Bathara Kala adalah makhluk, ruang dan waktu itu sendiri. Kala berarti waktu. Hampir tidak ada satupun dari semua sesama ciptaan Allah SWT tidak dikuasai oleh ruang dan waktu, tak terkecuali kita manusia. Dan pada kenyataannya ada beberapa manusia yang tidak bisa selaras dengan vibrasi ruang dan waktu karena perilaku menyimpang yang dilakukannya ketika menjalani hidup di dunia. Ujungnya akan sangat berpengaruh kepada perilaku dan nasib. Ruang dan waktu semesta memiliki aturan tertentu, rule, yang mau tidak mau harus diikuti oleh siapa dan apa saja yang hidup dalam cakupan ruang dan waktu semesta. Mereka yang tidak bisa mengikuti, tidak bisa selaras, akan menuai kegagalan, bahkan kecelakaan. Mereka ini dikatakan menjadi mangsa dari Bathara Kala.

Untuk mengusir, menghindarkan diri menjadi mangsa Bathara Kala, menghindarkan diri tergerus bahkan termakan oleh vibrasi ruang dan waktu semesta, mau tidak mau kita harus hidup disiplin selaras dengan vibrasi tersebut. Dan mereka yg hidup di dunia dengan membawa ketidak selarasan dengan vibrasi tersebut, memerlukan hikmah atau penanganan khusus.

Yaitu melalui nguri-nguri prosesi Haul Agung Mbah Sambu, Mbah Srimpet dan Masyayikh Lasem satu ritual tradisional ngalap berkah yang bermakna berkala waktu tahunan diperingati dengan pembacaan rontal manaqib masyayikh atau napak tilas leluhur untuk merawat tradisi dan sejarah keberhasilan, dan merubah kegagalan-kegagalan sebelumnya, menjadi berkelimpahan oleh kebahagiaan.

Dengan iringan ijazah kalimat tauhid tahlil Laa ilaaha illallah menjadi menjadi rajah/mantra utama bahwa Allah SWT Al-Muqaddim, semata –mata Sang Yang Maha penguasa dan penyelaras Energi dan Waktu. Ruqyah yang memberi aura cahaya yang menerangi kehidupan.

Ahad Pagi, 14 Dzulhijjah 1439 H/ 26 Agustus 2018 M
Reportase :
Abdullah Hamid
Pustaka Sambua