SRAGEN, TABLOIDSOPHIA.COM – Pelatihan jurnalistik dan media digital yang diselenggarakan di pondok pesantren An-Najah Gondang Sragen (19/06/2017) diikuti oleh anak muda dari berbagai latar belakang. Pelatihan ini diselenggarakan dengan tujuan agar generasi muda penerus bangsa dapat berperan aktif dalam memerangi gerakan radikal dan hoax di media sosial.

Antusias dari para peserta dapat terlihat dari keaktifan dalam mendengar dan memperhatikan para pembicara dalam menyampaikan materinya.

Salah satu pembicara dalam pelatihan ini adalah Gus Imam Baehaqi kiai muda dari pengasuh pondok pesantren Raudlotul Jannah Sarang-Rembang Jawa Tengah. Gus Baehaqi berpesan “jangan mau terpecah belah , karena keberagaman merupakan ciri khas dari bangsa Indonesia. Ketika Pancasila dicanangkan untuk diganti oleh paham Khilafah, itu merupakan ide yang sangat konyol. Apabila seseorang menyampaikan sesuatu yang sangat kasar dan frontal serta mengandung ajakan untuk menjelekkan pihak lain maka kita punya pilihan untuk menolak ajarannya”.

Sementara itu, Gus Subhan putra pengasuh pondok pesantren An-Najah Gondang Sragen Jawa Tengah, pihaknya menyampaikan bahwa Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) merupakan tafsiran dari Islam moderat. “Ada lima poin dari Aswaja, yaitu hak hidup, hak akal, hak beragama, hak keturunan dan hak harta. Yang mana tafsiran ini mengajarkan supaya dapat menjadi penggerak dan virus positif bagi generasi muda agar dapat bersikap seperti Islam yang menciptakan perdamaian (tawasud)”.

Diharapkan nantinya penerus bangsa tidak hanya dapat berkomentar saja, tetapi juga bisa melahirkan kreatifitas dan tidak memplagiat lalu menyebarkan informasi tanpa mempertimbangkan faliditasnya. Pertimbangkanlah apa yang mau kita isi di media digital agar tidak hanya menyampaikan informasi hoax tetapi sesuai dengan fakta yang ada. Agar terwujud negara Indonesia yang dapat merangkul semua peradaban. “Tuturnya”.

Penulis / editor : Susana Ulandari / Muhammad Widad