Foto kenangan terakhir Si Doel (Abdullah Hamid) di pantai sampur Tanjung Priok yang kini telah ditutup.

Saya Si Doel atau Abdullah lahir tahun 1967. Saya bersyukur yang memberi nama saya adalah Habib Ali bin Husen al Habsyi Pendiri Majlis Taklim Kwitang Guru ulama Jakarta. Saya besar di Tanjung Priok. Rumah saya dulu di pinggir Jl.Yos Soedarso sebelah jembatan buntung, di bawah kolongnya tempat mangkal pelaku kriminal cikal bakal premanisme di Jakarta, mereka sering menggaruk muatan truk dari/ke pelabuhan Tg Priok, saat itu pelabuhan udara belum semaju sekarang. Lingkungan itu tetap kondusif bagi saya sekolah pagi, sore madrasah diniyah, malam mengaji. Waktu peristiwa kerusuhan di Tg Priok saya masih remaja mondok di Tebuireng, tapi hati saya tetap sedih mendengar banyaknya korban ummat Islam terutama mereka yang lugu. Masih terang ingatan saya tahun 1975 an Pak Gatot oknum Satpol PP sering menguber tukang becak dan mengobrak-abrik nasi jualan Mbok Mimi tetangga saya yang berteriak-teriak histeris menangis. Waktu mau dikubur liang kubur si oknum tersebut dikabarkan tanahnya menyempit. Semua peristiwa itu menjadi gelombang kekecewaan dan kesumpekan komunal.

KABARNYA ANDA TIDAK SETUJU DENGAN AHOK? APAKAH KARENA DIA CINA?
Bukan karena dia keturunan Tionghoa. Bagi saya Cina bagian dari sejarah, budaya dan pembangunan Indonesia yang tak terpisahkan, saling bergantung. Kakek nenek moyang saya Jawa beribukan cina. Sejak kecil saya dekat Cina, bertetangga baik dengan keluarga Tionghoa. Yaitu sama-sama ngontrak bahkan masa kecil saya sering digoda katanya pacarnya Cici, anak Tionghoa. Si pemilik rumah Bu Suma, punya jaka kampung namanya Bahar pernah menempeleng angkatan laut yang mengebut. Kemudian dia didatangi 1 truk anggota dipimpin komandan AL, waktu menemui Bahar cuma heran melongo menyaksikan keberanian dan ketulusan anak muda itu, kemudian mereka pulang.

LALU ANDA TIDAK SETUJU DENGAN AHOK KARENA APA?
Karena kebijakan pembangunan DKI nya terlalu membela kepentingan konglomerat. Seharusnya mempertimbangkan wawasan hankamnas. Lihatlah proyek reklamasi, siapa yang paling berkepentingan di belakang kekuatan ekonominya. Mempersempit ruang gerak nelayan. Rakyat kecil digusur dijauhkan dari sumber penghidupannya, tercerabut dari komunitas dan akar sosial budayanya. Menyedihkan dan rasanya mau menangis, kalau tau rasanya menjadi orang kecil. Masih terbayang tragedy kasus hilangnya Pantai Sampur ditutup oleh perluasan Pelabuhan Tg Priok, rakyat kehilangan mata pencarian dan pantai terbuka, ruang publik untuk bersosialisasi yang gratis dan lokasinya mudah diakses/dekat penduduk yang juga digusur.

JADI KESIMPULANNYA DASAR SETUJU TIDAK SETUJU DENGAN CAGUB APA?
Dasarnya kebijakan strategisnya, memihak kepentingan orang banyak atau tidak? Bukan justru lebih dominan untuk kepentingan segelintir orang. Karena kalau pembangunan atas dasar kepentingan orang banyak itu Indonesia akan selamat dan makmur. Maka mari polemik pilkada berdasarkan wacana kebijakan public yang fair, tidak ada yang ditutup-tutupi dan dilindungi. Bukan atas dasar ras. Sangat rawan jika gubernur dipilih kebijakannya lebih melayani kepentingan korporasi besar daripada rakyatnya sendiri. Dibuai pencitraan media.
Jadi akumulasi ketidaksetujuan saya semakin bertambah terhadap Ahok lebih mementingkan dan mengidentifikasikan dirinya kelompok minoritas dan semakin diperparah kebiasaan/ kecerobohan pernyataan kontroversialnya yang asal jeplak seperti tentang ayat Alquran Surat Al Maidah. Namun penyebab/pemicu ketidaksetujuan saya terhadap kepemimpinannya yang dzalim atau tidak adil bagi kepentingan orang banyak.

