Posted on: March 3, 2020 Posted by: admin Comments: 0

Polri memastikan mengawasi oknum oknum yang menimbun masker maupun hand sanitizer atau cairan pencuci tangan secara ilegal. Pelaku penimbun dua barang itu terancam hukuman pidana lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp 50 miliar. Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menuturkan oknum yang mengambil keuntungan dengan menimbun barang dapat dijerat Pasal 107 Undang Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

"Aturan yang mengakomodir selalu didasarkan pada orientasi mengambil keuntungan besar dengan cara tidak wajar bahkan merugikan orang lain yaitu menimbun barang," kata Fickar ketika dihubungi, Senin (2/3/2020). Pasal 107 UU tersebut berbunyi: "Pelaku Usaha yang menyimpan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat dan/atau terjadi hambatan kelangkaan lalu Barang, lintas gejolak Perdagangan harga, Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)." Fickar mengatakan, ancaman hukuman tersebut memungkinkan polisi melakukan upaya paksa penangkapan dan penahanan.

Oleh karena itu, ia menilai polisi perlu menindak cepat oknum oknum tersebut. "Karenanya menjadi relevan penegak hukum melakukan tindakan yang cepat, sebagai upaya shock therapy agar oknum oknum yang mencari untung dengan merugikan kepentingan umum dapat mengurungkan niatnya," ujarnya. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Argo Yuwono di Mabes Polri mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyelidiki oknum oknum yang berusaha melakukan penimbunan masker maupun alat medis lainnya menyusul kasus virus corona di Indonesia.

"Kami masih jalan melakukan penyelidikan seandainya ada yang melakukan penimbunan secara tidak sah," kata Argo. Sementara, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra menegaskan polisi akan menindak tegas oknum yang melakukan penimbunan tersebut. Namun, aparat akan mendalami motif dari oknum tersebut.

"Kalau dia ternyata memiliki kesengajaan untuk menimbun untuk keuntungan, ya kita bisa dalami apa kira kira motif dia. Yang jelas penegakan hukumnya harus dimulai dari pendalaman motif itu," tutur dia. Pemerintah akan menurunkan anggota kepolisian untuk menjaga supermarket guna mengantisipasi kepanikan pembelian kebutuhan dasar atau sembako berlebihan pasca diumumkannya dua orang WNI positif terjangkit virus corona. Hal itu disampaikan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Senin (2/3/2020).

Moeldoko meminta masyarakat untuk tidak panik dalam menghadapi penyebaran virus corona atau Covid 19. Ia telah meminta Kapolri untuk mengerahkan anggotanya ikut menertibkan aksi pembelian sembako berlebihan, termasuk masker, di pusat perbelanjaan. "Di situlah kita akan ambil langkah langkah itu. Nanti Kapolri supaya menurunkan anggotanya untuk ikut membatasi masyarakat melakukan hal yang berlebihan seperti itu," kata Moeldoko.

Menurut Moeldoko, pemerintah menjamin ketersediaan barang kebutuhan sehari hari. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu membeli berlebihan dan menimbun barang tersebut. Senada dengan itu, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy meminta masyarakat agar tetap tenang dalam menyikapi temuan dua warga Indonesia asal kota Depok, Jawa Barat, terinfeksi virus Corona.

Ia meminta masyarakat tidak panik berlebihan dalam mengantisipasi penyebaran virus corona dengan belanja kebutuhan sehari sehari hingga peralatan medis, seperti masker dan masker dan hand sanitazer, berlebihan. "Jangan gampang panik lah, dalam kondisi seperti ini diperlukan ketanangan, kehati hatian dan juga tidak grasak grusuk. Termasuk belanja berlebihan, engga perlu," tandasnya. Sementara itu, Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardhani mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tetap menjaga kesehatan seperti mengenakan masker saat bepergian dan mencuci tangan sesering mungkin.

Ia pun meyakinkan pemerintah berusaha memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, termasuk masker. "Pasti, itu pasti soal kelangkaan masker itu, kami sudah antisipasi dan pastikan kami bertindak untuk bagaimana pemenuhan untuk publik bisa terpenuhi," kata Jaleswari. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto kembali memberian imbauan terkait pengenaan masker.

Ia tetap menyampaikan orang yang sehat tidak perlu mengenakan masker dalam mengantisipasi penyebaran virus corona. Hal itu pun sesuai dengan keputusan badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO). "Tetap keputusannya dari WHO, yang sakit yang pakai masker, yang sehat enggak usah," kata Terawan.

Menurut Terawan, ada beberapa cara penyebaran virus corona selain lewat pernafasan. "Kenapa? Kalau yang sehat pakai juga percuma dia nanti megang megang tangannya dan sebagainya, tetap saja bisa kena," katanya. Menurutnya, cara mencegah penyebaran virus corona yang efektif adalah melakukan tindakan preventif, yakni menjauhi pasien terjangkit virus corona.

"Dari pada itu mending dia yang menjauhi orang sakit. Yang sakit menutup diri," ujarnya.

Leave a Comment