAN
Sebagai penutup dengan berlandaskan uraian-uraian yang telah di kemukakan pada bab-babterdahulu, penulis dapat mengambil sebagai berikut:
Sikap Toleransi dan Akulturasi Budaya yang berada di kawasan Pecinan di Desa Karangturi-Lasem-Rembang yang di terapakan pondok Kauman Lasem yang di pimpin oleh Abah Za‟im dengan pendekatan kedamaian yaitu Rohmatan Lil A‟almin yang dapat di terima oleh warga Tionghoa tanpa ada suatu pergesekan diantara etnik dan hidup berdampingan di dalam suatu kawasan.

Ditulis Oleh Peneliti muda :Umi Salamah / Siswa SMA Negeri 3 demak

Daftar Pustaka
Buku
Carey,Peter.Orang Jawa dan Masyarakat Cinaseri Perang Jawa. Jakarta:Pustak aAzet, 1986
Golba,Sindu.PesantrenSebagaiWadahKomunikasi.Jakarta: PT RinekaCipta,1995
Kasdi, Aminudin.PengantarI lmu Sejarah. Surabaya: IKIP, 1995.
Kuntowijoyo.Pengantar Ilmu Sejarah.Yogyakarta: YayasanBentangBudaya, 2001
Nurhajarini, Dwi Ratna. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem:Perspektif Sejarah dan Budaya (KurunNiaga-Sekarang). Yogyakarta: BPNB,2015
Winarni, R.CinaPesisir: Jaringan Bisnis Orang-Orang Cina di Pesisir Utara Jawa Timur Sekitar Abad XVIII. Denpasar: PustakaLarasan, 2009.

Internet
Aniqotul Ummah, Pondok-Pesantren-Kauman-di “Kota Cina Kecil” Lasem,
http://suarapesantren.net/2016/04/25/. Di Unduh Pada (10 Oktober 2018)

M.Mundhofai,“StrategiDakwahK.H.ZaimAhmadMa’shoemdalamMeningkatkanKerukunanLingkunganKomunitasTioghoadiKec.LasemKab.Rembang”.http://eprints.walisongo.ac.id/2623/4/091311026_Bab3.pdf Di Unduh Pada (7 Oktober 2018)
Wawancara
Abdullah Hamid. 6 Oktober 2018
Diya’.6 Oktober 2018