Posted on: April 2, 2020 Posted by: admin Comments: 0

Kasus pemerkosaan siswi SMK swasta di Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara kini menuai titik terang. Hanya dalam hitungan jam setelah orang tua korban melayangkan laporan di Polresta Deliserdang, Selasa (31/3/2020), para pelajar yang melakukan pemerkosaan terhadap D (16), akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Fakta baru kemudian terungkap. Pelaku pemerkosaan ternyata bukanlah berjumlah 7 orang, melainkan delapan orang.

Adapun otak pelaku, yakni JA kini menjadi buruan aparat kepolisian. Kasat Reskrim Polresta Deliserdang, AKP Muhammad Firdaus menjelaskan, awalnya ada 8 orang yang diamankan sejak Selasa (31/3/2020) malam. Namun, setelah diambil keterangannya, satu orang atas nama RA tidak punya keterkaitan dengan kasus ini.

RA hanya teman satu kelas para pelaku. "RA statusnya hanya saksi saja. Yang lainnya sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Dari delapan orang yang diamankan itu, tidak ada security. Enggak ada kaitannya sama security kasus ini," ujar Muhammad Firdaus, Rabu (1/4/2020) malam. Ia menambahkan saat ini mereka sedang melakukan pengejaran terhadap JA.

Polisi menyebut JA adalah otak pelaku dalam kejadian pemerkosaan ini. JA disebut orang yang mengajak kawan kawannya untuk memperkosa korban. "Seluruh pelaku ada 8 orang. JA ini yang sekarang masih kita kejar. Kalau untuk soal video kayaknya sudah dihapus sama mereka (para pelaku)," kata Muhammad Firdaus.

Informasi yang dikumpulkan ketujuh siswa itu yakni DG, HS, MAT, RDP, YAS, SAH dan RI. Selain warga Kecamatan Batang Kuis mereka juga merupakan warga Kecamatan Tanjung Morawa. Kini ketujuh tersangka itu ditahan di Polresta Deliserdang.

Sebelumnya, siswi SMK swasta di Kecamatan Batang Kuis, Deliserdang, berinisial D (16) diperkosa secara bergilir oleh sejumlah kakak kelasnya. Perbuatan itu dilakukan di lingkungan sekolah dan di sebuah rumah kosong. Kasus pemerkosaan ini telah dilaporkan ke Polresta Deliserdang.

Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) nomor 155/III/2020/RESTA DS sudah dipegang oleh keluarga korban. Kasus ini dilaporkan oleh N (45) ibu korban yang tinggal di Kecamatan Tanjung Morawa, Deliserdang. "Saya enggak terima anak saya diperlakukan seperti ini. Saya minta supaya para pelaku bisa dihukum seberat beratnya," ujar N usai membuat laporan ke Polresta Deliserdang, Selasa (31/3/2020).

"Terbongkarnya kemarin. Dia ini (D) di rumah bawaannya emosi saja. Sering marah marah. Dia enggak pernah cerita sama kami terbongkarnya itu karena kakaknya bongkar HP dia. Dibacain sama kakaknya pengancaman pengancaman pelaku. Anakku ini enggak berani ngomong karena diancam kalau cerita akan disebarkan video video dia," kata MI, ayah korban. MI menyebut bahwa D sempat menghilang selama 4 hari. Ia pun sempat melayangkan laporan ke kantor polisi. "Sempat kami buat laporan kehilangan di Polsek Tanjung Morawa. Karena empat hari dia enggak ada di rumah. Kami cariin barulah dia pulang," ujar MI.

Pria yang bekerja sebagai pengawas proyek pembuatan taman ini menyebut saat ke luar dari rumah itu anaknya itu tinggal di tempat temannya. Saat itu ia heran mengapa sikap anaknya yang masih duduk di kelas X SMK, berubah jauh. Sementara itu, D menceritakan kronologis kejadian kelam tersebut saat berada di Polresta Deliserdang.

Pertama kali D menjadi korban pemerkosaan pada bulan Desember 2019. Lokasi pemerkosaan terjadi di area ruang praktik sekolah yang berada di kawasan Batang Kuis. Wanita berkulit putih ini mengaku saat itu ia ditarik oleh pelaku.

