Pemakaman pria yang meninggal dibakar masa karena dituduh mencuri. Photo: tribunnews.com

Vinanda Febriani (16 Tahun) siswi kelas 2 (XI) SMA/sederajat.
Vinanda Febriani (16 Tahun) siswi kelas 2 (XI) SMA/sederajat.

Beredarnya video yang menampilkan pembakaran seorang yang diduga mencuri sebuah amplifier di Masjid rupanya mengundang Vinanda Febriani (16) si penulis asal Magelang berbicara melalui akun medsos facebook miliknya. Berikut adalah tulisan lengkapnya:

Wajah Indonesia; Massa yang anarkis

Oleh : Vinanda Febriani

Semalam saya mendapat kabar di wall facebook saya, yakni berita tentang viralnya video mengenai seorang bapak tukang teknisi elektronik yang dibakar massa setelah melaksanakan shalat karena dikira telah mencuri ampli masjid yang ternyata itu adalah ampli milik bosnya. Tanpa diusut apakah benar itu adalah merupakan ampli masjid atau bukan, setelah shalat dzuhur tiba-tiba massa “nggeruduk” begitu saja. Mereka menghakimi bahkan hingga membunuh dengan membakar Bapak tukang teknisi elektronik tersebut.

Sebuah kesedihan yang amat mendalam, ku sampaikan berjuta do’aku untuk keluarganya yang mana isterinya sedang hamil 7 bulan. semoga Tuhan selalu melindunginya, keluarga dan juga bayi yang ada di kandungan istri Bapak korban. Ini sangat mengharukan bukan?. Ya, seperti cerita pendek yang pernah aku tuliskan saat itu. Aku menggambarkan seorang anak kecil berumur 8 tahun yang menemukan dompet seorang wanita terjatuh dijalan, dia segera bergegas mengambil dompet tersebut dan kemudian mengembalikannya kepada sang pemilik dompet. Namun apa daya, orang-orang yang ada di sekitarnya sudah berprasangka buruk (su’udzon) terlebih dahulu. Akhirnya anak kecil yang lugu, polos dan masih ingusan itu pun dihakimi masa dengan penuh emosi namun tidak sampai menghilangkan nyawa si anak tersebut.

Seperti yang telah terjadi kepada Bapak teknisi elektronik meninggal karena dihakimi massa yang videonya sedang viral saat ini. Tanpa ada pembuktian-pembuktian yang valid apakah Bapak itu benar telah mencuri ampli masjid atau tidak, massa sudah begitu egois dengan emosional yang tidak bisa tertahankan. Mereka menghakimi Bapak teknisi tersebut tanpa harus menyerahkannya kepada hukum atau pihak yang berwenang untuk diusut lebih lanjut. Indonesia adalah Negara hukum, Indonesia memiliki badan hukum yang sah. Kenapa harus menghakimi dengan kekerasan?. Bukankah semua agama di dunia ini tidak mengajarkan kekerasan bahkan menghakimi seseorang yang belum jelas letak kesalahannya dengan emosional dan seenaknya sendiri?.

Semalaman aku menangis, bahkan ketika aku mendengar bahwa Bapak itu berasal dari keluarga tidak mampu, dia memiliki seorang Isteri yang tengah hamil 7 bulan. Sungguh aku tidak terfikir bagaimana perasaan istrinya tersebut ketika mendengar suaminya meninggal karena dihakimi massa yang anarkis. Tentu kau tau bagaimana perasaannya, bagaimana jika dirimu yang berada pada posisinya?.

Sebagai seorang pelajar, saya sangat sedih mendengar kabar tersebut. Saya sampaikan duka cita saya yang amat mendalam kepada keluarga korban. Semoga amal ibadah Almarhum diterima disisi Tuhan Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Dan semoga Khusnul Khatimah, Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Kawan, ini merupakan sebuah fenomena yang sangat mencemaskan. Terlebih untuk para pelajar dan masadepan generasi penerus Bangsa Indonesia. Berkaca dari kasus-kasus yang telah terjadi di indonesia sebelumnya.

Kawan, saat ini kita dihadapkan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang “Aneh”. Masyarakat yang lebih mengutamakan “Fisik” dibandingkan “Akal atau Naluri kemanusiaan”. Ini tentu sangat mempengaruhi masadepan Bangsa Indonesia. Terlebih sangat mempengaruhi pemikiran anak-anak yang berusia pelajar. Bagaimana nasib Indonesia ketika nanti semua orang yang ada didalamnya sangat anarkis, kejam, tidak berperikemanusiaan, tidak mau menggunakan akal, nalar, logika kemanusiaan? Coba bayangkan, apa yang akan terjadi di suatu saat nanti?. Ya, Indonesia akan hancur karena emosi dan keegoisan masyarakatnya sendiri.

Kawan marilah kita kembalikan lagi sikap dan sifat kita sebagai seorang “Manusia”. Sadarkah siapa diri kita ini sebenarnya?. Kita hanya manusia kerdil, berlumur dosa, yang masih menghamba kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan terkadang berat rasanya kita menyebut nama “Tuhan” karena saking kotornya diri dan hati kita. Lalu, mengapa masih saja menambahi kekotoran diri juga hati dengan menghakimi dan mendzolimi orang lain ?. Kawan sadarlah, marilah kembali kepada jati diri kita sebagai manusia yang berkewajiban untuk memanusiakan manusia juga memiliki hak untuk memanusiakan manusia lainnya. Jadilah manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Jangan menilai orang karena satu kesalahan, namun nilailah seseorang karena kebaikannya. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Mari kembalikan keramahan masyarakat Indonesia seperti dahulu kala demi menuju Indonesia yang humanis, sejahtera, adil, bermartabat aman, damai serta bahagia.

Semoga ini menjadi suatu pembelajaran bagi kita semua. “Jangan menjadi masyarakat yang berjiwa anarkis, karena itu hanya akan menjerumuskanmu. Jadilah masyarakat yang tegas namun ramah, tamah, cerdas dan bijak dalam menangani atau menanggapi suatu permasalahan, sera masyarakat yang menjunjung tinggi jiwa-jiwa kemanusiaan”.

Dirgahayu Negeriku
Aku akan tetap setia bersamamu, membelamu, mempertahankanmu hingga akhir hayatku.

Salam Waras #NKRIHARGAMATI !!!

Borobudur, 04 Agustus 2017.