SECARA OBYEKTIF APA KELEBIHAN DAN KEKURANGAN AHOK?
Kelebihan Ahok bicaranya kongkrit, terkesan menguasai persoalan Jakarta, mampu menunjukkan solusi mikro masalah lingkungan setempat. Kekurangan Ahok pada pelaksanaan/ realisasnyai, hanya pencitraan, pemanis kata-kata, masalah lingkungan tidak merata tidak diselesaikan di tempat-tempat lainnya yang mestinya menjadi prioritas konfrehensif terintegrasi masalah publik atau orang banyak. Lebih banyak memberi konsesi pada korporasi (perusahaan privat).
Sementara tokoh lain harus diakui baru itikat baik, bicaranya normative terkesan filosofis, belum pandai membawa imaji warga secara langsung to point tengah mengurus persoalan/masalah lingkungan yang dihadapi bersama dan mendesak. Terkesan kurang data lapangan dan pengalaman. Sangat disayangkan ke depan kalau belum memperbaiki teknik berkomunikasinya, menunjukkan empati dan kapasitas diri. Memang masih ada yang relevan membawakan kesulitan ekonomi riel di masyarakat.

NGOMONG-NGOMONG MASA MUDA ANDA DIMANA?
Tahun 1993-1994 saya penyuluh BKPSI (Badan Kordinasi Pembinaan Sektor Informal) di Gedung Pemda DKI Jakarta Lantai 16. Tahun 1995 Konsultan Rehabilitasi Kampung Kumuh Proyek MHT II Jakarta Barat dan 1996 Proyek JUDP III Pemda Bekasi keduanya proyek Bank Dunia. Sampai 1993-1996 tercatat pengurus PP IPNU.

ANDA SEKARANG DIMANA?
Sampai 1995 domisili Tg. Priok, tinggal di rumah kediaman ayah saya, sekitar tahun 1990 an, menjadii Kantor PCNU Jakarta Utara dan ayah Ketua PCNU nya. Kemudian pindah ke rawabebek Cakung Jakarta Timur. Saya sendiri kemudian tahun 2000 an selama 5 tahun bekerja di Semarang di Lembaga Rating Media. Terahir domisili di Lasem dekat dengan pesantren, masjid dan komunitas budaya. Pengelola Pokjar UT dan Padepokan Sambua sampai sekarang (2016).
LOH KOK MASIH MIKIRIN JAKARTA?
Karena DKI Jakarta ibukota RI dan bentuk kepedulian, masih menjiwai, mendarah-daging
KALAU BOLEH TAU, TOKOH PANUTAN/ SPIRITUAL JAKARTA YANG ANDA KAGUMI?
Tahun 1995 an waktu saya di Jakarta rutin mengaji kepada al allamah KH A.Hamid Husen Takmir Masjid Al Fajri Pejaten Pasar Minggu Jaksel.

PENUTUP, PESAN TERAKHIR?
Mempertahankan Ahok beresiko factor dirinya, agar diamankan oleh alasan hukum dan politik, demi keutuhan NKRI dan tidak gaduh. Kita percaya, masih banyak tokoh minoritas yang potensial, berintegritas dan berbudaya dapat memberikan hal terbaik untuk Indonesia. Biarlah Ahok disimpan untuk tujuan-tujuan mulia, di masa depan setelah melewati masa pembinaan dan refleksi dirinya yang matang.
Tapi ini pendapat pribadi saya, terserah rakyat bersama pemerintah, bersikap demokratis.
ANDA TIDAK TAKUT BLAK-BLAKAN INI DI MEDIA?
Saya tawakkal, menyampaikan hati nurani/ keperihatinan saya. Sejarawan Prof Sartono menyatakan sentiment SARA dalam batas tertentu adalah jiwa patriot nasionalisme, mengingat latar belakang kepercayaan dan negri leluhur. Asal tidak berlebihan, membabibuta dan radikal. Kita harus bisa mengayomi semua ras dan agama dalam bingkai NKRI bhineka tunggal ika.
Wawancara ini untuk menjawab distorsi ketidak setujuan kita thd ahok krn kebijakan nya, bukan masalah ras.
OK TRIMAKASIH
Barakallah……. Semoga bermanfaat buat masa depan Jakarta dan Indonesia

Penulis:
Abdullah Hamid
Pustaka Sambua Lasem