Keempat kakak kelasnya itu pun langsung membaringkakannya ke meja. Ia sempat berteriak minta tolong, sayangnya saat itu tidak ada yang membantu. "Sudah teriak juga minta tolong cuma enggak ada yang dengar. Yang lain (siswa) sudah pulang, memang lagi sepi," kata D lirih.

"(Saya) sudah mau pulang sebenarnya cuma disuruh satpam ambilkan gelas di ruang praktik," imbuhnya. Ruang praktik di sekolahnya itu disebut cukup besar dan terbagi dalam empat ruangan. Di salah satu ruangan itu, D tidak bisa berbuat banyak.

Ia tidak bisa melawan kekuatan tenaga empat orang yang tengah dirasuki nafsu setan tersebut. Usaha melawan sempat dilakukannya, namun sia sia. "Sempat aku lawan juga mereka, tapi enggak bisa juga. Terus dadaku pun diduduki mereka. Ada yang pegang tanganku juga. Mukaku ditutupi jaket sama mereka," kata D.

Ia menyebut, setelah kejadian itu para pelaku sempat mengancamnya. Jika kasus itu diceritakan kepada orang lain, maka para pelaku akan menyebar video video dirinya. Karena ancaman itulah, D tak berani buka suara.

Tak dinyana, keempat pelaku makin beringas. Pelaku mengajak tiga orang lagi teman sekolahnya untuk menggagahi D. Ketujuh kakak kelas D itu pun kemudian memperkosa korban di sebuah rumah kosong pada Januari 2020.

Kepala sekolah SMK swasta Kecamatan Batang Kuis Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara yang mengetahui anak didiknya, jadi korban pemerkosaan ikut geram. Apalagi aksi ini didalangi teman teman sekolah korban. Mereka yang terlibat akan dikeluarkan dari sekolah. "Kalau sudah terbukti nanti ya pasti akan kita keluarkan mereka nanti. Itu kan namanya telah mencoreng nama sekolah," ujar kepala sekolah Manambah Kasitinjak, Rabu (1/4/2020).

Ia mengaku tahu pertama kali ada siswi di sekolahnya yang diperkosa oleh kakak kelasnya pada Selasa (31/3/2020) malam. Disebut informasi pemerkosaan pertama ia dapatkan setelah membaca berita www.tri bun medan.com. Selama ini ia menyebut pihak sekolah memang sama sekali tidak pernah tahu ada masalah sebesar itu.

"Yang pasti kita terkejut semuanya ada berita ini. Selanjutnya ya akan saya selidiki dan ikuti dulu perkembangan berita. Ya semoga polisi bisa mengungkap kasus ini dengan terang," kata Manambah. Informasi yang dikumpulkan tujuh orang kakak kelas yang tega memperkosa korban sudah ditangkap oleh pihak kepolisian. Selain itu juga ada satu orang pelaku lain yang diduga terlibat dan disebut sebut sebagai seorang security.

Terkait penangkapan ini Manambah belum mendapat informasi. "Kita pasti kesal karena selama ini belum pernah ada kejadian seperti itu di sekolah kita. Kita pun ya selalu mengarahkan anak anak ini membimbing akhlak dan moral mereka. Itu yang kita sesalkan kenapa bisa ada kejadian seperti ini," ucap Manambah. Manambah mengatakan, pihak sekolah sudah pernah mengarahkan agar korban pindah jurusan.

Hal ini sesuai permintaan dari pihak keluarga melalui kakak korban. Saat ini korban disebut satu satunya perempuan di kelas yang mengambil jurusan otomotif. "Dulu ada dua siswi yang jurusan otomotif tapi yang satu langsung balik dan pindah ke jurusan TKJ (Tehnik Komputer Jaringan). Dia sudah kami arahkan juga pindah tapi ya memang dianya yang enggak mau," ucap Manambah.

Ia tidak habis pikir mengapa perbuatan pemerkosaan bisa dilakukan pelaku di dalam ruang praktik. Diakui memang ruang praktik sekolahnya cukup besar. Namun demikian ia menyebut tepat di samping ruang praktik itu ada kantin.

Terkait hal ini ia pun akan mencari informasi lain lagi.

Leave a Comment